Anak perempuanku dapat tugas kuliah membuat laporan penelitian etnografi dari kampusnya. Dari sekian banyak tema yang disodorkan dosennya dia memilih tema tentang dampak pandemi bagi pedagang pasar tradisional.

Mungkin karena tahu saya bekerja di BPS yang sehari-hari ngurusin survey di lapangan. Dia minta bantuan menemaninya mencari orang yang bersedia diwawancara sebagai responden penelitiannya. Sekilas teringat kawan lama sepermainan yang saat ini memilih karir menjadi anggota dewan dari salah satu partai politik tingkat provinsi di mana saya tinggal.

Dulu kami sering ngobrol sambil nongkrong di warung sembakonya. Saat itu warung sembako masih dikelola bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Karena faktor usia, ibunya tak lagi mengelola warung sembako. Kini warung sembako hanya dikelola oleh kakak perempuannya.

Hari minggu tanpa janjian terlebih dulu, saya dan anak perempuanku bermaksud menemuinya dan meminta kesediaannya menjadi respoden penelitian anakku. Warung sembakonya berada di pasar tradisional terbesar di kotaku.

Saat kami berada di depan warungnya, wanita paruh baya itu terlihat sedang duduk termenung menunggu pembeli. Tak terlihat kesibukan melayani seperti beberapa tahun silam saat saya sering bermain di tempat itu.

Kedatangan kami sangat mengagetkannya, mungkin karena saya sudah lama tak berkunjung ke warungnya. Lebih dari 10 tahun tak berkunjung ke tempat itu lagi setelah kepindahan tugas kerja saya ke luar kota. Rak-rak yang terpajang di warung terlihat banyak ruang kosong.

Aneka bumbu yang digantung juga tidak sebanyak dulu. Hanya sedikit barang yang dipajang di situ. Tumpukan karung beras dan tepung terigupun  hanya terlihat beberapa. Padahal dulu warung sembako ini cukup ramai pembeli. Warung ini menjual aneka barang sembako kebutuhan sehari-hari.

Sambil menghela nafas panjang dia memulai berbagi cerita tentang bagaimana sulitnya berdagang setelah lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda negeri. Jauh sebelum pandemi datang, kondisi usaha sudah mulai mengalami penurunan omset karena banyaknya pesaing.

Kondisi pandemi memang semakin mempersulit iklim berusaha, omset menurut drastis. Dulu keuntungan per bulan bisa 10 juta rupiah, saat ini untuk bisa mencapai 2 juta rupiah saja sudah sulit. Bahkan dia harus rela kehilangan 4 karyawannya yang berangsur-angsur meninggalkannya karena kondisi usaha yang semakin sulit.

Menurunnya omset usaha membuatnya tidak mampu lagi membayar gaji karyawan. Saat ini bersama suaminya hanya bertahan mengelola warung sembako yang sedang ‘sekarat’. Berusaha untuk tetap survive dan berharap ada keajaiban pandemi Covid-19 segera berakhir dan usaha segara pulih kembali.

Selain kekurangan modal usaha, sulit mencari barang dengan sistem bayar tunda. Semua harus dibayar cash atau tempo paling tidak seminggu. Padahal dulu bisa jatuh tempo sebulan untuk melakukan pembayaran ke pemasok barang.  Karena  sering gagal bayar dalam tempo yang ditentukan lama kelamaan pemasok tak lagi memberikan kepercayaan kepadanya.

Sambil bercerita terlihat air mata tertahan agar tidak jatuh, meratapi kondisi yang tidak menentu seperti saat ini. Ada beberapa perubahan perilaku dalam pelayanan konsumen pasca pandemi tuturnya. Dulu para pembeli berebut barang di warung sembakonya.

Saat ini barang harus delivery ke pembeli agar mereka tetap mau berbelanja. Mengurangi stok barang karena khawatir tidak laku dan lebih menyediakan barang yang sudah dipesan terlebih dahulu untuk meminimalisir resiko tak terjual. Saat ini benar-benar berhitung pengeluaran secara ketat agar usaha bisa survive.

Dulu tidak pernah menggunakan pembukuan dagang untuk mencatat pengeluaran dan pembelanjaan usaha. Proses pembayaran hutang dagang dan belanja dilakukan langsung tanpa pembukuan karena saat itu usaha berjalan normal dan boleh dibilang sedang jaya-jayanya.

Saat ini pembukuan keuangan usaha mutlak dilakukan untuk memastikan pengeluaran dilakukan secara efisien dan pembelanjaan barang benar-benar hanya yang kemungkinan terjual. Ini hanya sekelumit kisah yang bisa jadi mewakili ribuan pedagang lainnya yang mengalami hal yang sama.

Pandemi Covid-19 memang sangat meluluhlantakan perekonomian dunia termasuk Indonesia. Saya pernah baca berita pernyataan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani mengungkapkan dari 60 juta pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia, ada sekitar 30 juta pengusaha yang tutup pada masa pandemi Covid-19.

Sebanyak 30 persen mengalami gangguan permintaan domestik, hampir 20 persen mengalami gangguan produksi dan 14,1 persen mengalami pembatalan kontrak.

Pemerintah memiliki konsen untuk memulihkan sektor UMKM ini dengan pemberian Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) melalui Kementerian Koperasi dan UKM. Total penerima bantuan ini berjumlah 5,2 juta penerima dengan total anggaran 6,2 trilyun rupiah dengan besaran 2,4 juta rupiah per usaha.

Namun karena keterbatasan anggaran untuk tahun 2021 hanya diberikan 1,2 juta rupiah per usaha. Pemulihan sektor ini menjadi prioritas pemerintah karena pernah menyumbang 57,8 persen terhadap PDB nasional pada tahun 2018.

Pemerintah sendiri telah merumuskan lima langkah pemulihan ekonomi karena pandemi Covid-19. Pertama, melakukan belanja besar-besaran guna meredam kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kedua, membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Ketiga, memberi bantuan kredit berbunga rendah dan menyiapkan berbagai program agar UMKM bergeliat kembali.

Keempat, pemerintah menempatkan dana di perbankan guna memutar roda ekonomi. Kelima, pemerintah melakukan penjaminan kredit modal kerja untuk korporasi. Semoga langkah pemerintah yang sedang dilakukan mampu mempercepat proses pemulihan ekonomi dan iklim usaha kembali bergairah.*)