Saat ini, media-media online sedang dihebohkan dengan pemberitaan Dinar Candy terkait postingan di Instagram yang mengunggah foto dirinya menggunakan bikini di pinggir jalan, sambil memegang papan bertuliskan "Saya Stress Kalau PPKM Diperpanjang".

Dinar Candy ini memang salah seorang selebriti Indonesia yang dikenal sebagai penyanyi yang suka mempertunjukkan sisi-sisi sensualitas. 

Dan akhirnya, aksi protes dirinya pun yang viral tersebut berbuntut panjang.

Dinar Candy kini diamankan polisi untuk dimintai keterangan, meskipun foto berbikini itu sudah dihapus dari instagramnya.

Namun, di masa wabah Corona ini, bukan cuma Dinar Candy saja yang stress, tapi banyak orang yang mengalaminya.

Kementerian kesehatan mencatat, hingga Juni 2020, ada sebanyak 277 ribu kasus kesehatan jiwa di Indonesia. 

Jumlah kasus kesehatan jiwa itu mengalami peningkatan dibandingkan 2019 yang hanya 197 ribu orang.

"Kalau dibandingkan dengan 2019 lalu, kasus kesehatan jiwa di Indonesia mengalami peningkatan signifikan akibat pandemi Covid-19," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kemenkes, Siti Khalimah, (11/10/2020).

Siti Khalimah menjelaskan terjadinya peningkatan kasus kesehatan jiwa di masa pandemi tersebut akibat terbatasnya akses dan permasalahan sosial yang dialami masyarakat, sehingga mereka mengalami depresi.

Selain itu, juga terjadi peningkatan kasus pemasungan terhadap pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.


Jangan Sepelekan Masalah Kejiwaan

Pandemi ini, tidak hanya mengorbankan 100ribuan orang yang meninggal dunia akibat Covid, tetapi juga mengorbankan perasaan dari ribuan, atau bahkan jutaan orang yang tidak terdata mengalami masalah kejiwaan.

Yah, apalagi yang mengalami klaster keluarga COVID-19. Seperti yang dirasakan oleh keluarga besar kami pada bulan September-November 2020.

Dari klaster keluarga itu, 15 orang yang masuk ke dalam keluarga dan kontak erat, ada 11 orang terkonfirmasi positif dan 1 orang meninggal dunia karena COVID-19, yaitu bapak saya.

Dan, yang merasakan paling terdampak Covid ini adalah keluarga adik saya, khususnya anak sulung yang berusia 12 tahun. 

Anak sulungnya yang terkonfirmasi positif 3x, yaitu pada bulan September dan November 2020, juga Juli 2021.

Dari sisi kesehatan jasmaninya, keponakan saya itu mengalami prolonged COVID-19 dan sekarang ini sedang menjalani terapi pernapasan. 

Dari sisi kesehatan jiwanya, keponakan sedang diterapi oleh psikiater anak.

Dari hasil konsultasi kejiwaan itu, kami mendapatkan informasi bahwa keponakan saya merasa trauma dan bersalah karena telah menyebabkan mbah akungnya meninggal dunia.

Bapak saya memang sangat dekat dengan anak sulung adik. Sebagai cucu pertama, anak sulungnya untuk bapak adalah cucu rasa anak.

Dengan telaten dan lembut, almarhum bapak selalu meladeni kebutuhan dan kepentingan cucu pertamanya. 

Kehilangan yang mendalam dan terkonfirmasi positif COVID-19 3x menjadikan keponakan saya menjadi bahan penelitian dokter spesialis kejiwaan dan dokter spesialis pernapasan di RS tempat berobatnya.

Lain lagi cerita duka yang dialami keponakan saya lainnya akibat Corona.

Bapaknya yang merupakan sepupu saya, awal Agustus 2021 telah berpulang ke Rahmatullah, selang 15 hari dari istrinya yang telah lebih dulu meninggal dunia pada pertengahan Juli 2021.

Memang klaster keluarga ini telah menorehkan duka yang luar biasa di keluarga besar almarhum kakak sepupu saya itu. Kakak sepupu mengalami depresi berat pasca ditinggal istrinya.

Kondisi tersebut bermula saat kakak sepupu pontang-panting mencari obat-obatan, oksigen, dan RS untuk istrinya yang terkonfirmasi positif dan memiliki komorbid diabetes melitus.

Di saat itu, menurut informasi dari anak sulungnya, bapak sudah malas makan dan susah tidur. 

Dan, semakin drop psikikologisnya, ketika istrinya meninggal.Tidak mau makan dan harus disuapi oleh putri bungsunya, bahkan ketika disuapi, dimuntahkan lagi.

Hanya terdiam, tidak bisa diajak komunikasi, lemas, linglung, dan seperti sudah tidak ada semangat hidup.

Padahal, saat terjadi klaster keluarga, kakak sepupu sudah dites dengan 2x PCR dan 2x Rdt Antigen, hasilnya semua negatif, saturasi oksigen pun baik, 98. 

Menjelang akhir hayatnya, mental benar-benar drop, dan kesehatan jasmaninya makin menurun disertai nadi dan tekanan darahnya rendah.


Kenali Tanda-tanda Mental Anda sedang Bermasalah

Ada beberapa gejala seseorang yang sedang tidak sehat jiwanya,  antara lain:

1. Sering berfikir : Saya gagal, semua terjadi karena salah saya, tidak ada hal yang baik dalam hidup saya, Saya tidak berharga, Hidup sudah tidak berharga lagi, Saya adalah orang jahat, Tidak ada masa depan, Tidak ada gunanya lagi mencoba.

2. Sering merasa : Bersalah, Bimbang, Mudah tersinggung, Kecewa, Frustasi, Menderita, Tidak percaya diri, Sedih.

3. Merasa kondisi kesehatan terganggu : Mudah lelah sepanjang waktu, Hampa, Sakit kepala atau pegal-pegal, Rasa tidak nyaman di perut, Sulit tidur/terlalu banyak tidur, Perubahan nafsu makan dan/atau berat badan, Tidak berdaya.


Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mengendalikan Stress Selama Pandemi

a. Mengurangi stresor

- Mengurangi membuka media sosial, terutama tentang COVID-19

- Mendapatkan informasi yang benar tentang COVID-19

b. Relaksasi fisik

- Tarik napas dalam

- Olahraga secara rutin

c. Berpikir positif

- Afirmasi/positive self talk, mengucapkan pernyataan-pernyataan positif tentang diri sendiri, keluarga kehidupan, dll

- Menghentikan pikiran negatif

c. Mempertahankan dan meningkatkan hubungan interpersonal

Saling menyapa, memberi pujian dan dukungan, dan berbagi cerita positif melalui telepon dan media sosial

- Berbagi perasaan dan pikiran pada orang yang dapat dipercaya

- Mempertahankan dan meningkatkan komunikasi antaranggota keluarga dengan kasih sayang, rasa hormat, dan saling menghargai dalam keluarga

- Membangun jejaring sosial

Jika dengan cara di atas tidak dapat teratasi dapat menghubungi tim kesehatan jiwa di antaranya psikiater, psikolog klinis, psikolog, perawat jiwa, ahli kesehatan.

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, 2020.