Waktu telah memaksa agar tiada jeda dengan memori kenangan-kenangan manja, melainkan merasakan asam garam kehidupan, tentu memang sangat gurih dan enak rasanya di lidah. Tetapi jika takarannya berlebihan tentu lidah yang elastis pun enggan menerima.

Kedewasaan membuat seseorang harus lebih berani lagi melangkah. Ya, melangkah dan terus melangkah, sampai-sampai jauh dari rumah. Berkelana menggapai cita-cita dan cinta. Jauh dari bayang-bayang masa kecil dan makin lupa akan tumbuhnya cerita-cerita masa lalu yang menyenangkan tanpa adanya derita.

Secercah asa di tanah asing, jatuh-bangkit menggapainya. Kelaparan, dompet kosong, dan kesendirian merupakan kawan setia, tanpa syarat apa-apa. Bergelut dengan orang baru dan orang asing, sikut-menyikut, tanpa perlu rasa empati, pemenang akan pulang menjadi raja, dipuja-puja tahtanya meski ia salah, sedangkan yang kalah akan menjadi pengecut, hatinya tertusuk.

Begitulah kehidupan….

Asyik dan menegangkan….

Berlomba-lomba dalam dusta, enggan salah dan belajar mengerti, kejujuran menjadi barang mahal, siapa yang memilikinya ia kaya. Siapa yang enggan memilikinya, sejujurnya ia penderita akut. Penyakit hati tanpa obat penyembuh, selimut derita yang membeku.

Rumah, tempat teduh yang merindukan. Tempat perlindungan dari basahnya hujan serta keringnya sinar mentari. Tempat dimana bahagia dan derita tumbuh setara denga kita, ya manusia-manusia yang masih memiliki rumah, bersyukurlah.

Sudah berapa lama kita berada di luar rumah? Susu hangat buatan ibu sudah dingin, dongeng-dongeng lawas enggan bercerita lagi. Lihatlah tangan kasar ayah itu, tangannya sudah rindu mengelus anak nakalnya itu. Mendekatlah, meski sebentar saja.

Gemuruh sapaan tetangga sudah rindu mampir ke gendang telinga kita, sorak-sorak orang-orang sekitar rumah yang saling berusaha menyembunyikan derita, sungguh kasihan kita melihatnya.

Namun, kita tetap sama saja, malah lebih miris. Badan kita terlalu dingin di luar rumah, bukalah pintu rumah, gedor dulu. Masuklah.

Mari kita bersihkan rumah dengan segala bahagia yang tercipta, manis rasanya. Jangan lupa untuk menghangatkan pangkuan ibu yang telah lama membeku.

Masih ingatkan kita dengan lapangan beserta sungai-sungai yang mengalir tanpa kering? Semuanya telah berubah bukan? Tentu, waktu memang dinamis, merasuk ke ruang yang penuh kenangan-kenangan indah.

Melangkahlah ke dapur, dimana tempat ibu sering mengupas bawang dengan rasa kasih sayang. Sudah tentu dengan harapan agar perut para penghuni rumah kenyang meski dompet ayah pas-pasan.

Lalu karena itulah kita keluar rumah dengan bekal doa ibu serta keringat ayah, bersikap sok pemberani bagai kesatria menantang berpuluh-puluh naga. Ya, kita lupa, yang kita lawan bukanlah naga-naga fana, melainkan manusia, makhluk nyata. Yang sudah tentu lebih berbahaya dari naga.

Lalu disudut ruangan kita tersadar dan meneteskan air mata, di luar rumah kita bukanlah-apa, dan itu realita, meski berkutat sebagaimanapun, di rumah, kita hanyalah seorang anak kecil yang tak tau tentang apa-apa.

Bagaimana orangtua kita selalu berusaha menyembunyikan bau busuk dunia, meski saat di luar rumah kita menghirup udara dusta dengan bangga, orangtua kita tidak. Ya, kita adalah malaikat kecil yang dikirim oleh Tuhan untuk disuruh mendiami pelukan hangat sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan.

Menangislah, menangislah yang keras saat seperti kita kecil dahulu, karena saat ini tak lagi sama, dan takkan pernah sama, semuanya telah berubah, bahkan kita. Entah seberapa lama lagi ketetapan yang kita rasakan saat ini. Waktu ialah kekasih yang penuh misteri.

Bukankah ketika nun jauh dari rumah kita merindukan suara-suara menyebalkan namun penuh cinta menyuruh kita tidur, makan, bahkan mencium pipi-pipinya yang telah tumbuh benih-benih keriput.

Waktu memang melangkah dengan cepat tanpa adanya jeda untuk menetap lalu berterimakasih terhadap kebaikan-kebaikan yang telah kita terima.

Kasur-kasur yang terkoyak oleh kesepian dengan pemakainya, yang larut oleh usaha demi usaha, di tanah asing, dengan kesepian juga. Malah lebih parah, jiwa yang semakin rapuh oleh rindu akan rumah dengan berbagai isinya.

Kenangan-kenangan ialah warisan tanpa nilai jual, begitu mahal hingga sukar untuk diperjualbelikan dan di ulang-ulang.

Maka pulanglah, debu-debu rindu mengerogoti rumah sedemikian rupa, tanpa belas kasih, karena rumah merupakan tempat penuh dengan cinta kasih. Bukankah tubuhmu telah lelah? Maka rumah menjadi tempat istirahat paling setia, obat penyembuh berbagai luka manusia.

Rumput-rumput di halaman rumah semakin meninggi dan tak teratur akibat dari sunyinya rumah tanpa tawa, seorang manusia yang merindukan buah hati nun jauh disana yang dibesarkannya dengan sekuat tenaga dan doa.

Cinta, rumah dibangun dengan cinta yang megah dan sederhana sekaligus. Bersemayam cinta dan luka. Tempat yang peling tepat menikmati bertambahnya usia. Cinta tanpa tapi, namun pasti, dari rumah berserta isinya.

Rumah, tempat dimana kedamaian berada, sebaik-baiknya tempat untuk tersenyum, kepada orang-orang tercinta. Orang-orang tercinta yang merindu, meski obatnya rindu ialah bertemu. Dan rumah menjadi titik temu.