“Uang sedikit pasti cukup untuk biaya hidup! Akan tetapi, uang sebanyak apa pun pasti tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidup” – perlu adanya kebiasaan mengerem keinginan.

Tren pola hidup konsumeris abad ini, di satu sisi telah menjadi monster yang menakutkan dan di sisi lain menjadi tanda yang menentukan status sosial seseorang dalam lingkup bermasyarakat. Dua karakter gaya hidup konsumeris ini sejatinya menyerang lini belakang – dapur ekonomi – manusia.

Bahkan, karena tuntutan untuk sama dengan yang lain – dalam hal kuantitas dan kualitas barang yang dikonsumsi – orang tersandera pada lubang hitam Consumo, ergo sum atau “Saya mengkonsumsi, maka saya ada!”

Pengaruh lingkungan sekitar dengan karakter manusia yang rakus mengkonsumsi, orang diantar untuk turut membiasakan kultur konsumsi menjadi biasa. Segala hal pun digerus habis hanya untuk membeli trend, gaya hidup, budaya baru, temuan baru, dan teknologi baru.

Dengan kata lain, untuk dapat masuk dalam kultur atau zaman tertentu, Anda siap membayar mahal. Pada tahap ini, demi memenuhi hasrat ke-up date-annya bersama tren, manusia dipaksa untuk menciptakan kebutuhan.

Untuk itu, kadang manusia merasa senang dengan kebutuhannya, juga kadang menderita karenanya. Ia merasa senang justru ketika apa yang menjadi aplikasi keinginan bisa dilihat sebagai kebutuhan dan pada waktunya terpenuhi.

Dan, sebaliknya, seseorang akan tersandera justru ketika apa yang dibutuhkan oleh keinginan tidak mampu dijangkau secara financial. Di sinilah letak trend mengkonsumsi ditantang – mengikuti logika keinginan atau kebutuhan?

Keinginan pada dirinya memuat imajinasi dan khayalan yang tak teratur. Semua komponen ini – imajinasi dan khayalan – bergerak membentuk sebuah hasrat yang kelak menciptakan sebuah kebutuhan yang sifatnya segera terpenuhi.

Dalam menghadapi gelombang keinginan yang berjawah kebutuhan ini, seseorang harus mampu memanage hasrat untuk memiliki sesuatu dan bagaimana mengontrol kebiasaan yang mudah dipengaruhi. Gaya hidup pada dasarnya adalah mangsa besar keinginan.

Berbagai unsur yang ditelurkan melalui gaya hidup, memaksa keinginan untuk berbuat sesuatu – dalam hal ini keinginan mampu memproduksi kebutuhan. Ketika rekayasa kebutuhan memaksa sesuatu untuk dipenuhi, dengan sendirinya seseorang mulai menyamakan kebutuhan dan keinginan. Dan, yang paling membahayakan adalah ketika orang mulai membuat keinginan lebih diutamakan daripada kebutuhan.

Karakter janggal seperti ini, barangkali dibawa oleh kebiasaan orang yang tidak memiliki komitmen hidup. Spirit gaya hidup mendorong mereka untuk mempercepat cara berpikir dan selalu ingin berdiri sejajar dengan tuntutan zaman. 

Semua tuntutan untuk berdiri sejajar dengan zaman, membuat siapa saja lupa akan masa depan. Perhatian pun tertuju pada sisi yang menampakkan diri, yakni hic et nunc.

Maka, kultur menabung sesuatu untuk hari esok (future), dianggap utopis. Semua yang ada dipakai seluruhnya untuk segala euforia saat sekarang (present). “Carpediem!” Inilah kata yang tepat untuk melukiskan wajah societas sekarang. Keinginan sesaat memperbudak diri di hadapan tuntutan zaman. Akibatnya, orang menjadi cenderung malas, bermental instan dan cenderung hidup boros.

Karakter yang dibawa serta oleh langgam “carpediem” ini pada akhirnya juga menolak kultur investasi atau menabung. Sejatinya problem ini menyadarkan kita akan pentingnya persiapan, kerja keras, dan antisipasi futuris. Carpediem tidak pernah mencintai masa depan. Ia larut dalam rayuan masa kini dan di sini!

Bagaimana menuju kultur finansial “Check Up?” Merawat area finansial dalam kehidupan adalah salah satu ciri masyarakat progres. Orang pada tahap ini dituntut untuk menghidupkan budaya antisipasi. Karakter prospektif ini – budaya antisipasi – menolong seseorang untuk tetap bertahan hidup (survive) menghadapi arus zaman. Untuk itu profesionalisme, kerja keras dan kreativitas menjadi tuntutan investasi present time.

Dalam hal ini orang dituntut untuk mengfungsikan potensinya dengan baik – termasuk mengatur kebutuhan dengan skala angka. Dengan ini semangat “besar pasak daripada tiang” dihilangkan dari kebiasaan hidup. Profesionalisme pada dasarnya memberi ruang bagi besarnya kegiatan produksi. Realitas manusia zaman sekarang pada dasarnya mengedepankan spirit kerakusan dalam mengkonsumsi.

Orang berlomba-lomba mengganti sesuatu agar terlihat sejajar dengan zaman, tidak ketinggalan trend dan tidak dicap kolot. Pengaruh sosial seperti ini, kadang memancing seseorang untuk melompat ke luar dari dirinya, dan mulai menggunakan segala sarana yang mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang digandrungi banyak orang. 

Maka, profesionalisme tanpa diback up dengan kerja keras dan kreativitas tentunya tidak cukup untuk menghidupkan budaya financial check up.

Selain profesionalisme, kerja keras dan kreativitas sebagai corong merawat dapur masa depan, orang juga diperhadapkan dengan waktu sebagai ranjau yang harus dilewati. Tantangan budaya kapitalisme baru menurut sosiolog ternama Richard Sennet, salah satunya adalah berkaitan dengan waktu.

Zaman kemenangan teknologi dengan senjata berburunya, yakni internet menciptakan manusia-manusia yang hidup, berinteraksi dan berproses dalam kecepatan (speed). Aspek yang disasar oleh kecepatan ini adalah unsur kegunaan (utility) dari segala sesuatu yang dikerjakan manusia. 

Berhadapan dengan tuntutan waktu (speed), orang diperhadapkan dengan berbagai keputusan, seperti makan atau internetan, kerja atau tidur, belajar atau nongkrong, dll. Pilihan ini menuntut sebuah keputusan yang bersifat segera.

Dampak dari keputusan yang salah – yang terakumulasi dalam waktu – pada dasarnya menuntut biaya untuk diperbaiki. Misalkan, antara makan dan internetan, kita memilih internetan; keputusan ini menuntut biaya. 

Tantangan terkait dengan waktu, juga memperlihatkan bagaimana seseorang mampu mengatur relasi-relasi jangka pendek, sambil berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya, dari satu pekerjaan ke perkerjaan lainnya, dan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ranjau budaya kaptalisme baru ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa segala sesuatu di sekitar kita tidak lagi bersifat gratis. Empat unsur yang dikemukakan oleh para pemikir Yunani Kuno, yakni api, tanah, air dan udara, bahkan semuanya kini harus dibayar. Melihat realitas ini, komitmen menjadi penting untuk distabilkan.

Tanpa komitmen hidup, orang akan mengeluarkan sesuatu hanya untuk sesuatu yang sia-sia (useless) pula. Komitmen membantu mencerdaskan seseorang terutama berhadapan dengan ambiugitas mengerem hasrat keinginan dan kebutuhan.

Dua hal ini kadang memperlihatkan kekuatannya masing-masing di depan sesuatu yang baru. Maka, hal yang bisa dilakukan adalah memilah keduanya – dengan menempatkan kebutuhan menjadi prioritas.

Di mana letak financial check up-nya? Kultur financial check up selalu diback up oleh komitmen dan kejelian membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan sejatinya tidak pernah diciptakan. Akan tetapi, kebutuhan bisa menjadi keinginan ketika seseorang tidak mampu menghidupkan komitmen. Dalam menggunakan biaya hidup, komitmen menjadi faktor penentu investasi – menabung (untuk) masa depan.

Ketika seseorang bisa setia dengan komitmen, orang akan mampu membedakan biaya hidup dan gaya hidup. Spirit menabung akan mendapat proteksi berhadapan dengan kepenuhan gaya hidup – fashion, teknologi, penampilan – justru karena ditopang oleh profesionalisme, kerja keras, kreativitas dan komitmen.