Pasca tersebarnya informasi bahwa : Serangan terakhir Rusia akan berlangsung di Mariupol, tampaknya Amerika, Inggris berikut Negara-negara Eropa lainnya dibuat gentar.

Hal ini dapat dibuktikan dengan pertemuan mendesak yang dilakukan oleh Amerika, laboratorium Pentagon, bersama dengan 8 Perusahaan Senjata Amerika Serikat, dimana pada pertemuan tersebut, Joe Biden mengeluarkan statement berupa, sejumlah 750 juta Dollar Amerika sudah dipersiapkan untuk memasok senjata ke Ukraina.

Dimana 8 dari Perusahaan Senjata tersebut di antaranya ; Raytheon Technologies, Lockheed Martin Corp, Being Co, Northrop Grumman, L3 Harris Technologi dan lain-lain.

Kendati sudah disebar luaskannya berita dimana Rusia telah melakukan serangan terhadap 86 situs militer di Ukraina, namun Menteri Luar Negri Rusia, Sergey Lavrov turut mengatakan bahwa, Mariupol nyaris hancur.

Sedang tepat pada tanggal 7 April 2022 kemarin, PBB kembali melakukan rapat mendesak yang bertujuan untuk pengambilan keputusan apakah keanggotaan Rusia dalam PBB akan ditangguhkan mengingat invasi mematikan yang dilakukan terhadap Ukraina sudah sangat di luar batas.

Berdasarkan hasil pemungutan suara, 93 Negara setuju untuk menangguhkan kembali keanggotaan Rusia dalam PBB, 24 Negara menolak, sedang 58 Negara lainnya tidak memihak termasuk Indonesia. 

Alhasil, pada hari tersebut Gennady Kuzmin selaku Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, menyatakan walk out dari PBB tanpa harus "Ditangguhkan segala."

Presiden Putin yang dibuat marah serta kecewa pun akhirnya mengatur ulang strategi dan taktik perang hingga akhirnya Alexander Dvornikov yang juga merupakan "Jendral favorit" Presiden Putin pun ditunjuk sebagai komandan perang Ukraina Timur selanjutnya.

Bersamaan dengan hal itu, turut munculnya peringatan keras terhadap Finlandia agar tidak ikut campur membela Ukraina seperti yang dilakukan oleh NATO. Maka usai peringatan keras tersebut, Rusia juga mulai menempatkan pasukan Militer beserta senjata perang, termasuk rudal pertahanan pantai ke sepanjang perbatasan Rusia-Finlandia dan langsung menghadap ke Helsinki.

Tidak hanya penangguhan keanggotaan Rusia dalam PBB yang menjadikan Presiden Putin kian marah, melainkan sanksi-sanksi Ekonomi yang diberikan oleh Amerika, Inggris beserta Negara-negara Uni Eropa lainnya seperti yang sudah saya paparkan pada tulisan saya Rusia-Ukraina Part I, II & III turut menjadikan sang pemimpin Rusia tersebut jengah, alhasil munculah aksi "De-dollarisasi" sebagai wujud balas dendam sanksi Ekonomi dari Rusia.

Pada tanggal 8 Maret 2022, Rusia memutuskan untuk mematok Rubel (Dibaca : Mata uang Rusia) ke Emas. Dimana, 1 gram Emas sama dengan 5000 Rubel atau sejumlah 52 Dollar Amerika Serikat.

Seperti yang dunia tau bahwa Rusia merupakan 1 dari 2 Negara penyedia minyak dan gas terbesar setelah United Arab Emirate, dengan begitu jika Negara-negara yang ada di dunia "Termasuk Uni Eropa" ingin mengimpor minyak dan gas Rusia, maka tidak bisa lagi menggunakan Dollar, melainkan Rubel atau Emas.

Seperti itukah "Seni Rubel dalam Mematikan Dollar?" Tentu kita harus sama-sama meninjau kembali bagaimana kelanjutan serta aplikasinya di dunia nyata.

Baru-baru ini, meluas berita mengenai "Latar belakang Rusia melakukan invasi terhadap Ukraina." Dimana Presiden Putin mengeluarkan statement berupa : Ingin mengakhiri tatanan dunia versi Amerika.

Hanya saja yang tidak kalah mengejutkan dunia, tepat pada tanggal 13 April 2022 kemarin, kapal jelajah andalan Rusia tenggelam di Laut Hitam. Dimediakan bahwasanya, kapal tersebut tenggelam akibat strategi Ukraina dengan bantuan Turki dalam mengecoh pasukan Militer yang ada di kapal.

Semula, Ukraina mengalihkan sistem pertahanan kapal dengan menggunakan TB2 Bayraktar, kemudian 2 rudal Neptune pun diluncurkan dari permukaan laut hingga kapal pun meledak, kemudian terbakar hingga tenggelam.

Disebut-sebut bahwa sensor pelindung kapal tampaknya tidak berhasil mendeteksi keberadaan rudal Neptune lantaran awak kapal yang terfokus pada pelacakan drone buatan Turki.

Bersamaan dengan tenggelamnya kapal yang menjadi "Kejutan" bagi Rusia pada Rabu malam kemarin, Direktur Utama CIA, William Burns justru mengeluarkan peringatan untuk Amerika, Ukraina serta dunia, bahwa kemungkinan besar resiko perang nuklir akan semakin meningkat dan tidak menutup kemungkinan akan semakin lebih buruk. 

Sebenarnya tidak ada yang tau, apa yang saat ini tengah direncanakan oleh para pemimpin di kedua Negara "Maha pintar" tersebut. Lantas jika sudah berakhir "Tatanan dunia versi Amerika," akan ada lagi "Tatanan dunia versi siapa?" Serta akan menjadi seperti apa?

Itulah yang menjadi salah satu alasan, kenapa publik tidak boleh menutup mata. Kenapa publik harus tau tentang baik dan buruknya. Kenapa publik tidak lagi boleh menjunjung tinggi "Ketidak tahuan berkedok Netral." 

Publik harus membuka mata, harus mencari tau, harus bisa memilah dan memilih, stop bersikap apatis dan stop menumbalkan kata "Netral" atas setiap peristiwa.

"Karena jika kita berbicara tentang permasalahan 'Dunia,' itu artinya kita sedang berbicara tentang permasalahan 'Kita,' karena sejatinya Dunia sedang tidak baik-baik saja."