Tanggal 10 November 2019 lalu seluruh bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan sebagai momentum mengenang kembali jasa para pahlawan memerdekakan Indonesia dari penjajahan kolonial.

Seluruh kisah heroik tokoh pahlawan nasional hingga daerah dikemas dalam kisah-kisah dramatis dari berbagai sudut pandang, mulai dari perjuangan angkat senjata, griliya, diplomasi, hingga pergulatan intelektual.

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional indonesia.

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar ssbagai alat propaganda dan pembenduk pendapat umum. Ia juga berani menulis kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Masih ada beberapa pejuang pers lainnya yang tak luput dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pendiri Harian Mercusuar, H Rusdy Toana (Almarhum) salah satunya. 

Sosok pendiri Koran pertama di Sulawesi Tengah itu menjadi turbin penggerak pembangunan Sulteng di masa-masa awal kejayaan Koran Harian Mercusuar.

Berdasarkan tulisan singkat seputar sosok Rusdy Toana yang diolah dari beberapa catatan H Basir Toana dan Andi Maddukelleng. 

Kisahnya dimulai sejak Rusdy Toana ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui Tentara Pelajar. Bahkan, jasa-jasanya juga tercatat dalam sebagai sosok wartawan yang menginspirasi generasi setelahnya.

Awal jiwa nasionalisme yang ditertanam dalam dirinya dimulai sejak  usia 9 tahun, tepatnya pada tahun 1942, Rusdy Toana menempuh pendidikan di HIS (Hollandsche Inlandse scool) Muhammadiyah Poso. 

Pada masa sekolah selama 3 tahun itulah, ayahnya, Abdul WachidToana, menanamkan jiwa nasionalisme. Ditambah lagi, kegemarannya akan dunia intelektual, terdorong membaca buku dan surat kabar. 

Surat kabar yang selalu dibacanya ketika itu adalah Pikiran Rakyat, Daulat Rakyat, dan Mingguan Adil Muhammadiyah.

Jiwa nasionalisme itu kemudian terus ditempa saat pria kelahiran Parigi 22 September 1930 itu dikirim ke Manado untuk mangikuti pendidikan di Nippon Gokka. Selama di Manado, perbendaharaan surat kabar yang dibacanya bertambah dengan  Celebes Simbun.

Sejak api literasi membakar jiwa intelektualnya, memasuki tahun-tahun kemerdekaan  1945. Saat ini, kegemarannya membaca semakin berapi-api. 

Bahkan, ketika pindah ke Gorontalo untuk bergabung dalam gerakan Merah Putih yang dipimpin Nani Warta Bone, Rusdy Toana tinggal bersama O.R. Onge, seorang tokoh wartawan dan penerbit Pewarta Gorontalo.

Baru setahun ia duduk di SMP Nasional Gorontalo, tepatnya tahun 1948, Rusdy Toana mulai terlibat langsung dalam pengelolaan Pers dengan diangkat menjadi pemimpin redaksi Mingguan Pelopor yang membawa misi Republik dan menentang NIT (Negara Indonesia Timur) boneka Belanda.

Berkah dari perjuangannya itu, mengantarkan namanya hingga di Yogyakarta dan mendapatkan panggilan untuk melanjutkan kiprahnya sebagai pejuang kemerdekaan. 

Saat itu, Rusdy Toana dipanggil bergabung dengan anggota tentara Pelajar di Yogyakarta bersama Rusli D. Warta Bone.Di Yogyakarta dan menggabungkan diri dengan kesatuan Brigade 16 Yon Matalatta sebagai seksi pelajar Sulawesi.

Jiwa nasionalisme yang ditanamkan oleh ayahnya melalui perjuangan pers terus berlanjut. Kala itu, Rusdy Toana menerbitkan majalah “Bakti Suara Pelajar Pejuang Sulawesi”, bersama Palangky Dg. Lagu dan tak lupa melanjutkan sekolah di SMP Yogyakarta. 

Setelah penyerahan kedaulatan RI dari Belanda, mereka ditampung oleh Negara melalui KUDP (Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar). Selanjutnya, ia melanjutkan sekolah di SMA khusus untuk eks tentara pelajar. 

Di SMA tersebut, Rusdy Toana kembali menerbitkan Koran dinding bersama almarhum Nugroho Notosusanto, mantan Mendikbud RI.

Tamat SMA tahun 1953, Rusdy Toana melanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik jurusan hubungan internasional. 

Dimasa mahasiswanya ini, ia dipanggil pimpinan Mingguan Pelopor Yogyakarta, Drs. M.O. Palapa, untuk membantu mengurus Mingguan Pelopor, dan diberi tugas sebagai sekretaris Redaksi selama tahun 1953 sampai 1954 dan saat itulah ia menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Yogyakarta.

Sejak awal keberadaannya sebagai mahasiswa, Rusdy Toana dikenal sebagai seorang mahasiswa yang sangat lincah, pintar hingga bisa meraih prestasi luar biasa yakni juara pertama lomba karya tulis tentang 5 tahun peranan PBB di Indonesia.

Lomba ini merupakan sayembara khusus untuk mahasiswa Indonesia untuk mendapat beasiswa PBB, salah satu hadiah pemenang lomba karya tulis itu adalah melanjutkan studi ke Amerika dengan biaya pemerintah Amerika. 

Pemenang lomba 5 tahun PBB di Indonesia ternyata jatuh kepada Rusdy Toana. Namun studi ke Amerika dibatalkan pemerintah, karena situasi politik di tanah air. 

Kemudian pada tahun yang sama, yakni 1953, ia ditunjuk oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) untuk memimpin majalah Media, bersama Bustanul Arifin dan SK.Efendi.

Tahun 1955, ia menjadi staf redaksi pada harian Suara Umat Yogyakarta. Kemudian dipanggil PB HMI ke Jakarta untuk memimpin Harian Abadi. Media corong HMI ini dibreidel tahun 1971.

Sebelum kemballi dari perantauan, akhir tahun 1960, Rusdy Toana tergabung dalam panitia penuntut dan pembangunan berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah, di Jakarta. 

Pada pertengahan tahun 1960, diadakan Musyawarah Besar Mahasiswa dan Pelajar  se Indonesia dan Rusdy Toana sebagai pemimpin presidium. 

Setelah kembali di Palu, atas anjuran AA. Baramuli Gubernur Sulutteng saat itu, Rusdy Toana merealisasikan musyawarah mahasiswa dan pelajar yang dipimpinnya, dan merintis berdirinya Universitsas Tadulako.

 Selain dua tugas pokok yang berat dan penting diatas, Rusdy Toana menyempatkan diri menerbitkan Mingguan Suara Rakyat Palu, pada tanggal 1 September 1962 melalui Yayasan Suara Rakyat Palu. Empat tahun kemudian, mingguan ini diubah namanya menjadi Mercusuar, tepatnya 10 Januari 1966. 

Nama Mercusuar ini terus bertahan sampai kini dan telah menjadi surat kabar utama warga Sulteng. Rusdy Toana menjadi pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Mercusuar, hingga akhir hayatnya 10 Agustus 1999.

 Selain bergelut di dunia kewartawanan, Rusdy Toana juga sempat menduduki beberapa jabatan politik, akademis, pimpinan Ormas, dan beraktivitas seperti asisten dosen Fakultas Sospol Untad, dosen tetap Fisip Untad, Dekan Fisip Untad, anggota DPRD Sulteng, Rektor Unismuh Palu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Pengurus Al Khairaat, Tokoh pejuang pendirian Sulteng, Universitas Tadulako, Korem 132 Tadulako, dan IAIN Palu.

Kisah heroik Rusdy Toana terus menghiasi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Meskipun, sebagian perjalanannya berada di luar Sulawesi Tengah (sebutan daerah saat ini), ia tidak pernah melupakan dari mana asal dirinya hingga sampai ke kanca nasional.

Sampai saat ini, jiwa nasionalisme yang ditampilkan lewat pers terus hidup. Meskipun bangsa Indonesia sedang mamasuki fase mengisi kemerdekaan, Koran Harian Mercusuar sebagai senjata nasionalismenya tetap hidup sampai sekarang.  Demikian pahlawan pers Sulteng yang kita kenal sampai hari ini.