11307_84291.jpg
incotive.com
Budaya · 4 menit baca

Rusakkah Bangsa karena Bahasa?

Banyak film-film di Indonesia yang diangkat ke layar lebar berasal dari novel checklist atau teen lit. Contoh saja, Dear Nathan. Banyak dari kita yang tentu sudah tidak asing lagi dengan novel sekaligus film yang satu ini. Bahkan banyak juga dari kita yang mengenal film Eiffel… I’m in Love.

Banyak dari kita tentu pernah berpikir, “Kenapa mereka menggunakan judul dengan bahasa asing? Mengapa mereka tidak menggunakan judul dengan Bahasa Indonesia, padahal isi dari karya tersebut menggunakan Bahasa Indonesia?”

Bahasa merupakan salah satu masalah yang sering menjadi perdebatan banyak pihak di Indonesia. Bahkan, karena bahasa dapat memicu konflik yang berujung dengan kekerasan. 

Banyak yang beranggapan menggunakan bahasa asing itu tidak nasionalis. Tidak sedikit juga yang beranggapan menggunakan bahasa asing itu merupakan hal yang lumrah dan beranggapan bahasa asing itu penting. Okay, let me try to tell you about this.

Pernah terpikirkan kenapa ada mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, dan lain-lain saat di bangku sekolah padahal kita ini orang Indonesia? Kenapa tidak yang kita pelajari itu Bahasa Indonesia atau dengan pelajaran bahasa daerah masing-masing saja?

Dan akhirnya banyak dari kita yang punya pemikiran, “Ah, aku gak bisa bahasa Inggris juga paling-paling hidup aku akan baik-baik aja setelah lulus sekolah nanti. Banyak kok temen-temen aku yang tidak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka malah baik-baik aja kok.”

Memang benar. Kita akan baik-baik saja kalau tidak bisa Bahasa Inggris. At least, kalau kamu berpikiran seperti itu, orangtua atau kamu mempunyai pekerjaan yang tidak menggunakan bahasa asing sedikitpun. Juga kamu memiliki orangtua yang mempunyai harta yang cukup untuk kamu gunakan selagi kamu belum bekerja. Bisa bertahan berapa lama?

“Banyak kok teman-teman aku yang punya pekerjaan biasa-biasa aja, malahan dari keluarga yang kurang beruntung, enggak bisa Bahasa Inggris. Mereka tetap aja bahagia hidupnya.”

Okay, kamu bisa hidup seperti temanmu? Bisa sampai kapan kamu atau mereka bisa seperti itu terus? Penghasilan pas-pasan tetapi pengen hidup mewah, yakin? Trust me, every people is not a same person.

“Lho, bukannya lagi ngejelasin kenapa kita belajar Bahasa Inggris di bangku sekolah, kok malah bahas tentang pekerjaan?” Because of that, kita diajarkan Bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya di sekolah itu karena kita dipersiapkan untuk masuk ke dunia bisnis. Dan tidak mungkin kamu tidak akan bertemu orang asing saat di dunia bisnis nanti. At least kamu bisa Bahasa Inggris.

Coba sebutkan, pekerjaan apa yang tidak menggunakan sama sekali bahasa maupun istilah bahasa asing? Pedagang cilok keliling? Okay, kamu mau seperti itu? Bisa sampai kapan?

Itulah kenapa kebanyakan sekolah bilingual itu di dominasi oleh anak-anak pengusaha. Karena orang tua mereka sudah terlebih dahulu mengenal dunia bisnis itu seperti apa dan mempersiapkan anak mereka untuk menghadapi dunia seperti mereka. Walaupun masuk sekolah bilingual itu tidak murah, itu karena sukses perlu pengorbanan. Ada harga yang harus dibayar.

“Tetapi kan, aku berasal dari keluarga yang tidak mampu untuk ngebayarin biaya masuk sekolah kayak begitu. Boro-boro biaya masuk, SPP per bulan aja belum tentu bisa lunas.” Pengen sukses, tetapi kok malah santai? Enggak mau bayar harga.

Kamu bisa bayar harga dengan belajar yang sungguh-sungguh dengan always be the best! Show the best performance! Make them proud of you! Jangan seperti mau mabuk, tetapi pakai bensin. Walaupun kurang mampu, bermartabat ah sedikit.

Banyak orang Indonesia menganggap menggunakan Bahasa Inggris itu tidak nasionalis. Menganggap hal tersebut merupakan krisis kebudayaan. Are you sure? Culture crisis isn’t because you speak English, culture crisis is when you can’t speak English when you have to face the real world that using all English in every corner.

Okay, buat kamu yang mengaku nasionalis dengan cara tidak berbicara menggunakan bahasa asing. Apakah kalian sudah menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Apakah menggunakan produk luar negeri itu non-nasionalis? Apakah kalian menggunakan kendaraan atau handphone produksi Indonesia? Apakah berkurang rasa nasionalis kalian dengan menggunakannya?

Tentu saja tidak! Apakah rasa nasionalis seseorang ditentukan oleh bahasa ataupun barang yang digunakannya? Bagaimana mungkin bisa rasa nasionalis seseorang bisa berkurang setelah dia bisa berbahasa asing. Apa hubungan ilmiah yang mengatakan bahwa statement tersebut dapat kita terima.

Sang Proklamator Bung Karno pernah mengungkapkan, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara.” Dari sini kamu mulai tahu kalau bukan hanya rindu yang berat. Ada yang kita hadapi, yang perlu kita perjuangkan.

Karena rakyat Indonesia sudah sulit untuk disatukan. Juga karena rakyat Indonesia tidak suka berkontribusi untuk membantu pembangunan negara Indonesia. Hanya suka enaknya saja. Hanya memiliki mental penghujat. Selalu merasa benar dalam setiap kondisi, dan selalu merasa bahwa orang lain selalu berada dalam rel yang salah.

Suka memberikan kritik tanpa tata cara yang baik maupun masukan yang dapat diterima orang banyak. Mudah menerima hoax tanpa mencari faktanya terlebih dahulu. Banyak yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Contoh saja koruptor dan orang yang mau menerima suap. Justru merekalah orang-orang yang tidak nasionalis.

Dari sini setidaknya kita tahu, kenapa ada orang yang tidak suka dengan orang-orang yang mahir berbahasa asing apalagi sukses. Karena dominan, orang yang jago berbahasa asing bisa berkuliah di luar negeri atau bahkan memiliki posisi pekerjaan yang lebih baik ketimbang orang yang tidak semahir mereka yang berbahasa asing.

Itu karena mereka terlampaui. Mereka tertinggal. Karena mereka malas. Karena sering dimanja. Karena mereka enggak mau membayar harga. Kalau sudah begini, salah siapa?

The last but not least, jadilah warga negara yang baik. Memiliki pola pikir yang terbuka. Mari kita ubah labelling bangsa kita. Kita bukan bangsa yang lemah, jangan hanya karena bahasa, kita terpecah. Tidak peduli kita dari suku, agama, dan ras mana pun.

Karena orang Indonesia bukanlah orang Batak, orang Sunda, orang Jawa, orang Dayak, orang Bugis, orang Bali, orang Papua, dan lain-lain. Tetapi, orang Indonesia adalah ‘orang yang menganggap dirinya Indonesia’. Karena kita Indonesia, marilah tetap berjiwa nasionalis tanpa memikirkan perbedaan di antara kita, misalnya bahasa asing.