Ratih merintih. Dadanya sesak. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya, dingin. Badannya bertambah kaku, seolah syaraf-syarafnya ditarik paksa ke satu arah, dibelenggu. Lidahnya kelu, tak membicarakan satu kata pun menggema, sekalipun tak lebih dari seper sekian detik.

"Siapapun, bantu aku!" batinnya menjerit seketika, setelas nafas bayangan hitam itu mulai terasa dingin diwajahnya.

***

"Bu, Ratih ijin pulang telat, ya?" Ratih menggeliat di tangan ibunya sambil mengeluarkan mimik memelasnya.

"Mau kemana?" tanya ibunya halus.

"Ke rumah Mawar, dia ulang tahun nanti malam."

"Loh, rumah Mawar kan jauh to?. Masa mau pulang malem?. Emang ada temannya?"

"Ada kok bu, Banyak malah."

"Ya udah, hati-hati ya. Kalau nggak kamu nginep aja dirumah mawar."

"Iya buk. Gampanglah. Makasih, ibu tercinta!"

Ratih mengembangkan senyum manisnya. Lalu, segera melahap sarapan yang ibu sajikan itu.

***

 Ratih melangkahkan kakinya pelan, memasuki rumah mewah keluarga Supomo. Sang pemilik acara pun melihat kedatangan Ratih dan menghampirinya.

"Hey! kamu dateng, Tih! Seneng deh bisa lihat kamu. Kirain gak bakal dateng!" sambut Mawar hangat.

"Hehe, dateng kok! Ini buat kamu!" Ratih mengulurkan tangannya, memberikan sebuah kotak kecil pada Mawar.

"Adduh, nggak perlu repot-repot. Makasih ya! Ayok gabung dengan kita!" ajak Mawar sambil menarik tangan Ratih.

Mawar pun mulai berbincang pada teman-temannya. Mereka tampak antusias, tetapi tidak dengan keberadaan Ratih. Pandangan mereka juga berubah. Menambah rasa tidak nyaman Ratih di sana.

"War, aku ke kamar mandi dulu ya?"

"Oh, oke! perlu dianter?"

"Nggak perlu kok. Makasih."

Ratih segera berlalu tapi tidak ke kamar mandi. Ia memilih sebuah bangku taman yang kosong, disertai sorotan remang lampu di sana.

"Bodoh! Kenapa juga harus nekad ke sini? Dari awal memang bukan sekelas mereka!" Ratih menyalahkan dirinya.

Ya, hanya Mawar yang baik padannya. Teman-teman lain merasa tak nyaman ketika berbicara dengannya. Entah kenapa. Bahkan, setiap hendak berangkat sekolah, ia harus berdiam diri di depan kaca untuk waktu yang lama. Untuk sekedar mencari kesalahan pada dirinya.

"Apa?... aku aneh?"

Sesampainya disekolah pun, Ratih hanya akan berdiam diri. Tak mampu lagi dia berusaha mendekati teman-temannya. Tak ada juga yang mendekatinya.

Hingga, ketika ia benar-benar lelah. Datanglah seorang yang berhati malaikat. Orang itu sudi mengajaknya bicara. Bahkan, mengundangnya ke pesta itu. Ya, dia, Mawar.

***

Ratih mengelapi kaca helmnya yang mengembun. Ya, daerah itu dingin. Ditambah lagi dikelilingi pepohonan rimbun yang menutupi langit sepenuhnya malam itu. Suasana sangat sunyi, hanya suara motornya yang memenuhi telinga. Tapi, tak mengganggu ratih sama sekali. Pikirannya masih berkutat pada kejadian tadi. Hatinya masih sakit. Ia tak terlalu fokus dengan jalanan Hingga tiba-tiba...

Blassst!

Seekor rusa melintas dengan kecepatan tinggi di depannya, hingga membuat oleng kendalinya. Tapi  untung saja ia masih bisa mengontrol pikirannya, sehingga motornya tak terperosok ke dalam hutan. Dan tiba-tiba saja, motornya terhenti.

"Sial!" umpat Ratih masih berkulat dengan kepanikannya. Dan seketika, rasa penasaran disertai rasa takutnya muncul. Tapi tetap kakinya melangkah. Menelusuri kembali jejak tragedi itu. Sesampainya di titik itu, gaun putih sederhanannya terbias langsung oleh cahaya purnama. Entah kenapa pepohonan baru kali ini mencoba meneranginya.

Ratih menoleh. Matanya berjalan ke tepi hutan, hingga terpaku pada jalan setapak di sana. Jalan menuju tengah hutan. Ratih menelisik jalan itu, entah keberanian dari mana, langkahnya terus menerobos kabut malam di sana. Dan tak lama, kabut itu pun mulai tersibak. Memperlihatkannya tempat tujuan sang rusa, juga tempatnya menjemput akhir hayatnya. Dadanya, mungkin tepat di jantungnya, tertancap cabang sebuah mantan entah pohon apa yang menembus dan merobek kulit punggungnya.

Ratih terperanjat. Ia berlari, sampai tubuhnya jatuh, terduduk di atas aspal yang kasar. Napasnya terengah tak teratur. Ritme jatuhnya tak dapat dihitung sela setiap satuannya. Matanya terbelalak, hingga cahaya sangat terang menghampirinya sangat cepat.

Tiiiiin!!!

***

Tubuh Ratih masih gemetar. Tangisnya tak berhenti. Pikirannya masih runyam.

"Ratih!" teriak ibunya dengan wajah penuh kepanikan. "Kamu kenapa, Nak?!" Ibunya segera menggenggam kedua tangan anaknya itu, dingin, sangat dingin.

Ratih hanya diam. Tangisnya semakin menjadi-jadi.

"Maaf, Bu. Anak ibu tadi saya temukan di tengah jalan. Untung saja tidak tertabrak truk saya." Ujar seorang pria paruh baya yang menghampiri Ibu Ratih.

“Terima kasih, Pak, atas bantuannya.”

“Iya, Buk, sama-sama.” Pria itu tersenyum lalu menoleh pada Ratih. “Lain kali hati-hati ya, Nak!”

Ratih tak menggubris, pandangannya masih kosong.

Pria itu pun hanya tersenyum pahit, “Kalau begitu saya pamit dulu ya, Bu.”

“Iya, Pak! Hati-hati! Sekali lagi terima kasih banyak.”

Pria itu pun kembali tersenyum dan berlalu pergi. Yang membuat Ibu Rtaih kembali fokus pada anaknya. Ia pun memapah anaknya untuk pulang ke rumah. Tak satu pun pertanyaan terucap lagi dari lisannya. Ya, ia tahu bagaimana kondisi anak semata wayangnya itu sekarang.

***

Tiga hari berlalu, kegelisahan kedua orang tua Ratih semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Anak gadis semata wayangnya itu masih tak mau buka bicara. Seolah sesuatu yang benar-benar buruk telah menimpanya. Ekspresinya juga datar, masih disertai tatapan kosongnya itu. Ia makan, juga mengunyah dan ditelan, hanya saja hanya satu sendok per harinya. Belum lagi, ia sering berteriak setiap bangun dari tidurnya.

Orang tuanya sudah membawanya ke dokter dan psikiater, tapi nihil. Jawaban mereka hanya. “Mungkin anak Ibu kelelahan, biasa remaja memang suka tiba-tiba stress.”

Hingga sekarang, mereka lelah. Ayah, Ibu, bahkan Ratih. Mereka pun kembali ke rutinitas biasa, tapi masih dengan kesedihan dan keputusasaan yang sama.

Kriiiiiiiinggg!

Tiba-tiba saja telpon rumah berbunyi. Ibu Ratih pun segera mengangkat telepon itu. “Halo, dengan keluarga Santoso.” Tuturnya yang lalu mendengarkan suara dari seseorang di seberang sana. “Mawar?” tanyanya sembari menoleh pada Ratih yang masih setia dengan tatapan kosongnya. “Sepertinya tidak tahu, Bu. Nanti coba saya tanyakan dulu.”

Telepon pun segera terputus. Ibu Ratih pun kembali ke meja makan, menghampiri suami dan anaknya. Ia kembali melanjutkan makannya.

***

Ratih mengedarkan pandangannya ke seisi kamar itu. Gelap, semakin membuatnya takut. Rasa was-wasnya menginggi. Tubuhnya yang terbaring pun menegang.

“Ratih....” Terdengar suara seseorang yang lirih, menegakkan bulu kuduk Ratih, meremang.

Ratih panik, ia menarik seimut menutupi seluruh tubuhnya. Tapi, entah kenapa suara itu terdengar semakin dekat, tapi semakin lirih.

Hingga, tubuhnya tiba-tiba sangat kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali. Dan selimut di tubuhnya tiba-tiba tertarik dan terlempar jauh. Panik, kata yang benar-benar menggambarkanya sekarang.

Ratih merintih. Dadanya sesak. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya, dingin. Badannya bertambah kaku, seolah syaraf-syarafnya ditarik paksa ke satu arah, dibelenggu. Lidahnya kelu, tak membicarakan satu kata pun menggema, sekalipun tak lebih dari seper sekian detik.

"Siapapun, bantu aku!" batinnya menjerit seketika, setelas nafas bayangan hitam itu mulai terasa dingin diwajahnya.

“APAKAH KAU PERNAH BERPIKIR UNTUK MEMBANTUKU!!!! DASAR TAK TAHU DIRI!!!!”

***

Ratih menoleh, melemparkan pandangannya pada siaran televisi di sampingnya. Tubuhnya gemetar seketika, air matanya mengucur deras.

“Bu, apa motorku sudah diambil?” ucap Ratih lirih.

“Ratih, kamu sudah mau ngomong?!” Wajah Ibunya terihat dihiasi kebahagiaan.

“Antarkan aku ya, Bu.”

Ibu Ratih pun mengangguk, sembari disertai air mata kebahagiaannya. Yang sebentar lagi, akan berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

***

Mereka sampai, Ratih memimpin memimpin beberapa orang dengan seragam necis itu. Motornya hilang, tak ada lagi di tengah jalan. Tapi, bukan itu yang Ratih fikirkan. Ia berbelok, melangkahkan kakinya ke jalan setapak itu. Membunuh segala ketakutannya.

Tapi, apa yang ia dapat, nihil. Matanya terbelalak. Sang rusa, menghilang dari pandangannya. Lenyap. Tapi, darah itu masih melekat pada cabang pohon itu. Kering, mulai menghitam, tapi baunya masih pekat.

“Ada yang bisa dijelaskan, Mbak Ratih?”

“Saya benar-benar melihat Mawar di sini, Pak!”

“Baik, kami akan memeriksa darah ini. Tetapi, kami juga akan memeriksa Anda.”

“Apa, Pak? Kenapa anak saya? Niatnya baik!” Ibu Ratih panik sambil menarik anaknya. Menjauhkannya dari polisi-polisi itu.

“Maaf, Bu. Tapi anak seseorang telah menghilang, atau bahkan, mungkin saja mati. Bagaimana jika itu terjadi pada anak Ibu?”

“Kurang ajar!” Ibu Ratih menampar pimpinan polisi itu. “Anakku bukan pembunuh!”

***

Mawar, aku mengagumimu. Kecantikan hatimu. Bagaimana bisa seseorang sebegitu cantiknya? Luar maupun dalam. Di mataku, kau seperti sang rusa yang benar-benar indah di tengah padang ilalang kering.

Mawar, entah keberadaanmu sekarang di mana. Bagaimana keadaanmu? Maaf, tak mencoba membantumu lebih awal. Aku benar-benar menyesal. Maaf, rasa takutku menghalangiku. Hanya saja, penghianatan macam apa ini? Kau menghantuiku setiap saat. Tapi, ketika aku membantumu, apa yang kau lakukan?

Sekarang, kuharap setidaknya kau dapat bersemayam dengan tenang. Biarpun, tak ada lagi yang bisa kuharapkan untuk diriku sendiri. Mungkin, aku akan membusuk di sini. Menebus segala kesalahanku.

Ratih memejamkan matanya. Merasakan hawa dingin yang tak selayaknya dirasakan manusia biasa.

“Mereka dibayar!” sebuah bisikan pelan menggema di telinganya, membuat mata Ratih kembali terbelalak, memutar kembali wajah-wajah orang yang telah menangkapnya itu, di pikirannya.

Bersambung...