2 tahun lalu · 6982 view · 4 min baca · Pendidikan 43406.jpg
Foto: Pexels

Runtuhnya Tembok Kampus Kita

Sebuah ironi tengah berlangsung di dunia kita yang sedang berubah cepat ini. Universitas-universitas terbaik di dunia berlomba-lomba meruntuhkan dinding-dinding kelas yang selama ini menjadi sekat untuk melakukan aktivitas pengajaran yang mereka lakukan. MIT, Harvard, dan Stanford berlomba-lomba meruntuhkan tembok itu, membuka ruang-ruang kelas, agar tak lagi dinikmati hanya segelintir orang.

Penghancuran dinding-dinding kelas tidak dilakukan dengan palu, martil, atau buldozer, tapi dengan sebuah platform yang kini dikenal luas dengan sebutan yang terdengar janggal: MOOC. MOOC adalah singkatan dari “Massive Open Online Courses”, sebuah platform yang memungkinkan metode pengajaran dilakukan dari jarak jauh dan diikuti oleh orang dengan jumlah tak terbatas.

Selama ribuan tahun, metode pengajaran di perguruan tinggi (dan juga di sekolah-sekolah) tak pernah berubah. Sejak zaman Plato di Yunani hingga zaman ayah kita, metode pengajaran dilakukan seragam, berupa tatap muka langsung antara dosen dengan mahasiswa atau antara guru dengan murid. Ruang-ruang kelas menjadi pembatas bagi mahasiswa/siswa lain untuk bergabung dan sekaligus menjadi pembatas dari ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh dosen/guru.

Jika ada perubahan, sifatnya sangat kecil dan tak terlalu berarti bagi dunia pendidikan secara umum. Perubahan medium pengetahuan yang terjadi dari tablet ke skrol (abad ke-5 SM) dan dari skrol ke buku (abad ke-6 M) tak mampu menghancurkan sekat-sekat pendidikan. 

Hadirnya mesin cetak pada abad ke-16 yang dianggap sebagai “revolusi literasi” tak juga mampu mendorong perubahan besar dalam dunia pendidikan. Peradaban cetak malah justru membangun ribuan tembok dan menciptakan segregasi-segregasi dalam dunia pendidikan.

Karena alasan itulah para jenius dan inovator di MIT, Harvard, dan Stanford mencari solusi yang selama berabad-abad tak terpecahkan. Teknologi internet memungkinkan solusi itu ditemukan. 

Jika pada awal abad ke-21, revolusi internet berhasil mengubah dunia bisnis dan keuangan (e-commerce, fintech), memasuki dasawarsa kedua abad ini, teknologi pendidikan (edtech) yang bakal melakukan revolusi besar-besaran.

Dirilis hampir bersamaan pada 2012, EdX dan Coursera kini menjadi dua penyedia kursus online terbesar di muka bumi. EdX adalah teknologi hasil kerja sama antara MIT dan Harvard, sementara Coursera adalah brainchild dua dosen di Stanford: Andrew Ng dan Daphne Koller.


Sebelum EdX dan Coursera diluncurkan, sudah ada beberapa penyedia kursus online, seperti Udemy, Lynda, dan Skillshare. Tapi, format yang mereka sajikan lebih bersifat “non-akademis” di mana siapa saja bisa “menjual” ilmunya, tak peduli apa latar belakang dan otoritas keilmuannya. 

Sejak awal, Udemy dan Lynda memang didesain sebagai penyedia kursus komersial untuk semua kalangan, tanpa memandang latar belakang akademisnya.

Meski sama-sama disebut sebagai penyedia jasa “kursus online”, EdX dan Coursera lebih fokus pada perluasan ruang-ruang kelas yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh mahasiswa perguruan tinggi. Kata “kursus” (course) pada EdX dan Coursera mengacu pada “mata kuliah” yang ditawarkan, sementara pada Udemy, Lynda, dan Skillshare, kata “kursus” lebih mengacu pada “area minat” seperti kursus komputer, kursus nyetir, kursus menjahit, dan sejenisnya.

Revolusi Pendidikan

Sepintas, apa yang dilakukan EdX dan Coursera tak terlalu istimewa. Dari sisi tayangan, tak ada bedanya dengan YouTube, yang sudah lama dikenal banyak orang dan digunakan bukan hanya sekadar situs untuk mencari hiburan, tapi juga mencari ilmu pengetahuan. 

Ada banyak video menyangkut berbagai disiplin ilmu dan topik yang terkait dengan dunia pendidikan. Hampir seluruh universitas besar dan lembaga-lembaga pemikiran punya kanal di YouTube.

Apa yang istimewa dari EdX dan Coursera? Pendidikan.

Di Youtube, Anda mendapatkan apa saja dan harus berusaha keras menemukan konten-konten yang mendidik. Jika tak pandai mencari, Anda akan tersesat dalam lautan video. Informasi yang disediakan di YouTube sangat umum, tidak melulu tentang pendidikan. Bahkan, konten terbesar YouTube adalah seputar hiburan, gosip, dan informasi lepas.

Sebagai platform yang dikhususkan untuk pendidikan, EdX dan Coursera fokus memuat konten-konten pengajaran, khususnya untuk tingkat perguruan tinggi. Lewat platform ini, Anda bisa ikut hadir di kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen di Harvard, MIT, Stanford, Oxford, Leiden, dan universitas-universitas terbaik dunia lainnya.

Inilah revolusi pendidikan itu. Pada pendidikan model lama, sebuah kelas hanya bisa menampung rata-rata 30 sampai 40 mahasiswa. Lewat platform MOOC, mahasiswa yang menghadiri kelas tak terbatas jumlahnya.

Anant Agarwal, CEO EdX yang juga dosen di MIT, bercerita tentang bagaimana metode pengajaran dengan platform MOOC telah mengubah skala dan jumlah mahasiswa dalam waktu singkat. Sebuah mata kuliah di EdX diikuti oleh lebih dari 150 ribu mahasiswa, 7000 di antaranya lulus dan mendapatkan sertifikat dari EdX.

“Dengan cara konvensional, kita perlu 40 tahun untuk menghasilkan jumlah lulusan sebesar itu, dan itu pun harus mengajar dua semester setiap tahun tanpa henti,” jelasnya dalam ceramah yang dia sampaikan di TED. 

Cerita yang sama juga disampaikan oleh Andrew Ng tentang keberhasilan Coursera dalam merevolusi pendidikan lewat internet.


Inovasi Tiada Henti

Teknologi pendidikan (edtech) memang tengah bergeliat kencang. Apa yang dilakukan Edx dan Coursera sebetulnya baru memindahkan pola lama cara pengajaran ke dalam teknologi baru. Konten dan metodenya kurang lebih sama, masih terikat dengan gaya lama perkuliahan: penggunaan silabus, tes, papan tulis, dan instruksi dosen.

Bahkan dengan perubahan yang sedikit itu, Edx dan Coursera telah melakukan revolusi besar dalam dunia pendidikan. Para ahli di Harvard, MIT, dan Stanford terus berusaha keras memperbaiki platform yang mereka buat dan mengadopsi inovasi-inovasi baru ke dalam platform itu.

Mungkin karena ribuan tahun tak pernah berubah, mindset pendidikan kita juga sulit berubah. Kita selalu membayangkan bahwa kuliah adalah menghadiri kelas di mana ada dosen yang berbicara dan mahasiswa yang mendengarkannya. Sesekali ada tanya-jawab di kelas. Perkuliahan di Edx dan Coursera umumnya masih seperti ini.

Ada banyak inovasi pendidikan yang tengah berkembang di dunia internet. Khan Academy memiliki metode sendiri dalam menyampaikan materi pengajaran. Begitu juga Showme, sebuah platform yang banyak membantu para siswa menjelaskan materi pelajaran kepada sesama mereka. Aplikasi seperti Duolingo dan Memrise adalah platform pengajaran lain yang makin banyak digunakan orang.

Tak ada yang tahu ke mana arah teknologi pendidikan sedang menuju. Negara-negara maju sangat serius menekuni bidang baru ini. India dan Cina mengekor di belakangnya? Lalu, di mana kita berada di tengah persaingan menuju masa depan ini?

Artikel Terkait