Ahmad Syafii Marif dalam suatu kuliah umumnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta pernah mengatakan selalu gelisah secara intelektual dan gelisah secara spiritual karena idealisme Islam, idelisme quran dari masyarakat muslim sebagai komunitas yang bermoral dan adil, dalam praktiknya justru banyak yang tidak peka dengan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi. Lebih jauh kejumudan dalam masyarakat Islam justru semakin merebak menjadi hal biasa yang hanya menerima pendapat satu kelompok mereka yang secara emosional sama-sama mendukung apa yang menjadi ideologi mereka, meskipun banyak kekeliruan di dalamnya.

Salah satu hal penting yang diajarkan dalam Islam terkait kehidupan yaitu konsep zuhud atau juga dikenal dengan Asketisme. Zuhud bukan berarti meninggalkan hal-hal duniawi sepenuhnya lalu sepenuhnya hanya memikirkan akhirat yang menjadi tujuan. Bahkan zuhud itu bukan berarti lekat dengan kemiskinan, akan tetapi bagaimana menyeimbangkan antara dunia dan akhirat itu dalam konsep wasatiyah/auwsaatuha (jalan tengah) yang sedang digaungkan saat ini menjadi berterima dengan konteks Al Qur'an yang menyebutkan umat muslim sebagai “Khaira ummah”, atau ummatan wasatan, yang mewujudkan keadilan, kebenaran, kepedulian dapat terlaksana.

Akan tetapi nampaknya kezuhudan dalam masyarakat muslim, bahkan elit Islam sendiri sudah mulai memudar dan tidak lagi menjadi perhatian. Tak jarang elit-elit Islam sendiri saat ini berusaha menumpuk akumulasi kapital-kapital yang dalam konsep Bourdieu (1980) disebut distingsi (Distinction) sebagai jalan untuk mendapatkan otoritas atau kuasa dalam masyarakat muslim. Setelah akumulasi kapital itu terpenuhi, secara hierarkis mereka pun mendapatkan popularitas, sementara ketimpangan-ketimpangan sosial dalam masyarakat tidak lagi menjadi hal vital untuk disuarakan melalui kapital ataupun kuasa pada mereka yang seharusnya melahirkan kepedulian.

Contoh sederhananya, dalam masyarakat muslim Sasak di Lombok yang terkenal dengan Pulau Seribu masjid-nya, sejak beberapa tahun terakhir sedang diterpa gelombang modernisasi dengan gaung pariwisata yang terus dipacu untuk menggenjot kunjungan wisatawan ke Lombok. Dampak modernisasi dalam kehidupan masyarakat muslim sendiri mulai marak juga dengan kajian-kajian keagamaan berbayar yang biasa diadakan muslim kelas menengah dengan diadakan di ballroom hotel, atau di ruang utama mall, bahkan yang terakhir ini dengan menyewa gedung yang biasa digunakan untuk pesta pernikahan. 

Kajian keagamaan berbayar pertama yang saya amati di Lombok yaitu pada 2017 ketika Felix Siauw mengisi acara di salah satu gedung milik pemerintah daerah dengan panitianya atau Event Organizer (EO) mematok tiket sebesar 35K untuk pelajar/mahasiswa dan 45K untuk umum. Teryata 'jualan' kajian seperti itu pun laku keras dihadiri, yang saya ketahui dengan ramainya postingan di media sosial facebook, instagram kawan-kawan saya dengan tagline komunitas hijrah-nya.

Bukan sekali itu saja Felix Siauw dan EO megadakan kajian berbayar seperti itu, bahkan sempat juga mengadakan di ballroom Fave hotel, dan di Lombok Epicentrum Mall yang ada di Mataram. Artinya, ketika hal-hal yang bertujuan akhirat dalam konteks zuhud di atas justru masih lekat sekali dengan duniawi yang bisa saja dikatakan untuk mengejar profit dari EO itu sendiri. 

Padahal, dalam konteks masyarakat Sasak sendiri yang selalu digaungkan lekat dengan Islam, Pengajian Tuan Guru-Tuan Guru yang sejak dulu diadakan masyarakat tidak satupun pernah ada yang mematok tiket untuk orang yang akan mengaji, karena pelaksanaannya pun biasa diadakan di masjid, pondok pesantren ataupun jika dengan massa yang banyak biasa juga menggunakan lapangan umum.

Pergeseran konsep memaknai kehidupan beragama atau dalam hal mencari keilmuan dalam agama Islam yang disajikan oleh popularitas melalui media seperti yang ditampilkan Felix Siauw, Hanan Attaki dan lainnya merupakan fenomena ketika jualan konsep yang bernuansa Islami baik dalam konteks kehidupan remaja yang islami, cinta yang islami, dan yang paling populer yaitu style fashion islami yang melahirkan standar syar'i atau tidaknya gaya berpakaian, kesemunya itu merupakan hal-hal yang menjadi pangsa pasar menyasar masyarakat muslim yang semakin terlihat kejumudan dalam beragama yang lebih mengutamakan bungkus daripada isi.

Begitu juga dengan kajian dari Hanan Attaki yang diadakan di Narmada Convention Hall (NCH), Mataram tanggal 29 Juli 2108 ini. Event organizer dengan nama Ayah Amanah Book Store dan didukung juga oleh Majlis Calon Ayah Amanah (MCAA), Rumah Taaruf MCAA, The Niqabista (ini sepertinya gerakan pake cadar yang rajin upload foto selfie dengan caption ajakan Hijrah), serta ada nama salah satu sponsor yang tidak terbaca di poster. 

EO mematok tiket untuk kajian Hanan Attaki di NCH tersebut sebesar 60K untuk pelajar/mahasiswa, dan 70K untuk umum, serta ditambahkan dengan keterangan peserta minimal 5 tahun untuk kategori pelajar, dan tidak diperkenankan membawa bayi dan balita. Keterangan terakhir ini jelas menunjukkan pangsa pasar yang disasar dari masyarakat muslim yang belum berkeluarga dan sedang gemar-gemarnya mencari jati diri, bahkan bisa saja dalam urusan cinta yang dibumbui dengan konsep islami tadi.

Tema yang dipakai pun sangat kental dengan nuansa modernitas yang sebenarnya masyarakat Sasak pun mulai jenuh dengan hal tersebut semenjak invasi kapitalisme beberapa tahun terakhir sangat gencar menyasar masyarakat Sasak dengan kemunculan berbagai pusat perbelanjaan di wilayah sekecil Lombok.

Kepuasan Semu

Acara Sharing Time dengan tema Charge Iman dari Hanan Attaki tersebut bisa dikatakan merupakan jualan dari EO dengan popularitas Attaki di kalangan muslim remaja Indonesia saat ini. Isi-isi dari kajiannya pun tidak jauh-jauh dari kehidupan romantis a la Nabi, Ali dan Fatimah yang menjadi ikon cinta yang islami antara dua muda-mudi yang terus menerus direproduksi dalam kajiannya, dan melenakan remaja muslim yang senantiasa membayangkan kisah percintaannya saat ini bisa atau diusahakan se-romantis kisah cinta Ali dan Fatimah.

Uniknya, jualan-jualan dengan kajian berbayar seperti itu banyak juga peminatnya di Lombok yang bisa dikatakan tidak pernah kekurangan Tuan Guru atau pun Ustadz yang digembleng di pondok-pondok pesantren atau Majlis-majlis Ma'had yang setiap tahun mengirimkan mahasiswa untuk belajar ke Timur Tengah yang dikukuhkan sebagai pusat-pusat peradaban Islam. 

Padahal, jika saja mereka sadar dan mau untuk menuntut ilmu agama, mereka bisa menjadi pelopor untuk menggemanya syiar Islam dengan menjadi bagian untuk mengadakan pengajian-pengajian di masjid-masjid yang ada di Lombok dengan melimpahnya Tuan Guru, Ustadz maupun akademisi keislaman yang ada di NTB sebagai pemateri.

Bahkan sejak pertama kali saya menginjakkan kaki sebagai mahasiswa di kota Mataram tahun 2009, kajian di masjid Raya At Taqwa Mataram tidak pernah sepi setiap malam, yang sekaligus sebagai markaz dari Jamaah Tabligh. Begitu juga dengan kehidupan di kampung, pengajian-pengajian dengan mengundang Tuan Guru di Pondok Pesantren untuk mengisi walaupun sebulan sekali cukup mengukuhkan untuk mengembalikan habitus masyarakat Sasak yang dikatakan lekat dengan Islam.

Sementara ketika kajian-kajian dengan pemateri populer yang berbayar dan ada akumulasi kapital ekonomi di dalamnya justru luput dari kesadaran masyarakat muslim Sasak yang juga sepertinya haus akan popularitas, dan merasa ada kepuasan (Fetish) yang lebih tepatnya adalah kepuasan semu (false fetishism) dalam konsepnya Marx, yang tercipta ketika mereka mampu memenuhi hasrat (desires) untuk menjadi bagian dari popularitas tersebut. 

Kepuasan semu dengan menjadi bagian dari acara kajian berbayar dengan pemateri populer tersebut dituangkan dengan histeria melalui media sosial yang terwujud dalam bentuk selfie, foto bareng, ataupun kutipan-kutipan dari pemateri yang dijadikan caption yang sesuai dengan kondisi emosional mereka sebagai konsumen dari penyedia jasa atau EO yang mengadakan kajian tersebut.

Artinya, EO yang menjual jasa dengan komoditi berupa sajian dari pemateri populer tadi tidak sepenuhnya salah terlebih jika masih ada upaya sebagai bagian dari niatan hijrah yang mereka jadikan sebagai modal utama menarik massa atau konsumen. Akan tetapi kesadaran konsumen, dalam hal ini masyarakat muslim sebagai penikmat acara kajian tersebut, juga patut dipertanyakan apakah itu sebagai nilai gengsi (prestige) dengan kehadiran mereka sebagai bagian dari acara, ataukah memang niatan-niatan hijrah yang tertanam justru menemukan pupuknya melalui acara-acara seperti itu, meskipun berbayar dan isinya pun tak lepas dari pada romantika-romantika cinta dengan bungkus islami yang menjadi tagline hijrah tersebut.

Jika merujuk ke awal tentang zuhud, fenomena ketika maraknya kajian berbayar ini jelas-jelas sudah jauh dari kategori zuhud yang juga sebagai dasar dalam pendidikan kehidupan masyarakat muslim. Bahkan, pengkategorian Syar'i atau tidaknya gaya berpakaian masyarakat muslim saat ini pun sudah ditentukan oleh pasar yang menyasar mereka. 

Bisa dibayangkan dengan satu set perlengkapan gamis sampai jilbab dari perempuan muslim yang paling murah dalam urusan style ini bisa mencapai 300 ribuan, dan itu yang dikategorikan syar'i oleh para penjual yang berseliweran juga di media sosial sekali lagi dengan caption hijrah juga. Semakin menarik perhatian baik warna, ataupun desain dari pakaian yang dikategorikan Syar'i tersebut, semakin diburu oleh perempuan muslim yang memang dari dasarnya sebelum menyebut diri mereka hijrah memang sebagai pemburu fashion. Momentum ketika mereka dikategorikan hijrah pun terakomodasi dengan fashion-fashion islami yang menjadi industri budaya yang dilegitimasi juga oleh tokoh-tokoh populer bentukan media.

Mengembalikan Marwah Masjid

Sangat disayangkan ketika kajian-kajian tentang Islam yang justru seharusnya diadakan di masjid-masjid untuk mengembalikan jamaah agar kembali ke masjid sebagai kekuatan yang menjadi persiapan sebagaimana tafsir Al quran surat Al Anfal ayat 60 "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi/sekuat kamu mampu" salah satunya yaitu quwwatul jamaah (kekuatan jamaah) atau kebersamaan. 

Maka masjid pun bisa menjadi arena untuk menghimpun itu, sebagaimana yang kita ketahui Nabi pun menghimpun kekuatan jamaah melalui masjid yang hanya beratapkan anyaman daun kurma dan tiangnya batang-batang kurma. Hal ini sangat kental dengan nuansa kesederhanaan sebagai bagian dari zuhud yang dicontohkan Nabi pada waktu itu.

Jika melihat konteks masyarakat Sasak di Lombok saat ini pun dengan keberadaan masjid yang mencapai lebih dari 10 ribu, dan rata-rata besar dan cukup mewah jika dibandingkan di daerah-daerah lain, maka mengadakan kajian di luar masjid yang bahkan sampai berbayar pula itu justru logika yang keliru menempatkan tagline hijrah tetapi kajian diadakan di gedung mewah yang biasa disewa untuk pernikahan yang pastinya berbayar mahal juga. Sementara masjid nan megah yang menjadi ikon pariwisata religi Lombok, NTB berupa masjid Islamic Center tidak dimanfaatkan secara proporsional sebagai pusat peradaban dan pengkajian Islam sebagaimana halnya yang digaungkan dulu sebelum pembangunan.

Justru logika terbalik itu pun semakin kuat ketika keluhan-keluhan masyarakat tentang penggunaan Islamic Center dengan Ballroomnya lebih banyak digunakan untuk acara pesta pernikahan, yang bahkan tamunya pun banyak berpakaian minim dengan musik yang menggema (Suara NTB, 27 Juli 2018). Betapa mewahnya Islamic Center itupun hanya menjadi daya tarik sebagai tempat wisata dari pada tujuan awal untuk pusat pengkajian Islam yang saya bayangkan kala itu sebelum dibangun akan ada perpustakaan besar yang berisi buku-buku studi Islam, kajian-kajian dan diskusi ilmu agama tidak pernah sepi, yang kenyataannya justru tidak pernah sepi dari banyaknya pengunjung yang selfie atau pun hanya ketika waktu Shalat tiba.

Kalaupun ada kegiatan-kegiatan bertema akademik Islam itu pun masih eksklusif lebih banyak diselenggarakan oleh alumni Al Azhar yang ketuanya pun Gubernur NTB saat ini. Pengajian-pengajian a la Sasak pun sekali seminggu bisa ditemui yaitu pada malam jumat yang terbatas dari magrib sampai isya yang itu pun diampu 1 orang yang sudah dijadwalkan tetap, serta kajian selesai shalat jumat yang biasanya diisi juga oleh khatib jumat. 

Padahal jika ingin menggaungkan kembali tujuan awal Islamic Center sebagai pusat pengkajian Islam masih sangat mungkin untuk memulai dengan jadwal pengajian, diskusi atau pun pusat-pusat studi yang bisa mulai digagas dengan melimpahnya sarjana-sarjana muslim di NTB saat ini. Optimisme seperti ini harus tetap digaungkan sebagai bentuk kekuatan egaliterianisme jamaah seperti yang dicontohkan Nabi, dan masjid pun akan menjadi rumah kedua bagi jamaah-jamaah yang haus akan ilmu serta silaturahmi jamaah yang akan erat terjalin.

Perlunya Kajian Islam Progresif

Kajian berbayar dengan menyewa gedung-gedung mewah selain masjid yang jika terus-menerus diadakan dengan isi tentang romantika cinta a la islami seperti itu bisa jadi akan mematikan sensibilitas sosial masyarakat muslim, yang hanya akan melahirkan obsesi dan halusinasi tentang romantika kehidupan sahabat yang kualitas keimanan kita dan mereka pun tidak pantas untuk dibandingkan. 

Perlunya gerakan Islam progresif yang menyajikan tema-tema tentang pembelaan atas kaum dhuafa, membangun kekuatan ekonomi, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama justru sangat relevan saat ini untuk digaungkan. Terlebih di saat masyarakat muslim saat ini terus-menerus mereproduksi dalam benak mereka adanya musuh imajiner (bayangan) dengan menyatakan Islam sedang dipojokkan, atau didiskriminasi. 

Padahal, sebagai komunitas mayoritas di Indonesia secara umum, atau di NTB secara khususnya, masyarakat muslim pun tetap bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman, mencari rizki, bersosialisasi secara baik, kesemuanya tanpa ada tekanan sedikit pun dari pihak manapun.

Tekanan yang justru muncul yaitu lemahnya kepedulian sosial masyarakat muslim yang justru semakin individualis, ketimpangan sosial yang semakin mengakar sangat memerlukan gerakan-gerakan progresif yang bisa dikomandoi melalui pengajian-pengajian di masjid dengan anjuran untuk menggalakkan zakat, sadaqah, dan kepedulian dari para oligarki muslim untuk kaum dhuafa, bukan malah semakin menyuburkan dan menyemarakkan kajian-kajian berbayar yang sebenarnya bagi mahasiswa harga tiket sebesar itu bisa digunakan untuk membeli 1 atau 2 eksemplar buku, atau untuk mengisi perut selama beberapa kali jadwal makan.

Dan pengajian-pengajian dengan tema gerakan-gerakan progresif itu pun masih sangat mungkin untuk dimulai dari sekarang dengan melimpahnya sarjana-sarjana muslim baik yang alumni kampus-kampus Islam dalam negeri ataupun kampus-kampus Timur Tengah yang banyak melahirkan Tuan Guru sebagai gelar mereka ketika kembali ke Lombok. Tuan Guru, dengan kapital budaya mereka berupa keilmuan Islam dan kapital simbolik sebagai pemimpin di masyarakat dengan gelar keagamaan tersebut, mereka bisa menjadi pelecut gerakan-gerakan Islam progresif emansipatoris dalam masyarakat, meski tidak dipungkiri kapital simbolik itu pun kadang dijadikan modal sebagai upaya untuk gerakan progresif melalui jalur politik sebagai politisi.

Asalkan kesederhanaan sebagai tingkat paling dasar dari zuhud itu pun senantiasa mengakar dalam diri mereka, maka paradigma terhadap politik sebagai sesuatu yang buruk bisa perlahan disadarkan kepada masyarakat bahwa politik itu pun bisa menjadi arena untuk berbuat kebaikan lebih banyak untuk masyarakat. Bukan sekedar mengecam politik dengan kacamata oposisi biner, hitam dan putih, akan tetapi optimisme gerakan-gerakan progresif itu pun sangat mungkin untuk diwujudkan melalu ranah tersebut.