Peneliti
2 tahun lalu · 197 view · 5 menit baca · Cerpen barak-cimahi-06.jpg
Foto: blogketinggalanzaman.blogspot.co.id

Rumah yang Tak Bersalah

Seorang kakek yang wajahnya berlapis-lapis garis tua, keriput, tiba-tiba merah dan matanya hampir tak berkedip. Sepanjang lebih dari dua menit, dia menatap seorang lelaki sebayanya yang hendak masuk kedalam rumah. Lelaki yang baru saja menegurnya.

Merasa ditatap dengan marah, ia balas menatapnya. Juga tanpa kedip. Juga aura marah tergambar di wajahnya yang dilipat-lipat garis tua.

Dalam beberapa menit, aksi saling tatap pecah menjadi keributan kecil, keributan kata-kata. Masing-masing melontarkan kata-kata: kata yang marah, saling bentur, saling tegur, saling menyalahkan dan rebutan ‘yang paling benar’.Seolah yang ‘benar’ identik dengan kemenangan dan kegagahan melawan dengan kata-kata yang tak habis-habis.

Tak ada ruang untuk berdamai dengan diam. Karena memilih diam berarti mengakui kekalahan. Dan kekalahan sama artinya dengan mengakui kesalahan. Dalam pertarungan, entah pertarungan kata-kata, ‘benar’ dan ‘salah’ menjadi kata yang begitu mudah diringkus dalam tafsir yang sederhana, ditafsiri sewenang-wenang.

Aksi balas-membalas kata disertai menegangnya urat di leher masing-masing menandai keributan yang seolah tak bakal berujung. Hingga seseorang munculmenengahi dengan bijaksana, tapi dengan kata-kata yang tak kalah marah demi mendiamkan keduanya.

“Apa-apaan kalian, sudah tua masih ribut-ribut seperti anak kecil”.

Tetangga sekitar yang terpancing keributan menyaksikannya diam-diam dari suatu jarak. Saling berbisik satu sama lain. Ada yang hanya tersenyum melecehkan. Ada juga yang marah.

“Dia memulai duluan, punya mulut tidak diatur. Dia pikir aku tidak mendengar”.

“Aku hanya menegurnya, kau malah menunjukkan wajah begitu. Kau pikir hanya dirimu bisa berlagak begitu”.

“Sudahlah. Jangan ribut begini. Tak ada gunanya.”

“Bubar kalian, tak perlu begini.”

Keributan jadi sunyi. Orang-orang yang menyaksikan mulai bubar satu demi satu. Begitu juga lelaki yang baru saja menegurnya, dia akhirnya meneruskan masuk ke kamarnya.

Sementara dia yang ditegur, masih bertahan sendirian di tempat semula, halaman depan rumahnya. Setelah beberapa menit, ia pergi. Entah kemana.

Dari dapur, seorang perempuan,terlihat baru bangun tidur, tersendat-sendat langkahnya membawa beban usia dan badannya menuju halaman. Keributan yang baru saja didengarnya sudah sepi.

Dia bingung. Karena penasaran, dia pergi ke tetangga, yang rumahnya sejarak beberapa kaki dari rumahnya. Kepada seseorang yang dia temui, dia bertanya.

“Ada apa, ribut-ribut tadi?”

“Hanya keributan kecil, suami ibu, Pak M bertengkar mulut dengan kakek D. Untung segera saya lerai, jadi tak lama”.

“Masalahnya?”

“Soal kecil. Suami ibu ditegur, tidak terima, dan membalas. Ya, akhirnya ribut-ribut, saling ngotot”.

“Lalu, sekarang suami saya dimana?”

Yang ditanya hanya menggeleng. Yang perempuan tua itu hanya mengerut bingung.

***

“Jadi begitu, nak, kakekmu setelah kejadian itu tak pulang lagi ke rumah”, suara perempuan tua dari jauh. Suaranya begitu jelas, pelan dan terdengar tegar.

“Aku sudah membujuknya untuk kembali ke rumah, tapi dia memilih menolak. Dia bilang di sana bukan rumahku. Tapi di sinilah, rumahku.”

“Harusnya tidak begini,” suaranya yang muda akhirnya menyambut juga.

“Kakek tak perlu mengambil sikap terburu-buru begitu.”

“Kakekmu orang yang sensitif dan temperamen.”

“Aku tahu itu, nek. Baiklah, sabarlah, nek. Ingat, nek, bersikaplah nenek untuk tak terlarut emosi. Jangan berada di pihak manapun. Ini soal keluarga, ikatan keluarga, memilih berpihak pada salah satunya sama artinya memilih memusuhi yang lainnya. Nenek perlu menjadi penengah, pendamai.”

“Aku akan ingat kata-katamu, nak.”

Pembicaraan berakhir. Tapi, pikiran anak itu menjadi panjang, rumit dan bercabang-cabang. Pada sebuah cabang, ia menyesalkan kejadian kecil bisa jadi rumit dan berlarut begini: sang kakek pergi, dan untuk kembali dia tak berani melawan gengsi.

Ada keangkuhan di balik penolakannya untuk kembali. Dia memilih memutuskan ikatan dengan rumah yang pernah ia tinggali. Rumah itu, yang hari itu tak terlibat sedikitpun keributan kecil, harus menanggung beban kesepian karena sang penghuninya memilih untuk meninggalkannya.

Sang kakek memilih pulang dan menetapkan dalam hati untuk tak akan menginjakkan kembali kakinya ke rumah itu.

“Rumah itu tak bersalah, tapi kini harus menanggung kesendirian, dibiarkan tak terawat. Manusia memang aneh. Ia memilih egonya, gengsinya saja, dan mengorbankan yang lain-lainnya,” lirihnya bicara pada dirinya.

Sang kakek pergi. Dia ceritakan kepada keluarganya yang lain semua permasalahannya dengan begitu emosional, menggebu, dan berlebihan. Kental subjektifnya, sehingga menimbulkan simpati dan menggiring emosi kepada siapa dia telah ceritakan hitam-hitamnya.

Kini kedua keluarga telah berada pada hubungan yang rumit, saling hati-hati, berusaha berdamai dengan saling diam, tapi rentan terhadap segala pembicaraan yang berpihak. Peristiwa sederhana telah jadi konsumsi di masyarakat.

Peristiwa itu kini telah hadir sebagai cerita, booming,tapi sudah tak utuh, pecah kedalam tiap sudut pandang orang yang mau bercerita, entah menyaksikan atau hanya dari hasil mendengarkan dari yang lain. Cerita itu mengalir dari mulut ke mulut, terdengar dari telinga ke telinga dan entahlah, sampai dimana ia berujung.

Pada setiap penceritaan ulang, bumbu-bumbu lain membikin cerita jadi panjang, sedap, menarik dan tak habis-habis. Peristiwa itu telah menjadi cerita yang setiap orang seolah berhak menambah atau menguranginya.

Cerita itu juga pecah kedalam beragam penilaian: sebagian besar mencela, menyayangkan sebagai hal yang tak dewasa, dan sebagian lagi, sebagian kecil, memaklumi yang hampir sama artinya dengan ‘tak peduli’.

“Andai saja kakek tak termakan emosi, ia bisa lebih sabar menanggapi masalah, hasilnya tak bakal serumit ini,” keluhnya.

Pada cabang yang lain, lain pikiran muncul dan tak turut menyesalkan peristiwa itu. Pikiran itu mengakui, itu peristiwa yang memalukan, sebuah kesalahan besar. Tapi ia memaklumi: setiap langkah apa pun, ia rentan tergelincir. Sang kakek melangkah, mungkin salah, dan ia telah tergelincir: peristiwa yang kecil menjadi besar dan rumit. Ia telah menanggung akibatnya.

Ia harus belajar dari itu. Bukankah kesalahan adalah jalan di mana seseorang bisa mengambil pelajaran? Bukankah hidup adalah perihal belajar yang tak habis-habis, tak ada ujungnya?

“Sekarang masalahnya, apakah kakekmu bisa belajar lebih baik dari masalah yang telah terjadi?”

Pemuda itu diam diceramahi pikirannya sendiri.

“Letak utama di mana kerumitan bermula, itu dari egoisme kakekmu, keangkuhannya. Egoismenya telah menyebabkan ia pergi begitu saja, bercerita begitu saja, tak mau kembali dan menganggap rumahnya yang dulu bukan rumahnya lagi. Apakah egoismenya masih akan menciptakan deretan lebih panjang kerumitan-kerumitan yang ia ciptakan sendiri?”.

Suatu kali, dari kesimpulan-kesimpulan pikirannya yang panjang, dia dialogkan dengan kakeknya.

“Kembalilah, kek. Semuanya akan baik-baik saja,” pintanya.

“Masalahnya tak sesederhana itu, nak.”

Dia mendengarkan.

“Kau benar, salah seorang harus ada yang mengalah bila ingin permusuhan diakhiri. Aku tidak memusuhinya. Tempat yang kini tak lagi aku injaki, bukan menjijikkan,” sebentar ia ambil jeda. Diam.

“Tapi harga diri, bagaimana aku bisa berdamai bila harga diri serasa diinjak-injak.”

“Demi harga diri, kakek telah korbankan harga-harga yang lain. Harga ikatan keluarga, harga keharmonisan, dan harga dari setiap persoalan keluarga yang semula ingin kita rahasiakan, kini telah jadi konsumsi orang banyak. Harga diri keluarga telah dilecehkan secara tak langsung oleh orang-orang. Ya, secara tak langsung, diam-diam, orang telah menganggap ini keluarga yang tak harmonis.”

“Itu tak sepenuhnya salahku. Tapi, maafkan aku.”

“Aku tak menyalahkan kakek, semua orang bisa membuat kesalahan. Aku tak menyesali apa yang sudah terjadi. Tak ada gunanya.”

Sang kakek tak melanjutkan. Sang cucu diam. Percakapan berakhir. Masing-masing karam dalam pikirannya, bergulat dalam renungannya, demi memilah-milah mana dari setiap peristiwa yang dapat mereka ambil sebagai pelajaran.