Wordsmith
3 bulan lalu · 80 view · 4 min baca · Cerpen 46995_22688.jpg

Rumah yang Merindu

Saya dilahirkan oleh rasa iba perkumpulan salah satu gereja. Ketika mereka mengetahui ada seorang Bapak yang meninggal dunia dan meninggalkan istri dan anak-anak yang masih kecil, perkumpulan itu merasa iba dan menggalang dana untuk melahirkan saya. 

Jika bisa memilih saya tidak ingin dilahirkan untuk dimiliki keluarga Bapak yang meninggal itu. Karena sering saya mendengar bahwa keluarga Bapak itu suka ribut. Tapi aku tidak bisa memilih hanya bisa pasrah.

Selama mereka menghuni saya, saya melihat saya selalu merasakan sakit hati. Setiap ada orang lewat dan ketika menoleh ke arah saya, mereka pasti mencibir penghuniku. Penghuniku memang tidak mendengarnya, tapi aku mendengarnya. 

Yang lebih sakit hati, ketika ada rumah baru dilahirkan dan sangar megah dan posisinya pas di sebelah kiriku. Rasanya aku ingin menunduk saja. Wajahku terasa sangat buruk ketika berdampingan dengannya. Dia juga sering mengejekku dan sering tertawa melihat wajahku yang buruk. 

Penghuninya bisa saja. Jarang ribut seperti penghuniku. Hal itu juga yang membuat aku selalu kena ejekan. Aku hanya diam karena aku tidak bisa mengubah apa-apa. Sepertinya penghuni tetanggaku itu juga tidak menyukai penghuniku. 

Bisa kalian bayangkan begitu tertekannya jiwaku? Rasanya sangat menyesal dilahirkan jika hanya lahir untuk hidup tertekan.

Suatu hari anak penghuniku terkena narkoba dan akhirnya aku harus di jual. Aku berdoa agar yang membeliku kelak orang baik. Dan aku sangat bahagia ketika aku tahu bahwa yang membeliku adalah orang baik. 

Aku sangat suka melihat anak kecil yang akan menjadi anak tuanku yang baru. Tapi kembali aku harus menelah kesedihan mendalam. Ternyata yang membeliku tinggal jauh dari tempatku dan tentu saja aku tidak bisa ikut. Dan mereka memutuskan, aku akan di kontrakkan.

Suatu hari aku melihat ada pasangan muda melirikku. Mereka sepertinya tertarik melihatku untuk dijadikan rumah kontrakan. Aku sangat terpesona melihat istrinya yang sepertinya akan pintar merawatku. Aku berdoa agar pasangan muda itu segera meminangku untuk menjadi hunian sementara mereka. 

Ah…Tuhan, aku sungguh bahagia ketika mereka benar-benar meminangku. Sore itu aku melihat istri tuan sementaraku itu datang membawa sapu, ember, pembersih lantai, pembersih kaca dan cangkul. 


Dia datang bersama ibu mertuanya. Aku meloncat kegirangan, dan sepertinya dua perempuan itu tidak merasakan goyangan tubuhku. Aku heran mereka asik bersih-bersih tanpa oyong padahal aku lagi loncat – loncat.

Aku mendengar si istri tuan sementaraku itu mengatakan bahwa suaminya sedang di luar kota sehingga tidak ikut bersih-bersih. Aku memandangi istri tuanku yang cantik itu. Dia sepertinya lelah tapi menutupinya agar aku bisa nyaman untuk di huni. Aku mendengar doanya begitu tulus ingin bahagia tinggal di dalamku. 

Lain lagi dengan ibu mertuanya yang sepertinya kurang ikhlas membantu menantunya. Tapi dia begitu lihai menutupi sifat buruknya itu sehingga manantunya tidak sadar. Aku hanya bisa diam. Ingin kukatakan pada istri tuanku itu. Tapi tetap saja dia tidak mendengar.

Setelah selesai aku melihat ada nenek tua datang meminta uang maharku agar bisa di tinggali. Aku mendengar istri tuaku bilang akan diberikan ketika sudah pindah minggu depannya. Dan ibu mertua nya juga berkata demikian.

Setelah dihuni sepasang pengantin muda itu, aku sering mendengar keceriaan. Meski sering diam-diam aku mendengar tuanku mengeluh dalam hati tentang sikap ibunya yang tidak menyukai istrinya. 

Tapi aku melihat bahwa tuanku sangat lihai menutupi kesedihannya kepada istrinya. Kalau aku lihat istri tuanku sangat polos sepolos dia suka berjalan tanpa busana di dalamku. Dia bahagia melakukan pekerjaan rumah. tapi kadang malas, dan ia akan hentikan semua. 

Itulah istri tuanku itu. Istri tuanku juga pemarah dan tidak suka sikap pembohong. Dia sangat apa adanya dan gampang di tebak. Aku hanya diam memperhatikan mereka yang selalu tertawa ketika bersama. Dan terkadang menangis ketika berdoa.

Suatu hari aku mendengar penghuni tetangga-tetangga mulai lagi mecibir penghuniku. Aku heran alasannya apa. Lama-lama aku mengetahui bahwa ibu mertua adalah sumber cibiran itu. dia suka menggosipi istri tuanku. Dan aku tahu penghuniku meyadari itu tapi mereka diam saja. 

Terlalu goblok pikirku ketika aku tahu penghuniku diam saja. seharusnya mereka klarifikasi. Tidak bisa diam menghadapi fitnah pikirku. Ingin kusampaikan pada mereka. Lagi-lagi mereka tidak mendengar.

Salah satu ketidak sukaan ibu mertua istri tuanku adalah karena adik istri tuanku tinggal bersama mereka. Dan ibu mertua tuanku curiga tuanku dan istrinya suka memberi uang kepada keluarga istri tuanku. Dan selalu merasa kesal setiap kali mengingat biaya pesta meminang istri tuanku. Itulah yang ku dengar alasan ibu tua itu tidak menyukai menantunya yang sekarang tinggal di dalamku. Dan tuanku mengetahui itu.

Sehingga suatu hari ada lagi yang membuat tuanku dan istrinya terkejut ketika penghuni tetanggaku yang di sebelah kiriku memaki-maki mereka dengan ucapan kotor. Dan menghina istri tuanku yang belum kunjung hamil. 


Ketika ditanyakan alasannya dia mengatakan karena tuanku sering buang dahak. Padahal itu tidak ada, dan aku menyaksikan kebiasaan tuanku. Istri tuankulah yang suka buang dahak ketika gosok gigi di kamar mandi. Tapi aku hanya bisa diam. Ternyata aku tidak bisa menolong penghuniku untuk tetap bahagia. 

Pikirku, mungkin aku dilahirkan hanya menampung manusia-manusia penuh masalah dan konflik. Padahal awal penumpang sementaraku mendiamiku, aku merasa tersanjung dengan perlakuan mereka yang selalu merawatku. Tapi lama kelamaan karena pikiran ruwet orang lain, sehingga pikiran mereka kacau dan kurang sering merawat wajahku yang menjadi halaman depan rumah mereka. Aku sedih kembali. Sudahlah jelek, tidak terawat pula.

Suatu hari tuan semetaraku mengatakan kepada istrinya ingin pindah. Dia curhat atas ketidak nyamanan hatinya lagi. Dan sepertinya istri tuanku setuju. Aku menangis keras-keras. Tapi aku heran mereka tidak mendengar. 

Mereka mulai jarang membersihkan kotoran di belakangku. Jarang memandikan tubuhku dengan air pembersih lantai. Aku melihat kotak-kotak tersusun untuk di isi barang-barang mereka. Mereka benar-benar mau pindah padahal belum waktunya.

Dengan derai air mata aku melepas mereka dan mereka tidak peduli. Saat berangkat mereka menoleh pun tidak. Sekarang aku hanya bisa merindukan mereka. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya rumah yang akan merindukan orang-orang yang pernah memperlakukanku dengan baik.

Artikel Terkait