Hampir setiap hari, saya tak pernah tak mendengar teriakan di dalam rumah saya. Pelakunya siapa lagi jika bukan ibu. Bahkan pernah saya merasa ada dalam posisi “serba salah”. Ingin seharian berdiam diri di kamar, tapi ini merupakan kesalahan yang paling fatal daripada apapun yang ibu saya anggap salah.

Tentu bukan hanya bingung, aneh, kesal dan pusing yang saya rasa ketika ibu berteriak. Lucu juga terkadang. Tidak, ini bukan tanpa sebab. Melainkan karena saya tahu alasan ibu berteriak dan sinis adalah salah satu kebodohan saya.

Tertawa. Itu merupakan salah satu kegemaran saya yang sering membuat ibu sinis selain karena sehabis memasak saya menunda waktu untuk membereskan peralatan masak tersebut.

Entah kapan ibu mulai berpikir untuk mendidik anak-anaknya dengan teriakan yang khas. Saya akui memang cara ibu mendidik anak-anaknya ini berhasil untuk diri saya. Teman-teman dan orang tua teman saya pun tak jarang memuji cara ibu dalam mendidik. Padahal saya selalu menceritakan siapa ibu saya sejujur-jujurnya berdasar fakta yang terjadi dan saya alami.

Ibu-pun sama. Dari cerita orang mengenai ibu, selalu mereka menirukan kembali perkataan ibu lengkap dengan gaya bahasa khas ibu.

Tahu apa yang membuat saya takjub dan berpikir bahwa ibu adalah rumah yang berbeda? Walaupun beliau menceritakan bagaimana anak-anaknya dengan nada yang cocok untuk menceritakan hal tersebut, tak pernah saya mendapat hal selain pujian dari orang yang menjadi tempat ibu bercerita mengenai tumbuh kembang anak-anaknya. Membingungkan bukan? Padahal setiap hari di rumah, saya selalu dibuat pusing dengan ibu yang berpikiran “ kalau anak belum benar ya jangan capek buat kasih tau yang benar”. Perfeksionis sekali ibu.

Selain berteriak, hal aneh yang saya akui membuat ibu dipuji adalah ia cerdas dalam menjadi orang tua lewat gaya mendidik yang menyesuaikan umur dari anak-anaknya. Saya ingat betul saat ada dalam usia kanak-kanak, ibu sering memarahi saya jika saya bersalah. Bahkan sempat beberapa kali, saking ia gemas kepada kesalahan sekaligus kebodohan yang saya lakukan, ia mencubit saya. 

Saya menangis, tentu tidak lama. Ibu akan menjelaskan kenapa ia melakukan hal itu kepada saya, dan alasan ibu masuk akal bagi saya.

Menginjak usia memasuki remaja, ibu jarang memarahi, tetapi saya ingat jumlah tangisan ibu yang disebabkan oleh kesalahan saya sendiri. Itu yang saya lihat, tidak tahu berapa jumlah tangisan ibu yang hanya bisa dilihat oleh tuhan. 

Dalam kurun waktu 4 tahun ke belakang, ibu benar-benar tidak pernah marah. Sekalipun tidak pernah. Hanya berteriak sesuka hati saja pada anak-anaknya dalam mendidik. Membuat rumah semakin ramai karena dipenuhi argumen-argumen pembelaan kedua belah pihak.

Ibu mempunyai tujuan yang jelas dalam bertindak menurut saya. Kadang ia berteriak dalam menyuruh saya sarapan, jelas hal ini sangat masuk akal. Dibalik teriakan mengajak sarapan, ada sayur yang beliau masak guna memenuhi gizi para penghuni rumah. 

Wow! Berkat menu sayur yang ibu masak dari hari Senin hingga Jum’at, sampai saat ini mata saya tergolong mata yang sehat. Berat dan tinggi badan pun proporsional. Jelas ada dampak dari sayur masakan ibu yang saya konsumsi dalam kurun waktu yang ibu inginkan.

Ibu juga sosok yang mengajarkan untuk tidak mengikuti kemauan dengan cara yang membuat bingung. Terkadang ibu tidak membolehkan saya untuk membeli suatu hal, sepatu misalnya. Padahal menggunakan uang saya sendiri. 

Tetapi dalam beberapa minggu kemudian, ibu pasti akan menawarkan  benda yang saya inginkan sebelumnya. Dibelikan pula. Beliau sangat memperhatikan antara kemauan dan kebutuhan kelihatannya.

Ayah jauh berbeda dengan ibu. Tapi tetap sering menyebalkan. Dalam melihat kesalahan, ayah lebih sering memilih untuk bersabar. Sampai pada waktunya tiba ia akan menegur. Wah tentu dengan teguran yang menakutkan. 

Kiranya hanya setahun setengah sekali ayah seperti itu. Tidak akan pernah lebih dan kurang.

Sewaktu saya kecil, botol sirup rasa jeruk lengkap dengan isinya  pernah tak sengaja saya jatuhkan hingga pecah dan isinya tumpah kemana-mana. Tepat di depan ayah. Yang ayah lakukan sangat membuat saya kaget. “Beliau tidak seperti ayah lain yang ada di tayangan-tayangan televisi”, itu yang ada dalam benak saya saat itu. 

Saya tidak diperintahkan untuk membersihkan sisa-sisa tumpahan sirup jeruk tersebut bersama kaca-kaca pecahan botol. Akan tetapi, ayah memerintahkan saya untuk membeli sirup tersebut kembali. Tentu dengan uang yang saya miliki. Untung saja ayah masih ingin mengantar saya ke supermarket tempat pembelian sirup yang saya pecahkan. 

Dua kali kejadian ini terjadi dalam hidup saya, dengan objek berbeda. Saya mengerti, ia sedang mengajarkan saya untuk bertanggung jawab.

Jika saya boleh jujur, ayah adalah sosok yang sangat berarti dalam kesehatan mental saya. Walaupun beliau sering mengomeli saya ketika saya pulang diatas jam 9 malam saat berkumpul dengan teman-teman saya, keesokan harinya beliau tetap menawarkan saya untuk ikut pergi bersamanya ketika beliau punya keinginan untuk mengunjungi pusat perbelanjaan atau tempat-tempat makan di area sekitar tempat tinggal saya. 

Saya akui alasan saya senang berada di luar rumah bersama teman-teman atau “kelayapan” dan sekadar muter-muter kota, tidak lain adalah karena kerunyaman yang saya rasakan dan pendam sendiri.

Ayah juga sosok yang gemar melibatkan istri dan anaknya dalam pekerjaannya. Saking seringnya, orang sampai berpikir bahwa kami sekeluarga senang untuk menghabiskan kegiatan di luar rumah. Padahal, memang benar menemani ayah bekerja. Yang mereka lihat mungkin senang-senangnya saja. 

Di balik itu, ada rasa kepanasan, kesal, lelah, dan pegal. Karena murni memang untuk keperluan pekerjaan ayah. Tetapi saya tetap senang. Berkat ayah, saya paham makna kehidupan sebenarnya.  Tidak melulu mencari bahagia di hal mewah atau mencarinya di sebuah kotak yang isinya penuh dengan harapan orang mengenai sumber bahagia. Cukup berkeliling kota demi kota bersama ayah itu menyenangkan sekali.

Tidak lupa dengan transportasi umum yang sering ayah ajak saya, ibu, dan adik-adik mencobanya. Awal mulanya memang saya kesal, tidak mengerti maksud ayah apa. Padahal ada kendaraan pribadi. Setelah paham maknanya, hati saya hancur. 

Ternyata ini sebab utama saya sangat menyambut kehadiran orang-orang dengan latar belakang berbeda di hidup saya. Yang kebanyakan dari mereka ternyata orang hebat. Ya, dengan transportasi umum itu, saya bertemu banyak orang dengan karakteristik berbeda.

Memang ada rasa terpaksa menerima dan mau tidak mau pada awalnya. Tapi sekarang saya merasa manfaatnya.

Ayah dan ibu memang membangun rumah yang berbeda. Rumah yang tidak pernah menjadi zona nyaman. Tetapi rasa aman tumbuh di dalamnya diliputi dengan rasa ingin selalu berkembang.