Siang ini terasa begitu panas. Teriknya tidak hanya hinggap di ubun-ubun kepala saja, tetapi juga menghujam ke dalam hati. Baru saja seorang anak muda didamprat ibu-ibu paruh baya yang merasa terganggu istirahat siangnya. Tidak ada niat pemuda gondrong itu untuk menggangu si pemilik rumah paling mewah di kampung itu. Namun karena naluri sebagai seorang penjaja suara alias pengamen lah yang menggiring kakinya singgah di rumah warga terkaya itu. Saat melihat pintu gerbang rumah itu terbuka, ia pun dengan santainya memainkan gitar usangnya. Tetapi, bukannya recehan yang didapat. Aryo, nama anak muda itu, malah mendapat omelan yang memerahkan telinga.

            Aryo berlalu saja sambil tersenyum. Rupa-rupanya ia telah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Ia menganggapnya hanya sebagai angin lalu. Cemoohan dan hinaan dari orang-orang yang tidak suka padanya seolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Uniknya, Aryo tidak pernah benci atau mendendam pada orang-orang yang berlaku semena-mena padanya. Selama ini cukuplah senyuman sebagai obat penawar semua kegetiran hidupnya. Selain itu ia juga sadar profesi yang dijalaninya saat ini kerap menimbulkan asumsi dan citra yang kurang baik di tengah masyarakat. Namun bagaimana lagi, untuk saat ini hanya dari ngamen ia bisa bertahan hidup.

            “Kamu kok hanya senyum saja, Yo, tadi waktu kulihat nyonya menir itu melabrakmu?” tanya Dono,salah seorang teman seprofesi Aryo, di sebuah warung kopi.

            “Harus bagaimana lagi, Don, apa aku juga harus marah juga, begitu?” jawab Aryo sambil tersenyum.

            “Kalau aku jadi kamu tadi, sudah saya pisohi, Yo, nenek sihir gendut tadi. Apa tidak bisa bicara baik-baik? kalau tidak ingin memberi uang, ya bilang saja, bukan malah mengomel tidak karuan seperti itu. Dasar, mentang-mentang orang kaya.” Gerutu si Dono.

            “Sudahlah, Don, kenyataanya memang dia lebih berada dari kita. Bahkan levelnya jauuuh di atas kita. Sudah sudah, Tidak usah difikir lagi. Buat apa susah-susah mikirin orang lain, lha wong mikir hidup kita ini saja sudah susah, Don. Hehe...” Canda Aryo mencairkan suasana.

*****

            Siang hari, seperti biasanya. Aryo bersiap untuk berkeliling dari kampung ke kampung. Tak jemu mendatangi rumah-rumah warga untuk sekedar mengais receh. Sebelum berangkat, terlebih dahulu ia mampir di warung kopi Mak Ijah, langganannya. Segera ia memesan secangkir kopi hitam.

            “Dono belum kesini, Mak?” tanya Aryo pada Mak Ijah yang sedang menyeduh kopi pesanannya.

            “Belum, Yo. Mungkin sebentar lagi juga datang. Apa mau tak buatkan wedang kopinya sekalian?” tanya mak Ijah sambil menyodorkan secangkir kopi pada Aryo.

            “Tidak usah, Mak. Nanti kalau tidak datang malah mubazir. O iya, Mak, berapa hutangku di warung ini ya?” tanya Aryo sambil menuang kopi hitam yang masih panas ke lepeknya.

            “Bon sudah tak tulis di buku, Yo. Nanti dilihat sendiri saja.”  Jawab singkat Mak Ijah.

            “Iya, Mak. Terimakasih. Biar nanti saya lihat. Kalau hari ini ada rizki lebih. Semoga bisa segera melunasi hutang di warung ini Mak.”

            “Amiin...” Mak Ijah menjawab sambil meneruskan pekerjaannya.

            Aryo sangat akrab dengan Mak Ijah. Ia sering makan dan minum di warung mak Ijah. Bahkan jika tidak memegang uang. Ia tinggal menulis di catatan bon hutangnya. Aryo yang hidup sebatang kara sejak dulu sangat dekat dengan keluarga mak Ijah.

            Dari warung kopi Mak Ijah, ia seolah menemukan keluarga. Selain Mak Ijah yang selalu pengertian dengan keadaan Aryo, juga ada Dono, teman seprofesinya, yang keakrabannya layaknya saudara sendiri. Usia Dono pun tidak terpaut jauh dengan Aryo.

            Meskipun seorang pengamen. Aryo berbeda perangainya dengan anak jalanan yang lain yang cenderung berangasan. Aryo dikenal sebagai pemuda yang sopan. Jiwa sosialnya juga sangat tinggi. Apalagi terhadap orang-orang yang nasibnya jauh lebih kurang beruntung dibanding dia. Pernah hasil ngamen-nya beberapa hari ia berikan pada Karto, salah seorang teman di jalanan yang tinggal di kolong jembatan, karena temannya tersebut harus dirawat di rumah sakit beberapa hari akibat tabrak lari sepeda motor.

            Tidak hanya itu, dalam seminggu Aryo punya satu hari yang ia khususkan. Ia tidak mengambil sepeserpun hasil mengamennya. Ia serahkan semua penghasilannya pada hari itu pada sebuah Panti Asuhan yang berdiri di desanya. Ia merasa senasib dengan anak-anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang orang tua.

            Setelah lama ditunggu, si Dono belum juga datang. Akhirnya Aryo memutuskan berangkat sendirian. Mungkin si Dono ketiduran, pikirnya. Tidak lupa ia membawa serta senjata andalannya, sebuah gitar usang miliknya yang dulu ia beli dengan cara patungan dengan Dono. Hari ini Aryo memutuskan akan mengamen di kampung seberang bengawan. Jadi ia harus menyeberang melalui jembatan kayu yang konon dibangun pada zaman kolonial Belanda.

            “Mak, ngebon dulu ya, nanti kalau Dono kesini dan tanya, bilang saja aku ngamen di desa seberang jembatan kayu,” ujar Aryo sambil menenteng gitarnya dan segera beranjak keluar dari warung kopi. Mak Ijah menyahut dari dapur warungnya.

            Setelah menyebrangi jembatan kayu, Aryo tiba di sebuah perkampungan. Sebuah mobil melaju cepat melewati Aryo dan menyisakan kepul debu yang berterbangan mengenainya hinga ia terbatuk. Jalanan kembali lenggang. Di musim kemarau seperti ini orang-orang banyak memilih beristirahat di rumah. Mungkin hanya Aryo yang tampak berkeliaran di jalanan yang cuacanya cukup panas ini.

            Setelah melewati beberapa rumah. Di tengah jalan ia melihat sebuah dompet tergeletak. Ia melihat sekeliling. Tidak menjumpai seorangpun. Ia lalu mengambil dompet kulit warna keemasan berhiasan manik-manik itu. Pastilah ini dompet orang kaya, pikirnya.

Karena Aryo berniat untuk mengembalikannya. terpaksa ia membuka dompet untuk mencari identitas pemiliknya. Terlihat isi di dalam dompet, tumpukan uang berwarna merah rapi berjejer. Nampak juga berbagai macam kartu-kartu dan dokumen yang kelihatan penting. Aryo masih mencari kartu identitas. Ia menemukan sebuah KTP. Diamatinya dengan seksama nama dan alamatnya. Ia segera tahu daerah yang tertera di alamat. Sekilas ia melihat foto di kartu itu. Sepertinya  ia kenal dengan perempuan yang ada di kartu itu. Aryo mencoba mengingat kembali. Ia terhenyak. Aryo ingat bahwa perempuan pemilik dompet itu ternyata orang yang pernah mendampratnya tempo hari.

*****

            Sore hari itu tidak seperti biasanya Aryo pulang cepat dari mengamen. Ia berniat untuk mengantarkan dompet pada pemiliknya. Meskipun karibnya, si Dono, menyarankan dengan sangat untuk tidak mengembalikan dompet pada perempuan angkuh itu. Aryo hanya tersenyum menanggapi usulan Dono. Ia tetap akan mengantarkan barang yang bukan miliknya. Bagaimanapun perlakuan pemilik dompet itu padanya, pastilah ia sekarang lagi bingung mencari keberadaan dompetnya.

            Sesampainya di depan gerbang rumah yang dituju. Aryo memanggil-manggil dari luar. Tidak ada yang menyahut. Aryo mengeraskan suaranya. Tetap tidak ada yang menyahut. Pintu rumah masih tertutup. Tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Hampir putus asa. Sekilas ia ingat pesan si Dono agar tidak usah bersusah-susah mengembalikan dompet. Aryo berniat untuk pulang dulu. Dompet itu akan ia antarkan kapan-kapan saja kalau kebetulan lewat.

 Belum sempat Aryo berbalik arah, sebuah mobil mewah datang menghampiri. Rupanya sang pemilik rumah baru saja datang. Aryo menunggu perempuan paruh baya itu turun dari mobil agar ia bisa menyampaikan maksudnya. Tapi ternyata ia salah, perempuan berbadan subur itu hanya membuka jendela kaca mobil dan tanpa sapa langsung memarahi dan mencaci yang sudah dipastikan ditujukan pada Aryo.

“Dasar pemuda malas, bisanya cuma ngamen saja. Cuh, sana cari kerja. Jadi orang itu jangan malas. Lihat kekayaanku, semua kuperoleh dari hasil kerja. Orang malas sepertimu selamanya tidak akan pernah bisa kaya. Aku heran, kamu tidak ada kapoknya ya, tak lihat dari kejauhan tadi kamu celingukan di gerbang. Jangan-jangan kamu mau berbuat jahat ya? Mau mencuri ya? Awas kalau barang-barang di rumah ada yang hilang. Kamu yang akan saya laporkan polisi. Biar tahu rasa. Dasar kere!“ Serentetan kata-kata pedas keluar dari mulut perempuan berdandan menor itu. Wajahnya memerah, matanya melotot hingga mau keluar. Aryo mencoba menyela pembicaraan untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Namun perempuan itu tidak menghiraukannya sama sekali. Setelah supir membuka gerbangnya. Lantas mobil itu melaju ke garasi rumah.

Aryo menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala, Ia tersenyum sendiri. Niat baiknya ternyata tidak tersambut dengan baik. Ia memutuskan untuk tetap mengembalikan dompet yang dibawanya bagaimanapun caranya. Akhirnya ia menemukan cara yang cukup efektif. Dilemparkannya dompet mewah itu jauh sampai ke teras rumah. Tampak perempuan pemilik rumah kaget bukan kepalang. Aryo kembali tersenyum. Dengan perasaan lega, ia kemudian berlalu pergi.

*****

            Seperti sudah menjadi rutinitas. Aryo dan Dono menyambangi warung kopi Mak Ijah sebelum mereka berangkat mengamen. Aryo tidak bercerita pada Dono tentang kejadian waktu ia mengantar dompet. Biarlah ia simpan kejadian yang kurang mengenakkan itu. Yang penting ia sudah mengembalikan barang yang bukan haknya.

            Ditengah-tengah keasikan mereka minum kopi, tak sengaja ia mendengar obrolan orang-orang di warung Mak Ijah. Tentang berita kebakaran yang melahap sebuah rumah paling mewah di kampung sebelah. Kabarnya pemilik rumah itu seorang janda paruh baya pemilik Supermarket ternama di kota besar. Kebakaran yang terjadi cukup besar, sampai penghuninya, orang terkaya di kampung sebelah itu, sampai dilarikan ke rumah sakit terkena luka bakar cukup parah. Aryo dan Dono saling pandang. Keduanya diam tanpa sepatah kata. Tampak kelegaan terbias di wajah Dono. Entah apa yang sedang difikirkannya? gumam Aryo dalam hati. Aryo menuangkan kopi hitam panas di lepeknya. Kemudian menyeruputnya. Ada senyum tersungging di wajah Aryo. Entah makna apa yang terkandung dalam senyum Aryo siang ini.

                                                               

                                                         Lamongan,   Oktober 2019