Di penghujung tahun 2016, sekonyong-konyong teman saya menyodorkan sebuah buku tipis sekira 70 halaman. "Ini buku yang seksi. Kau bisa jatuh hati bahkan hanya dengan sekali tatap." Begitu komentar kolega saya terhadap buku yang ia rekomendasikan itu.

Jatuh cinta pada pandang pertama terdengar sedikit dangdut di telinga saya. Tapi dalam beberapa hal, istilah itu tidak terlalu berlebihan. Maksud sayas ada sedikit benarnya juga. Sebab, ketika melihat judul "Rumah Kertas" dengan sampul yang sedikit banyak mendorong rasa ingin tahu saya mengenai profil penulisnya, dan tentu saja isi dari novel yang tebalnya tak seberapa ini.

Belakangan saya tahu bahwa penulisnya adalah Carlos María Domínguez, diterjemahkan oleh Roni Agustinus dari judul asli La casa de papel. Diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Marjin Kiri pada Oktober 2016.

Saya tidak akan terlalu banyak mengulas keseluruhan buku ini. Mengingat tulisan ini bukan ditujukan untuk resensi. Ketika membaca suatu buku, kadangkala kita terjebak dalam suatu kesadaran belaka. Dan satu-satunya akibat dari kesadaran yang datang tiba-tiba hanyalah penyesalan dan kemungkinan.

Semisal, melalui novel ini, kita diajak melihat bagaimana Carlos Brauer dan Delgado begitu menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku. Brauer memiliki 20 ribu buku yg tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon.

Selain dalam lemari, buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar tidur, di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya. Dan yang lebih gila lagi adalah secara sukarela Brauer memberikan mobilnya ke temannya agar bisa mengisi garasinya dengan buku.

Kegilaan Brauer tidak sampai di situ. Ia juga memiliki cara yang unik untuk menata bukunya. Ia menyusun buku-bukunya sedemikian rupa di atas ranjangya hingga menyerupai kontur tubuh manusia. Selain itu, Baurer juga memperlakukan buku-bukunya seperti layaknya manusia yang memiliki perasaan atau emosi, yaitu menempatkan buku-bukunya berdasarkan sistem kekerabatan atau bagaimana penulis buku memiliki relasi dengan penulis lainnya.

Bahkan Brauer memiliki obsesi yang aneh. Agar puluhan ribu buku-bukunya dapat melindungi dirinya dari angin, hujan, dan keteduhan di musim panas, ia menyuruh para kuli yang membangun rumahnya menggunakan buku-bukunya sebagai ganti batu bata.

Sejatinya, bBauer hanyalah tokoh fiksi rekaan Dominguez. Tapi kita ketahui bahwa sepanjang peradaban ini telah lahir banyak sekali penggila buku. Mengoleksi buku sama halnya dengan mengumpulkan prangko, album musik, jersey tim olahraga, dan lain sebagainya.

Hanya saja, ketika mengoleksi buku kau mendapatkan dua keuntungan. Selain hobimu terpenuhi, kau juga memiliki wawasan yang tidak terlalu sempit. Itupun jika kau melahap semua bukumu, sebab kebanyakan kolektor hanya berniat menyimpan buku-buku langka bukan untuk dibaca. Hingga buku tersebut tak ubahnya kertas koran yang dijadikan bungkus gorengan. Kehilangan esensi. Kemudian dijual pada penawar tertinggi.

Baiklah. Mari kita lupakan kisah Brauer sejenak. Bagaimana angka kasar dari peredaran kertas di Indonesia dan bagaimana masa depan benda yang terbuat dari serat kayu ini.

Total kapasitas produksi pabrik kertas di Indonesia tumbuh besar pada masa 1990-an, naik dari 1 juta ton per tahun pada tahun 1990 ke 5,9 juta ton per tahun pada 2001. Untuk masa tersebut, konsumsi kertas per orang tumbuh tiga kali lipat yang  mencapai hampir 24 kg. Pada 2005, angka tersebut turun di kisaran 20 kg.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengatakan, pada tahun 2013 Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas sebesar 18,96 juta ton.

Realisasi produksi pulp dan kertas masing-masing 4,55 juta ton dan 7,98 juta ton kertas. Dengan kemampuan produksi tersebut Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia.

Sekarang, mari kita berandai-andai. Dengan produksi sebanyak itu, ada berapa ratus ribu pohon yang harus ditebang?

Cara menyelamatkan bumi paling sederhana adalah dengan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan. Dan seandainya kita tidak mampu-mampu amat menanam ratusan pohon untuk keberlangsungan kehidupan di bumi, setidaknya kita bisa mengurangi konsumsi kertas.

Hindari perbuatan seperti Brauer yang mengoleksi ribuan buku. Itu memang bukan perbuatan kriminal. Tapi pada sesuatu yang menyenangkan selalu ada yang dikorbankan. Kita memberi opsi pada orang-orang semacam Brauer.

Untuk membaca, ia tak musti membeli buku berbentuk fisik. Ia bisa mengoleksi jutaan buku dalam perangkat yang bernama komputer. Dengan demikian, ia tak perlu memberikan garasi mobilnya secara cuma-cuma. Sebab bukunya telah tersimpan dengan aman di komputer.

Saya tidak menyarankan Anda berhenti membaca dan mengoleksi buku. Tapi demi keselamatan bumi, hanya ada dua opsi yang paling dominan. Pertama, mulailah menanam banyak pohon dan mengikuti apa yang telah dianjurkan oleh para aktivis lingkungan. Dan kedua, kurangilah membeli buku fisik, dan mulai beralih ke buku elektronik. Selain tidak mengorbankan banyak pohon, buku elektronik juga mudah dibawa ke mana saja.