Penulis
9 bulan lalu · 412 view · 5 menit baca · Buku 18137_50650.jpg
Marjinkiri.com

Rumah Kertas dan Penciptaan Budaya Membaca

Buku adalah produk sebuah kebudayaan dan membaca buku adalah sebuah budaya. Kita kerap terjebak dalam pemahaman bahwa budaya selalu berkaitan dengan segala sesuatu yang bersifat tradisional yang wujudnya berupa kesenian, pakaian, adat istiadat, kearifan lokal.

Kebudayaan tidak bersifat stagnan, melainkan dinamis. Sebagaimana masyarakat berkembang dan bergeser dari pola-pola tradisional menuju modern, maka kebudayaan pun turut berkembang.

Salah satu produk kebudayaan adalah buku yang menyimpan sejumlah pengetahuan, sastra, penemuan, perhitungan, adat istiadat, dan lain-lain. Demikian pula membaca buku—sebagaimana memainkan kesenian tradisional atau melantunkan syair-syair tradisional—adalah sebuah budaya. Hanya tidak semua golongan masyarakat memiliki budaya membaca.

Dari banyak penelitian, budaya membaca kerap didominasi oleh negara-negara maju. Sehingga wajarlah kemajuan sebuah negara dan masyarakatnya dikontribusikan oleh salah satu budaya yang berkembang dalam negara atau masyarakatnya di mana salah satunya adalah membaca buku.

Mudah saja untuk menengarai bahwa membaca buku telah menjadi sebuah budaya di suatu negara dan masyarakatnya. Jika Anda melihat orang membaca buku untuk mengisi waktu luang di bandara, halte bis, stasiun kereta api, selasar gerbong kereta api, maka kegiatan membaca telah menjadi bagian dari kebudayaan.

Sebuah budaya bukan hanya diwariskan dan diterima melainkan diproduksi dan dikonstruksi sedemikian rupa oleh para masyarakat. Membaca sebagai sebuah budaya tentu tidak akan terjadi begitu saja dalam sebuah masyarakat.


Pemangku kebijakan politik dan pendidikan yang mengerti pentingnya membaca tentu akan melakukan sejumlah strategi kebudayaan agar membaca menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang berkontribusi bagi berkembangnya wawasan dan mendorong melakukan berbagai kegiatan eksplorasi.

Namun kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan penciptaan budaya membaca hanya kepada para pemangku kebijakan politik dan pendidikan. Masyarakat dan komunitas-komunitas yang peduli terhadap penciptaan budaya membaca dapat mencari dan menemukan sejumlah inovasi yang mendekatkan setiap orang dengan buku dan mendorong untuk menjadikan buku sebagai bacaan yang mengisi pengetahuan, penjelajahan pemikiran, apresiasi pemikiran, bahkan sekadar mengisi waktu luang.

Buku dengan judul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, novelis Uruguay yang diterjemahkan oleh penerbit Marjin Kiri merupakan sebuah upaya penciptaan budaya membaca yang bernas. Betapa tidak, dalam novel tipis setebal 76 halaman ini, Carlos berhasil mengajak pembacanya tidak hanya untuk menghargai eksistensi sebuah buku, namun juga mengarahkan pembacanya untuk meminati membaca buku-buku.

Empat bab novel dalam novel tipis ini tidak pernah tidak menuliskan dua kata, yaitu “buku” dan “membaca”.

Jika Jostein Gardner dalam bukunya Dunia Sophie hendak mengajak pembacanya untuk mencintai ilmu filsafat dengan kemasan percakapan seorang gadis kecil yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu tentang banyak hal dan menghubungkan dengan pemikiran filsuf-filsuf klasik hingga modern dalam bahasa keseharian yang sarat dengan analogi-analogi, demikian pula buku karya Carlos Maria Dominguez menyisipkan kata “buku” dan “membaca”, baik dalam empat bab novel tipisnya, bahkan dalam karakter tokoh-tokoh yang terlibat adalah para pembaca buku bahkan kutu buku.

Buku Rumah Kertas mengisahkan perihal pencarian tokoh utama dalam novel ini yang tidak disebutkan namanya dari awal hingga akhir kisah, untuk menemukan teka-teki perihal sebuah buku yang tiba di kantornya pasca kematian koleganya di mana dia mengajar.


Tokoh utama dalam novel ini diketahui sebagai seorang dosen sastra di Universitas Cambridge yang selalu menggunakan kata ganti “aku” dan teridentifikasi sebagai teman dari seorang profesor sastra yang meninggal dunia akibat tertabrak mobil bernama Blumma Lennon.

Tokoh utama dalam novel ini adalah sesama dosen yang akhirnya menggantikan posisi Bluma sebagaimana dikatakan: “Akulah yang harus menggantikan Bluma di Jurusan Amerika Latin” (hal 3), namun pernah memiliki hubungan asmara singkat khas budaya sekuler di mana, “Aku berbagi ranjang dengannya bersama dua wakil kepala jurusan dan seorang mahasiswa yang entah bagaimana bisa masuk dalam daftar kami” (hal 5).

Buku tebal dan sedikit lusuh dengan judul La linea de sombra yang dikemas dalam sebuah amplop tanpa sebuah nama dan pengirim, namun di dalamnya hanya menyisakan dua petunjuk yang akan mengarahkan perjalanan sang dosen untuk melintasi kota demi kota memecahkan misterinya. Dua petunjuk itu adalah tulisan Bluma yang berisikan buku ini ditujukan bagi seseorang bernama Carlos Brauer dan sebuah lokasi penanda pertemua mereka, yaitu Monterrey (hal 5) dan “kotoran berkerak”...yaitu “partikel-partikel semen yang meninggalkan debu halus” (hal 4) di meja kantor sang dosen.

Keingintahuannya mempertemukannya dengan dua nama orang yang sedikit banyak mengetahui orang bernama Carlos yang lagi-lagi dua orang ini adalah para pecinta buku yang memiliki koleksi buku yang banyak di rumah mereka, sebagaimana tokoh Carlos yang lebih dari sekedar kolektor dan pecinta buku melainkan “kutu buku” (hal 28). Dua orang yang ditemui sang dosen ini adalah Jorge Dinali, seorang pemilik toko buku di Buenos Aires ahal 16) dan Delgado di Punta Carretas (hal 25).

Penulis novel Rumah Kertas lagi-lagi menyisipkan pesan kepada pembacanya untuk menggilai buku dengan mendeskripsikan dua orang yang mengenal Carlos Brauer sebagai pembaca buku. Hal mana tampak saat mendeskripsikan rumah Jorge Dinali: “Di sini kita semua cinta buku,” imbuhnya sambil menunjuk rak-rak bukunya (hal 19).

Demikian pula saat mendeskripsikan profil Delgado, penulis novel ini menuliskan, “Rak-rak besar berlapis kaca di sekujur dinding, dari lantai sampai ke langit-langit, dipenuhi buku-buku. Dan bukan cuma di ruang ini saja, tapi di sebelahnya juga” (hal 25).

Bahkan ketika Delgado menceritakan perihal Carlos Brauer yang dikenalnya, penulis novel memperkuat kesan seorang kutu bukunya dengan menaruhkan pada bibir Delgado sebuah pernyataan:

“Anak tangga naik ke loteng juga dipenuhi buku-buku dan sastra Perancis abad kesembilanbelaslah yang menemani jam tidurnya yang sudah jarang-jarang itu...Totalnya ia mempunyai begitu banyak buku (saya yakin lebih dari dua puluh ribu) sampai-sampai ruang tamunya, yang sama sekali tidak kecil, akhirnya penuh rak-rak semacam yang ada di perpustakaan-perpustakaan umum” (hal 29).

Dari pengakuan Delgado pembaca perlahan-lahan akan mengerti mengapa novel ini diberi judul Rumah Kertas melalui sejumlah penelusuran sang dosen yang penasaran dengan buku milik Bluma yang dikirimkan Carlos beberapa hari setelah Blua meninggal. Rupanya suatu hari Carlos mengalami peristiwa traumatik yang mengguncang berupa kebarakan kecil akibat kecerobohannya sehingga membakar sebuah daftar indeks buku yang dia kerjakan bertahun-tahun (hal 44-45).


Peristiwa ini membuatnya kehilangan gairah dan orientasi hidup sehingga membuatnya menyingkir dari keramaian dan membeli sebidang tanah di la Paloma dekat pantai dan mendirikan rumah rumbia dengan tembok dari ribuan buku yang dia miliki dan bawa.

Dalam frustrasinya, buku-buku itu dijadikan tembok dan disemen menutupi dan melindungi dari tiupan angin pantai sebagaimana Carlos Brauer berkata, “buku-buku adalah rumahku” (hal 54).

Buku-buku Brauer yang dibawanya dalam frustrasi akhirnya menjadi rumah kertas sebagaimana terucap dari mulut sang dosen pencari teka-teki dari mana buku ini berasal, “Namun rumah kertas di pantai selatan nun jauh itu akhirnya membuatku tersadar akan garus bayang-bayang; dimensi tak terlihat yang menyatukan tekad dan jasad huruf-huruf tercetak di dalam permainan aneh ini” (hal 58).

Buku yang saat mana tiba dalam amplop dengan remahan semen akhirnya terpecahkan berasal dari mana, yaitu dari tembok-tembok buku yang dibongkar oleh Carlos dan ditemukan bersama semen yang mengering. Buku ini dicari karena pada suatu hari Bluma memintanya dari Carlos. Namun, saat Carlos meminta seseorang mengirimkan buku yang diminta, Bluma telah tiada.

Demikianlah kisah dalam Rumah Kertas yang mengantar kita pada sebuah penumbuhan kesadaran terhadap kegiatan membaca yang ternyata bukan hanya mempertemukan kita dengan samudra pemikiran, melainkan menimbulkan sebuah sensasi yang bersifat kontemplatif. Kiranya upaya penerjemahan novel ini oleh penerbit Marjin Kiri menjadi langkah strategis dalam mengonstruksi dan menciptakan budaya membaca masyarakat kita.

Artikel Terkait