Rumah menjadi penanda kedewasaan seseorang. Hal demikian bisa ditelusuri di banyak tata kebudayaan. Di suku Bugis, misalnya, dengan kondisi tertentu, anak yang telah dewasa akan keluar dari rumah.

Bagi yang telah menikah, dorongan membangun rumah baru menjadi tujuan. Memisahkan hal privat dengan rumah (orang tua–mertua) dari rumah yang dulu menjadi habitatnya memulai ruang hidup.

Di fase itu, rumah bergerak dari kata benda menuju kata kerja. Menggerakkan manusia meninggalkan rumah pertama menuju proses rumah kedua. Selanjutnya dirancang ulang lagi. Begitu terus-menerus. Gerak kebudayaan menunjukkan hal ini dan kita bagian di dalamnya.

Mengapa itu terjadi? Gejala umumnya ialah dorongan menyembunyikan privasi tadi. Jika demikian, rumah juga kata sifat. Manusia memerlukan kenyamanan dan ini melengkapi rumah seutuhnya.

Mencermati bentuk rumah yang beragam, itu bukti sahih atas pertautan manusia dengan alam melingkupinya. Model rumah di Minangkabau berbeda dengan rumah manusia Bugis. Perbedaan ini tentu bukan tanpa sebab-akibat. Fase pencapaian kebudayaan manusia mengharuskan mendayaciptakan teknologi tepat guna. Tak terkecuali rumah sebagai tempat hunian.

Rumah orang Bugis dikenal dengan tiga ruang: rawasao (kolong), ale bola, (badan), dan rakkeang (lumbung). Konsep rumah panggung menjadi ciri masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis dan Makassar. Mandar di Sulawesi Barat juga mengadopsi model ini.

Kolong adalah ruang sosial untuk berinteraksi, badan menjadi ruang penghuni rumah, dan lumbung menjadi tempat menyimpan padi. Konsep pembagian ruang tersebut mengakomodasi pergerakan penghuni rumah dalam kultur masyarakat agraris.

Jarak bercocok tanam sekali atau dua kali setahun dan ada masa jeda tiga bulan pascapanen musim kemarau karena menunggu siklus hujan. Di jarak waktu itu, masyarakat lebih banyak di rumah dan menyibukkan diri dengan berkebun dan memelihara ternak.

Interaksi di puncak kemarau dihabiskan di dua ruang rumah: kolong dan badan.. Semuanya sudah diantisipasi dengan ketersediaan pangan di lumbung yang sudah ditaksir dapat mencukupi sampai masa panen selanjutnya setelah musim hujan tiba.

Namun, membaca konsep rumah panggung saat ini sangatlah melankolik. Konsep ruang rumah panggung bergeser seiring kebutuhan ruang. Kolong dan lumbung mengalami alih fungsi dan perlahan mulai mengalami revisi bentuk. Khususnya lumbung yang tidak lagi menjadi tempat penyimpanan hasil panen.

Mengapa demikian? Pertanyaan singkat ini membutuhkan penjelasan panjang dan penelitian mendalam. Sebagai manusia yang lahir dalam kultur Bugis, saya menyaksikan lapisan perubahan ini terjadi.

Pangkalnya bermula dari konsep pertanian. Saya sendiri belum lahir ketika orang tua menciptagunakan bibit padi yang cocok untuk area persawahan. Di tapak waktu ketika sudah bisa terlibat dalam pertanian keluarga, sebutan bibit sudah punya nama tertentu untuk jenis padi. Begitu pun dengan pupuk yang akan digunakan.

Beberapa tahun kemudian, petani perempuan tersingkir dari sawah. Wajah pertanian begitu maskulin. Ini penghancuran kerja kolektif keluarga dalam pertanian. 

Ringkasnya, secara berangsur jenis padi tidak membutuhkan lumbung dalam konsep rumah panggung yang menjadi tempat penyimpanan sekaligus tungku pemanas. Begitu juga siklus alam. Sulit diterka masa hujan dan kemarau.

Hilangnya peran perempuan dan liliput pertanian yang tidak bisa menjadi jaminan di atas berjayanya transaksi ekonomi pertumbuhan menjadi tiket menuju kota mengisi pos kerja. Rumah kehilangan maknanya di tiga kata; benda, kerja, dan sifat.

Selanjutnya, rumah hanya diingat sebagai alamat pulang melepas penat. Lalu, bisakah rumah dijadikan ruang perlindungan ketika jarak sosial diterapkan akibat pandemi virus mematikan? Bagi yang memiliki lumbung ekonomi tentu tidak masalah. Berdiam di rumah pilihan menghentikan laju Covid-19.

Persoalan ini menjadi pelik bagi kelompok sosial yang tidak menikmati siklus ekonomi sekali itu berjalan normal. Fase normal di sini menjadi dua. Sebelum pandemik dan setelahnya.

Berdiam di rumah pada dasarnya merupakan reflektif dari mengolah bumi. Masyarakat agraris telah lama mempraktikkannya. Tentu saja tidak khawatir karena lumbung sudah terisi. Rumah menjelma seutuhnya tiga makna kata: fisik (benda), berdiam (kerja), tenteram–nyaman (sifat).

Berdiam di rumah bukanlah perkara mudah. Ketika imbauan pembatasan sosial, turunannya perlu dibarengi dengan tindakan taktis berupa aktivitas tanggung jawab sosial.  Sejauh ini, kita bisa menyaksikan sejumlah kelompok sosial melakukan respons sosial ini.

Kembali ke rumah sebagai ruang menghindari persoalan pelik menjadi riskan ketika jaminan berdiam diri tidak terpenuhi. Tak semua kelompok sosial mampu menjalaninya. Di fase inilah tanggung jawab sosial dirindukan ketika negara malu hadir.