Banyuwangi terkenal dengan kulinernya. Bagi Anda yang sangat gemar makan dan bepergian, ini menjadi tempat yang sangat menyenangkan karena lidah Anda akan dimanjakan dengan cara yang saksama dan dalam waktu yang tidak sesingkat-singkatnya sebab ada begitu banyak pilihan aneka kuliner.

Ini adalah kali pertama setelah empat tahun merasakan kembali kelezatan rujak soto asli tanah Blambangan. Rujak Soto rasanya tetap menjadi makanan tradisional favorit penulis setelah Iwak Pe goreng yang dipenyet dengan sambal korek atau sambal matah dengan sedikit perasan jeruk.

Terkadang nasi putih dengan taburan bawang goreng di atasnya dapat diganti dengan nasi tiwul atau nasi jagung. Lantas kerupuk rasa gurita atau cumi-cumi di atas piring tersendiri akan turut menambah lengkapnya hidangan.

Dalam kesempatan kali ini, penulis juga berkesempatan menikmati kembali kopi lokal khas lereng Gunung Ijen. Ada kerupuk gurita, tetapi dibumbu balado; dan juga Ladrang, sebuah merek kue yang dibuat dari ketela. Ladrang banyak dijual di outlet dan di toko souvenir. Misalnya, di outlet-outlet yang biasanya juga menjual oleh-oleh asli Banyuwangi seperti batik.

Selain itu, buah naga juga sangat diminati di Banyuwangi, apalagi di musim panen. Menurut penduduk sekitar Stasiun Karangasem yang kini berganti nama menjadi Stasiun Banyuwangi Kota, buah naga dapat dibeli dengan hanya Rp3000 saja. Buah naga sendiri juga diolah oleh penduduk setempat menjadi bermacam-macam jajanan.

Jika Anda selesai melakukan list pada hidangan apa yang ingin Anda nikmati, tinggal Anda menyusur jalanan Banyuwangi. Selain hunting ke beberapa restoran, depot, rumah makan, atau pusat kuliner terdekat, Anda bisa datang ke Festival Kuliner Banyuwangi yang digelar setiap tahun.

Festival Kuliner Banyuwangi dapat menjadi alternatif yang dapat memudahkan Anda menemukan semua makanan yang Anda suka atau ingin coba pertama kalinya. Saat ini sedang berlangsung Festival Kuliner Banyuwangi tersebut hingga 18 Desember 2019. Acara ini diselenggarakan bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi ke-248.

Acara festival ini, bagi masyarakat Banyuwangi, dapat menjadi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga atau kerabat sembari menikmati suguhan acara yang telah disusun oleh panitia atau pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bagi pelaku usaha UMKM, kegiatan ini dapat menjadi promosi produk kuliner dan peningkatan omset usaha. Sementara itu, bagi para pengunjung, dapat menjadi kesempatan menikmati aneka kuliner.

Jika acara Festival Kuliner Banyuwangi terus mendapat perhatian tidak hanya dari komunitas lokal akan tetapi juga komunitas kuliner internasional, mungkin dalam perkembangannya akan menjadi bagian dari Gastrodiplomasi seperti yang dikembangkan oleh Kementerian Luar Negeri. Sebab, saat ini, makanan lokal seperti mendapat sorotan lebih dan menjadi jalur alternatif diplomasi baru. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menaruh perhatian khusus pada kuliner lokal. 

Gastrodiplomasi berasal dari Gastronomi dan diplomasi. Gastronomi berarti perjalanan dari satu daerah ke daerah lain berhubungan dengan makanan dengan tujuan rekreasi. Sementara diplomasi adalah kerja sama dalam konteks antar negara. Gastronomi berarti adalah jalur diplomasi dengan memanfaatkan segala hal yang berkaitan dengan makanan sebagai sarana menyambung kerja sama dalam lingkup internasional. 

Salah satu daerah yang sukses melakukan gastrodiplomasi adalah Padang. Selama empat tahun berturut-turut, makanan khas Padang, yakni Rendang, dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia versi CNN Travel dalam tajuk World's Most Delicious Food!

Selain itu, nasi goreng juga mendapatkan penghargaan serupa. Bahkan nasi goreng juga menjadi makanan favorit mantan Presiden Obama sejak ia tinggal di Jakarta.

Perkumpulan atau grup yang berfokus pada gastronomi di Indonesia bernama Indonesian Gastronomy Association (IGA). Di sinilah orang-orang yang memiliki fokus pada gastronomi berkumpul, sharing, dan mengadakan acara setiap tahun. Lebih sering berkolaborasi dengan beberapa institusi seperti Kementerian Pariwisata.

Mengapa makanan bisa begitu penting? Menurut World Economic Forum, pilihan atas makanan sangat mungkin berpengaruh secara global sama signifikan dengan pilihan kita ketika pemilu nasional. Pilihan kita atas makanan yang kita pilih, setiap pilihan terkait cara mengolah dan cara memproduksinya, akan selalu memiliki konsekuensi sosial dan politis.

Misalnya, jika kita memilih bahan yang murah dengan kualitas produk yang agak rendah akan tetapi dengan memperhatikan keberlangsungan lingkungan, itu secara esensial merupakan keputusan politik. Setiap pengeluaran atas setiap satu produk makanan perlu dipertimbangkan sebagai keputusan politik. What you eat is what you vote for!

Secara konkret adalah di era ketika setiap orang dari komunitas yang mendorong adanya penurunan climate change sebab terjadi prediksi kenaikan suhu bumi 1 derajat, mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi daging adalah hal yang masuk akal. Pengurangan konsumsi daging dapat mengurangi emisi.

Juga gerakan seperti Slow Food Movement yang ada di berbagai negara mendorong kita untuk membeli makanan dari restoran atau warung yang mengolah makanan secara lambat alias tidak instan atau tradisional. Pilihan kita ini akan sangat berpengaruh pada upaya peningkatan kesejahteraan pelaku ekonomi di level grassroots. Biasanya hanya industri besar yang melakukan pengolahan makanan secara instan dan penjualan besar-besaran.

Selain itu, jika kita memilih bahan organik berarti di saat yang sama kita memanfaatkan tanaman dari para petani kecil dan pengurangan penggunaan pestisida yang notabene berbahan zat kimia. Hal ini juga berarti pengurangan terhadap kemungkinan kerusakan tanah dan berarti juga berkurangnya kerusakan pada lapisan bumi.

Ketika Anda memilih bahan organik sebagai bahan makanan, Anda vote untuk climate strike! Jika hal ini dilakukan bersama-sama oleh orang-orang dari berbagai negara dalam kerangka Gastrodiplomasi, maka kita berarti sedang melakukan diplomasi untuk global climate strike.