2 tahun lalu · 483 view · 6 menit baca · Cerpen pexels-photo-38093.jpeg
“Aku ingin menamainya … Semesta.”

Ruang, Waktu, Rahasia, dan Semesta

Ruang dan Waktu dipertemukan di Dimensi setelah keduanya pergi mengembara dari tempat asal masing-masing.

Ruang adalah seorang pengrajin kriya yang berasal dari Dataran Bentuk. Tempat itu berisi orang-orang yang percaya bahwa kehidupan adalah sebuah bentuk besar yang tersusun dari bentuk-bentuk kecil yang ada di lingkungan sekitar mereka. Itulah alasannya mengapa sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pengrajin, yaitu untuk mencari hakikat dari bentuk besar tersebut.

Lain halnya dengan Waktu. Ia adalah seorang penggubah nyanyian yang berasal dari Lembah Alunan. Di sana, orang-orang percaya bahwa kehidupan adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Memahami kehidupan berarti menajamkan jiwa dan perasaan. Maka itulah, mereka berusaha bersatu dengan lingkungan sekitar mereka melalui lagu-lagu dan sajak.

Ruang adalah seorang pengrajin handal yang sudah melihat dan membuat hampir segalanya. Namun, semakin banyak ia melihat dan membuat, semakin besar ia mempertanyakan kesahihan bentuk-bentuk itu sebagai akar pemahaman terhadap kehidupan.

Ketika ia membandingkan patung pahatannya dengan manusia aslinya, ia mulai merasa bahwa bentuk hanyalah cangkang kosong. Maka, ia pun melangkahkan kakinya keluar Dataran Bentuk untuk mencari pemahaman baru terhadap kehidupan.

Waktu mampu menciptakan nyanyian yang liris, menyanyikannya kepada semua orang, lalu menyentuh hingga memutarbalikkan jiwa mereka hanya dengan irama dan kata-kata yang liris dan puitis. Saking indahnya nyanyian buatannya, bahkan jiwanya ikut terpesona dengan karyanya sendiri.

Karena keterpesonaannya itu, ia selalu membayangkan bagaimana sebenarnya rupa dan wujud dari karya-karyanya, namun apa yang ada dalam bayangan tetap berada di dalamnya. Untuk mencari wujud-wujud itulah, ia mengembara.

Adalah Ruang yang sampai terlebih dahulu di Dimensi empat puluh hari setelah ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat asalnya. Dimensi adalah sebuah tempat yang hanya didiami oleh pepohonan. Ruang yang merasa sudah lama mengembara, akhirnya memutuskan untuk menetap dulu di sana. Harapnya, dalam kesendirian, ia bisa menemukan pemahaman yang ia inginkan.

Ia pun membangun sebuah gubuk kecil dari kayu yang ia ambil sendiri dari pepohonan di sekitarnya. Setelah enam hari lamanya, gubuk kecil itu siap, sama siapnya dengan dirinya untuk hidup dalam kesendirian. Namun keesokannya, dari kejauhan, ia melihat seseorang berjalan mendekat. Dialah Waktu.

“Permisi, apakah kamu penghuni tempat ini?” tanyanya kepada Ruang yang masih terpana akan apa yang dilihatnya. Setelah tersadar, dengan buru-buru ia menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Waktu.

“Ah, bukan. Aku baru sampai di tempat ini seminggu yang lalu. Namaku Ruang, dari Dataran Bentuk, kamu?”

“Aku Waktu, dari Lembah Alunan. Salam kenal,” jawab Waktu dengan manis. Ruang tersenyum agak kikuk dan diam sementara. Waktu pun kembali memecah keheningan.

“Gubuk ini milik siapa?” tanyanya.

“Aku yang membangunnya sesampainya aku di disini,” jawab Ruang.

“Wah, hebat! Boleh aku melihat-lihat ke dalam?”

“Ah, tidak ada apa-apa di dalam kecuali barang-barangku…”

“Tidak apa-apa! Aku hanya ingin melihatnya.”

Waktu tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat bagian dalam gubuk kecil Ruang. Ia mengatakan bahwa untuk sesuatu yang dikerjakan hanya dalam waktu sekitar seminggu, gubuk kecil itu begitu rapi dan indah. Dindingnya halus, dan susunannya begitu nyaman dipandang.

Sesaat, Waktu menutup mata dan menghirup aroma kayu yang memenuhi gubuk kecil itu. Dan dalam sekejap, sebuah lagu ia gubah dan ia nyanyikan. Sebuah lagu tentang rumah kecil yang menyejukkan jiwa yang berada di dalamnya. Ruang yang ketika itu mendengarnya seakan diterpa angin yang sangat sejuk dan terhenyak.

“Indah… sekali…,” ujarnya. Tanpa ia sadari, rupanya ia sudah terbaring di lantai gubuk kecilnya. Waktu terkejut dan membungkuk ingin membantu Ruang, namun ia menolaknya dengan halus dan berdiri.

“Ma-maaf… aku kelewat gembira. Selama ini, aku hanya terus menggubah nyanyian tanpa mengetahui bagaimana wujud mereka di dunia nyata. Sekarang, aku menggubah sebuah nyanyian dari suatu keindahan yang ada di depan mataku. Seakan, aku sudah mengetahui wujud dari laguku sendiri,” ujar Waktu sambil tersipu.

“Aku tidak tahu bahwa kriya yang kubentuk memiliki makna dan keindahan yang begitu dalam sehingga tidak bisa dinyatakan dengan wujud. Aku selalu mengira bahwa segala hasil karya yang kubuat hanyalah cangkang-cangkang kosong,” balas Ruang dengan suara agak mengambang. Keduanya saling berpandangan, saling malu, dan tertawa kecil. Pada saat itu, tanpa kata atau ucapan, keduanya menyatakan keinginan untuk selalu bersama.

Maka, dimulailah hari-hari keduanya dalam Dimensi dengan masih dipenuhi dengan karya-karya. Ruang semakin bersemangat membuat kriya-kriyanya, dan nyanyian Waktu tidak pernah sebegitu indahnya. Ketika Ruang usai membuat sebuah kriya, Waktu akan menggubah nyanyian darinya, dan begitu pula sebaliknya; Ruang akan membuat kriya yang ia dasari dari nyanyian buatan Waktu.

Dimensi menjadi begitu ceria, indah, dan sejuk. Pepohonan yang terus diambil kayunya oleh Ruang tetaplah—malah semakin—rindang, dan tidak jarang hewan-hewan kecil ikut menikmati karya-karya keduanya. Setelah hampir tiga tahun lamanya mereka bersama, lahirlah karya mereka yang teragung; seorang anak manis yang mereka beri nama Rahasia.

Rahasia adalah anak istimewa. Ia jarang berbicara, namun begitu baik hati dan santun. Ia juga mewarisi bakat kedua orang tuanya dengan begitu ajaib. Adalah Waktu yang melihatnya pertama kali ketika ia masih berusia tujuh tahun.

Ia melihatnya membuat sebuah benih, meniupkan apa yang terdengar seperti nyanyian ke benih itu, lalu menanamnya di depan gubuk kecil mereka. Keesokannya, benih itu tumbuh menjadi tunas. Dan dalam seminggu, tunas itu sudah menjadi pohon. Rahasia mampu membuat sesuatu dan meniupkan jiwa ke dalamnya melalui gubahan sebuah nyanyian.

Ketika Rahasia sudah remaja, pohon itu tumbuh menjadi sangat besar, rindang, dan tinggi hingga hampir mencecah awan. Selain pohon itu, Rahasia juga membuat beberapa serangga dan hewan kecil yang akan hidup di dahan-dahannya seperti serangga dan tupai.

“Sungguh indah. Kamu beri nama apa karyamu ini?” tanya Ruang.

“Aku ingin menamainya… Semesta,” jawab Rahasia dengan lugu dan berbinar.

Kehidupan tetap indah bagi ketiganya sehingga pada suatu hari, dua keramaian datang dari dua arah berlawanan menuju tempat mereka. Tidak bisa tahan dengan keramaian tersebut, Ruang dan Waktu keluar gubuk mereka, dan betapa kagetnya keduanya ketika melihat bahwa dua keramaian itu berasal dari tempat asal mereka masing-masing. Keramaian itu tak kalah kaget menemui keduanya, namun mereka bisa menguasai diri masing-masing.

“Kriya pohon yang luar biasa ini terlihat dari tempat kami. Ini pasti lambang kehidupan. Kau adalah pengrajin terhebat kami, bukan? Apakah kau yang membuatnya? Tidak ada pohon asli yang semegah ini, maka hanya tangan seseorang yang sudah memahami bentuklah yang bisa membuatnya,” ujar keramaian Dataran Bentuk.

“Bukan! Pohon ini hidup dan tumbuh! Lihatlah batangnya, daunnya, segalanya! Pohon ini bukan cangkang kosong, melainkan sebuah jiwa yang sudah diguncang sedemikian rupa oleh penyair terhebat kami!” ujar keramaian Lembah Alunan.

Keduanya pun bertengkar, Ruang dan Waktu mencoba melerai. Dalam kekalutan itu, Rahasia keluar gubuk ingin menunjukkan karyanya yang baru saja selesai ia bentuk, menarik perhatian semua yang ada disana. Sambil ia keluar, ia meniupkan sebuah syair kepada bentuk itu, dan bergeraklah ia memanjat Semesta. Semua terdiam, dan kembali ribut.

“Lihat anak itu! Ia membentuk sesuatu dan menghidupkannya! Pastilah tangannya yang membentuk kriya pohon itu! Dia sudah menemukan bentuk besar kehidupan!”

“Tidak! Bukankah kau melihatnya meniupkan sesuatu dan menghidupkannya? Apa yang ia pegang adalah suatu wujud jiwa, bukan cangkang kosong! Ia menggetarkan jiwa itu sehingga ia kembali bergerak!”

Dalam keributan itu, Rahasia gelagapan, tidak mengerti. Pada saat itulah Ruang berteriak, “Rahasia! Panjatlah Semesta dan hiduplah di dahannya yang teratas!”

Rahasia pun berlari dan mulai memanjat dengan begitu cepatnya. Saking cepatnya sehingga kedua keramaian yang juga ikut memanjat untuk mencarinya kehilangan dirinya. Namun mereka tidak menyerah dan terus memanjat, sebab hanya ketika mereka mendapatkan Rahasialah, mereka bisa membuktikan siapa yang benar.

Ruang dan Waktu hanya bisa menunggu di bawah, tidak sanggup untuk menebang pohon itu dan menamatkan segalanya. Mereka lebih memilih untuk menunggu takdir yang menamatkannya; mungkin nanti, ketika salah satu dari dua keramaian sampai di dahan teratas Semesta, atau ketika Semesta jatuh dengan sendirinya.

Namun kapankah itu dan di manakah dahan teratas itu?