Harap

Pukul 00.00 aku simpan harapku

Menaruhnya di lemari hati

menutupnya sangat rapat biar tidak ada yang mengintip apalagi mencuri

sampai malaikat datang menggondolnya diserahkanlah pada Tuhan

Tuhan mengiyakan, dan saat pukul 05.30 kau tepat di samping ku!


Cerita

Tetap melangkah di jalan mu

Jelajahi duniamu

Aku pun begitu

Tapi janji, nanti kita ceritakan itu

anak-anak kita, kalau tak mesti sama untuk bersama. Akan lebih banyak kisah yang bisa kita ceritakan, lalu jika sempat kita tulis, agar cerita ini tidak berhenti di sini.


Panutan

Paling tidak sejauh ini kau mengajarkanku cara untuk cermat, cara untuk merendah, cara untuk sabar, dan cara untuk menempatkan hal-hal penting pada tempatnya. Walaupun pada akhirnya kau bukan takdirku tapi kau adalah bagian dari alur cerita yang mampu memperbaiki sifat dan sikapku.


Waktu 

Waktu tidak pernah menunggu

Dia berjalan tanpa melihat

Yang lalu ditinggalkan

Yang datang tak teramalkan


Tidurlah!

Kau sudah terlalu lelah

Raut wajah sumringahmu tak bisa membohongiku

Masih ada hari esok jika memang kau masih ingin mengejar mimpimu

Istirahatlah!

jauh lebih berharga kesehatanmu

mimpi yang kau tuju takkan kemana

Dia ada tepat di depanmu


Menyelinap

Menyelinap di sela-sela detik yang berputar

Merambat disetiap petikan senar gitar

Berbunga saat rindu dan memanen saat bertemu.


Grayang

Puan, saat angin malam menggerayangi wajahku dan diginnya menusuk pori-pori. Mataku tidak sanggup lagi menopang beratnya kantuk, tulang-tulangku bergesek mengeluarkan angin dari setiap sendinya. Di sela-sela itu aku mengukir sajak untukmu sebagai doa sebelum tidur.


Bunga

Saat bunga yang lain mekar

Ia menjanjikan harum yang semerbak, tapi kau tidak! Kau mekar dan tidak menjanjikan apa-apa. Sejak saat itulah aku berusaha untuk membuat mu tetap mekar agar aku terbiasa hidup dengan kenyataan bukan dengan janji yang masih dugaan.


Imaji

Hening seketika saat kau tak lagi bicara

Hingga tidak ada ruang untuk suara lain menyelinap

Dingin menusuk sampai ke urat saraf

Merangsek merusak imaji yang terdalam

Seketika musnah dalam keheningan

Gugur

Disetiap kata-kata yang tertunda

Terselip resah yang tak bertuan

Gugur perlahan menjadi rindu.


Posesif

Keseharianku dihiasi dengan politik, buku-buku, diskusi, menulis, perdebatan tentang siapa yang benar, cara mencari makan, musik, puisi, gambar, alam, cita-cita menjadi orang hebat, asmara yang berantakan, keringat yang berserakan, tawa yang tulus walau terkadang terlihat munafik, teman yang solid ada juga yang tidak, tentang idealisme dan realisme, tentang HMI, dan Ciputat yang semua sudutnya adalah kita. Rumit? Mungkin.


Memahami

Sekarang bahasamu mulai ku pahami

Dan aku merasa belumlah pantas

Khawatir mimpiku memberatkanmu

Cukup aku yang menanggung bebannya

Mungkin jika aku selesai dengan beberapa mimpiku dan aku merasa sudah pantas maka izinkan aku kembali itupun kalau kau mau dan belum ada yang lain.


Perayaan

Di setiap gerakan ku yang tak sempurna

Arah yang tidak selalu tepat

Waktu yang sering terloncat

Aku merayakan cinta dengan sederhana

Yaitu dengan doa dan air mata


Egois

Kau cerdas aku tak menolak itu, sayangnya kau egois. Entahlah mungkin itu hanya perasaanku karena memang justru aku yang egois. Ingat usia kita bukan lagi remaja, tidak perlu banyak drama karena kita hanya butuh kata yang sama, berjalan bersama meski bukan di tempat yang sama.


Media sosial

Dia hanya muat sekian spasi

Tidak muat untuk semua konsepsi

Seringkali kita berspekulasi

Merasa pendapat kita sudah mencukupi

Komentar menumpuk tak terkendali

Dari sana dunia terlihat kecil sekali

Itulah media sosial yang sekarang digandrungi.


Anomali Informasi

Dimensi teknologi

Banjir informasi

Banyak kontradiksi

Yang banyak jadi tereduksi

Yang tereduksi jadi anomali

Yang anomali dipersekusi

Demi eksistensi

Hati nurani mati