Pada tulisan sebelumnya, saya menyentil persoalan rokok dan pengendalian bagi para perokok. Pengendalian telah banyak dilakukan melalui ragam metode, mulai dari yang paling santai dan tidak santai.

Pengendalian tidak lebih merupakan ikhtiar bukan pencinta rokok untuk menjauhkan para pecinta rokok dari rokok (semua hal yang berkaitan dengannya). Pencinta dalam tulisan ini saya maksudkan hanya menggambarkan bahwa ada orang-orang yang tidak akan rela berpisah darinya (rokok), apa pun yang terjadi. Mengingat banyak waktu yang telah mereka (rokok dan orang) lalui bersama, baik suka maupun duka.

Sementara, bukan pencinta adalah mereka-mereka yang secara keimanannya, mengamini bahwa rokok hanya akan mengantarkan seseorang pada jalan kesesatan (tidak sehat). Bagi mereka, rokok tidak hanya menyesatkan (tidak sehat) tetapi juga dapat menyebabkan KANKER (kantong kering).

Bayangkan saja, rokok dengan harga beli hampir mencapai 25K (rokok premium). Jika 1 bungkus dihabiskan hanya 2 hari saja, maka seberapa dalam kantong bocor untuk memenuhi kebutuhan rokoknya dalam 1 bulan? Setidaknya hal ini cukup ditakutkan bagi para istri-istri bersuamikan perokok.

Lain soal bagi pecinta rokok. Rokok diyakin justru tidak menyebabkan KANKER. Beberapa di antara mereka memperoleh hal positif dari rokok. Kita mungkin cukup familiar dengan pernyataan ketika merokok aktivitas berpikir lancar dan selalu ada inspirasi baru.

Belum lagi ketika rokok dikombinasikan dengan kopi hitam/kopi susu, maka kenikmakatan dan kenyamanan mana lagi yang kau dustakan. Di sinilah letak puncak kenikmatan dan kenyamanan beberapa isapan rokok dan dilanjutkan beberapa teguk kopi hitam. Mungkin karena efek candu dari puncak kenikmatan ini, sehingga apa yang dibenci oleh bukan pencinta rokok dan harus dijauhi, justru dianggap angin lalu.

Apa yang dialami oleh pencinta ini seperti kenikmatan dan kenyaman bukanlah kondisi subjektif, melainkan kondisi biologis yang terjadi kepada siapa pun, terkhusus para pencintanya. Sensasi nikmat dan nyaman merupakan peran-peran dari senyawa bernama nikotin. Nikotin sendiri senyawa yang terdapat pada tumbuhan tembakau.

Untuk menciptakan sensasi tadi, nikotin bekerja dengan menstimulasi produksi dopamine yang berlebihan dari kebutuhan tubuh (walaupun dalam kondisi normal tubuh telah memproduksinya). Dopamine sendiri merupakan senyawa yang berperan mengatur kognisi susunan saraf pusat, termasuk di dalamnya daya ingat, emosi, rasa senang, pergerakan, dan tidur.

Jadi, ketika kadar dopamine cukup tinggi, maka akan selaras dengan peningkatan rasa senang dan rasa-rasa lainnya. Singkatnya, akan tercipta kondisi seorang pencinta akan terus-menerus mencintainya (rokok) dan tidak akan melepaskannya. Namun, menurut para bukan pencinta, justru kondisi ini yang harus diperangi.

Dan soal ikhtiar menjauhi rokok dari gaya hidup masyarakat, malah menimbulkan diskusi dan wacana lain, yaitu pertarungan perebutan ruang publik. Apakah ia milik kelompok masyarakat tertentu saja atau milik masyarakat secara keseluruhan? Ataukah terdapat ruang publik khusus yang akan terbentuk dari perjuangan kelompok khusus ini? 

Habermas meyakini ruang publik sebagai ruang yang mandiri dan terpisah dari negara (state) dan pasar (market). Ruang publik memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses untuk menjadi pengusung opini publik. Opini publik ini berperan untuk memengaruhi, termasuk secara informal, perilaku-perilaku yang ada dalam ‘ruang’ negara dan pasar[1].

Ruang publik mengisyaratkan keterbukaan informasi, rasionalitas, dan proses-proses yang komunikatif. Namun, agaknya bangunan konsep ini sangat ideal untuk beberapa konteks. Artinya, sangat sulit untuk negara dengan bentuk-bentuk negara tertentu seperti monarki. Namun, bukan menjadi jaminan jika negara demokrasi adalah kondisi ideal untuk konsep ruang publik.

Faktanya, sejak Indonesia mendeklarasikan kembali kelahirannya pasca runtuhnya ORBA, demokrasi menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi setiap warga negara. Justru negara malah menjamin sebaliknya. Beberapa hak berekspresi dikebiri.

Seperti pada beberapa kasus. Pada peraturan pemerintah RI (Republik Indonesia) No 109 tahun 2012 mengatur pengendalian rokok dan seluruh aktivitas yang berkaitan dengannya. Tidak hanya sampai di situ, telah banyak perangkat dan kondisi-kondisi yang diciptakan negara untuk menggiring opini publik, sebagai upaya memengaruhi kesadaran dan perilaku1.

Seperti kampanye-kampanye antirokok. Program penelitian/riset tentang bahaya rokok dan merokok. Bahkan sampai konfrensi untuk membahas persolan rokok dan merokok juga tidak luput dari ikhtiar negara. Massive-nya gerak ini, maka yang ada adalah hadirnya privatisasi ruang publik (tempat umum, ruang interaktif) melalui monopoli wacana dan informasi oleh negara.

Ruang publik telah mati dan digantikan oleh negara? Ataukah negara hanya ingin menciptakan alternatif?

Melalui peraturan pemerintah No 109 tahun 2012 tersebut, sebenarnya pemerintah hendak menciptakan ruang publik (tempat umum) khusus bagi para pencinta rokok, yaitu penyediaan ruang-ruang khusus bagi para perokok di ruang publik (tempat umum). Dan juga saya yakin bahwa ruang publik alternatif ini hanya untuk memastikan para pencinta rokok dapat diorganisasi dan dalam kendali oleh negara.

Referensi :

[1] Subijanto Rianne, 2014. Ruang publik dulu dan sekarang. Indoprogress, 2014.