Apa yang kamu inginkan dariku?” Meski tak menatap, tetapi pertanyaan itu tajam. Hal mendasar dari perbincangan panjang yang belum menemukan tepi.

Aku tidak ingin apa-apa darimu, selain satu hal.”

Jep, dengar ya! Aku tidak ingin mengubah semuanya.”

Pria yang dipanggil Jep itu tersenyum. Kecut.

Lagian siapa yang ingin mengubah keadaan. Tidak ada!”

Berarti sudah dong, selesai !”

Pernyataanmu ini yang kuanggap bahwa kita tidak pernah selesai Lia.”

Ini bukan dialog kisah cinta remaja yang sedang berselisih paham karena cemburu, lantas putus. Sama sekali bukan. Ini juga bukan kisah yang menceritakan tentang romantisme ala film-film Korea. Apalagi itu, sebagai penulis, aku tidak banyak mengikuti kisahnya. Kalaupun ada, itu hanya kebetulan. Ketika melewati ruang keluarga, tidak bisa tidak karena para gadisku sedang menikmati tontonan itu. Aku paling ikut nimbrung barang lima sampai tigapuluh menitan. Terpaksa.

Oke Kembali ke soal dialog di atas, sebenarnya ini soal apa? Meski bukan kisah romantis, tetapi betul, ini soal cinta. Tidak mesti kan jika bicara cinta itu harus selalu membahas romantisme.

Intinya, ini soal pengakuan. Pengakuan yang menurutku sangat penting, sebagai pelengkap yang menyempurnakan perjalanan hidup seseorang. Jika kalian memaksa seseorang itu siapa? Baiklah, aku jujur seseorang itu adalah aku, iya diriku sendiri. Akulah pria yang dipanggil Jep itu.

Aku bahagia menjalani hidupku saat ini. Meski bukan pengusaha, tetapi setidaknya kini aku punya keberanian untuk mengklaim bahwa aku ini orang kaya. Punya anak-anak yang cantik dan istri yang mencintai. Itulah hartaku, penyemangat yang membuatku rela pergi pagi dan pulang petang. Menunaikan tanggungjawab kepala keluarga. Meski jika kupikir lebih lanjut, semua itu absurd. Karena aku menjadi punya sedikit sekali waktu untuk mereka yang kucintai itu. Ada beberapa hal yang menurutku paradok.

Aku tidak ingin membahas tentang itu, tidak terlalu punya pengaruh signifikan untuk menjelaskan  topik pengakuan yang kubahas dalam tulisan kali ini. Mungkin lain waktu aku akan menceritakan absurd dan paradok yang aku maksudkan itu. Tunggu ya.

Aku percaya cinta. Buktinya, kini aku punya orang yang kucintai dan juga mencintaiku. Aku juga percaya, jika cinta juga selalu mewarnai perjalanan seseorang di setiap fasenya. Setidaknya dengan begitu, cinta membuat orang menjadi dewasa. Meski faktanya, cinta juga yang membuat orang tidak pernah menjadi dewasa, bahkan ketika mereka telah menua.

Inilah yang selalu mengganggu perjalanan hidupku. Karena, aku sering merasa ada yang hilang dalam perjalanan hidupku. Ada lubang menganga yang perlu ditambal agar hidupku menjadi sempurna, sehingga kebahagiaanku itu genap. Bukan ganjil seperti yang kini sedang kurasa alami.

Aku benar-benar ingin tahu tentang cinta di masa laluku. Menemukan jawab atas misteri yang selama ini masih tersimpan sangat rapi. Bahkan berkali-kali aku selalu gagal mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Lia, bukanlah gadis biasa sejak pertama kali aku melihatnya. Tetapi juga jangan dikira dia adalah gadis bionic yang punya kekuatan super. Bukan itu yang aku maksud. Tetapi, dari caranya menatapku, sejak awal dia sudah membuatku sakit kepala.

Bukan magician, tetapi dia selalu mampu menghipnotisku, membuatku tidak berdaya. Bahkan, sebagai demonstran, aku seringkai harus terbata-bata di depannya. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang ia miliki. Terutama untuk menyerangku, meski aku yakin dia tidak pernah menganggapku musuh yang sedang mengincar benteng pertahanannya.

Fakta-fakta inilah yang kemudian membuatku menyimpulkan, aku jatuh cinta padanya. Celia.

Minggu, bulan, bahkan tahun aku bertahan dari gempuran perasaan itu seorang diri. Membiarkan perasaan itu melambungkanku setinggi mungkin. Bahkan Ketika rasa itu terjun bebas, aku masih bisa menikmatinya. Seperti bermain roller coaster saja. Aku hanya berharap ia tahu. Karena aku percaya, cinta itu bukan tentang kata-kata. Tetapi rasa yang disatukan karena getaran dalam gelombang frekuensi yang sama. Dari cara Lia memperlakukanku, aku yakin kami berada di kisaran frekuensi yang tidak jauh beda. Walau memang, seperti radio, kadang masih ada bunyi kemreseknya juga.

Lia, itu misteri. Memahaminya terasa sangat menyiksa. Melebihi beban skripsi yang semasa proposal di tolak berkali-kali oleh dosen pembimbing. Anehnya, semakin berat beban untuk menanggungnya, semakin aku takut kehilangan beban itu.

Tatapan matanya, senyumnya, perhatiannya padaku tidak pernah bisa kusimpulkan jika ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Itu semua membuatku ragu, mengaku dan kehilangan semuanya, atau membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Toh, jika jodoh, tidak akan kemana-mana kan?

Bersamanya, aku merasa kesepian. Terasing dari perasaanku sendiri. Menciptakan puluhan, mungkin juga ratusan prasangka. Hingga akhirnya Lia benar-benar menghilang. Tanpa ia pernah tahu bagaimana perasaanku padanya. Meski seharusnya ia bisa melihat dengan perasaan dihatinya. Sekali lagi, aku percaya, cinta itu bukan soal kata-kata.

….

“Jep, kamu sudah bahagia kan?”

Aku mengangguk.

“Lantas untuk apa semua ini?”

“Ini bukan tentang hari ini Lia, tetapi tentang masa lalu. Aku tidak ingin ada yang hilang dari setiap masa dalam perjalanan hidupku. Itu yang aku mau.”

“Kamu masih saja menjadi laki-laki paling egois yang pernah kukenal.”

“Kamu yang pergi dariku Lia, bukan aku.”

“Iya, karena kamu hanya percaya pada pikranmu sendiri. Paham!”

Aku hanya terdiam, kali ini Lia menatapku. Tatapan itu masih bertuah, membungkam otakku. Berhenti berpikir.

Aku melangkah gontai, pertemuan kali ini masih tidak mampu menyingkap misteri yang pernah tersimpan di kepalaku. Setelah berpuluh tahun yang lalu.

Aku kini tidak lagi sendiri, ada seseorang yang kucintai, pun mencintaiku. Karena Lia aku belajar, cinta itu kombinasi, kata-kata, perbuatan dan kehendak ilahi. Lia pun begitu, ia kulihat Bahagia dengan keluarganya, aku tidak tahu apakah aku pernah membuatnya belajar sesuatu. Itu juga yang aku ingin tahu.

Beberapa hari lalu aku menemukannya, tanpa pernah kuduga. Bagiku ia milik masa laluku. Tetapi rasa itu timpang, selama aku belum tahu apakah aku juga milik masa lalunya. Aku hanya ingin tahu itu. Tidak lebih, dan sama sekali tidak pernah berkeinginan untuk mengubah keadaan yang kini sedang kujalani. Aku sudah bahagia dengan hidupku. Aku hanya ingin mengisi ruang kosong masa lalu itu.

Bip,.. hape,  ku bergetar. Ada pesan masuk di whatapps. Notifikasi menunjukkan nama pengirimnya. Celia.

Dasar laki-laki bodoh !

Itu pesan yang kubaca. Kini aku pun tahu apa yang tersirat dari kata-kata itu. Aku lega, karena kini aku merasa perjalanan hidupku sempurna.