Delapan

Delapan
Kaki laba-laba
Menjaring getar semesta
Membisik tentang angin dan hujan

Belalang, kupu-kupu juga kumbang
Aku, kamu, dia dan mereka
Bisik itu kini bertapa
Merayap, kering di kakinya
Menunggu, menunggu dan hanya menunggu
Hidup dalam api semantik yang baru

Angin kencang datang
Laba-labaku terbang
Tiada tentu arah melayang

Belalang banyak hilang
Pergi dari pucuk-pucuk ilalang
Mantra legam sehitam arang*


Taman Besi

Kepada kecoak selokan
Kutitipkan untukmu tanya
Petuah warna tetap elegan
Walau hidup berkalang nista

Kepada bunga Kersen
Yang layu, terinjak digigit Codot
Izinkan aku belajar darimu
Tak menjerit melihat alam bekerja

Kepada tong sampah
Ajari aku untuk tabah
Dari karat besi sampai noda darah
Yang tak pernah kau minta dalam untaian doa*


Jeda

Aku sore untuk mengaku fajar
Menjamu dusta bentara mimpi
Ikut melamun di beranda

Bincang dini hari akal frustrasi
Aku terlalu lambat mengejar matahari
Anganku belok di kanan-kiri

Luruh, embun renjana segelas Wisky
Menghapus kenangan usai nan basi

Karma tak lagi berpihak padaku
Susu jadi nila saat kusentuh
Kukejar mimpi, dia menjauh
Menari di atas lukaku
Atau memang ini ilusi mentah

Akulah si badut durjana!
Sibuk mengutuk ceramah
Yang percaya pada syair samskara*


Gayatri

Bagaimana bisa aku
Menyeduh rindu tanpa mengenal rupa
Bagaimana bisa aku
Meneguk sengsara tanpa tahu mana yang dosa

Aku tak mampu memilah mantra
Semua kata memilih untuk sama
Nasib menggerogoti atma
Lewat sisa alunan semesta darma

Aku hanya tak tahu
Menjadi manusianya manusia
Mengasihi banyak disakiti
Berbagi harap, atas kecewa*


Kota-Kota

Salahku
Salahnya
Salah kau
Salah kita
Salah mereka
Salah manusia
Salah roda samsara

Darah sama merah
Tulang sama putih
Hidung sama pesek
Rambut sama legam
Kaki sama cetek
Lidah sama cadel

Mujur yang tak sama
Tak-tak, tak sama kenyang
Tak-tak, tak sama lapar
Tak-tak, tak sama senang
Tak-tak, tak sama sukar
Tak-tak, sama bodoh
Tak-tak, tak sama pintar

Indra menjerit saat kau mulai menggantung langit*


Serigala

Mula-mula, kau malu-malu
Lama-lama menipu, mau-mau
Diam-diam mencuri pandang
Mata setajam pedang

O, niskala!
Semena-mena rencanamu atasku
Bertitah sesukamu supaya aku menderita
Memancang gelisahku bagai paku buana

Gaia adalah ibuku
Akulah sang raja!
Raksasa tersedak aksara
Saat kumulai menikmati duka*


Beringin

Aku mengembara dalam sukma
Pada pukul satu pagi
Kudapati sepasang angsa menari
Anggun di atas danau kelabu

Di bawah purnama
Mereka bagai sepasang dada wanita
Membutakan mata ketiga
Juga kening yang tak licin lagi

Beringin yang mulai basah
Aku berteduh di bawahnya
Hatiku menggigil nyeri
Tak lihai menari di atas duri*


Epilog

Aku tabu bicara abu
Monyet mencari cara
Di bawah pohon Ara menanti
Kisah yang pernah ada
Tertinggal di dalam dada
Membaca hati-hati
Menyusuri nirmana
Bergumam sampai esok
Dalam damai monolog
Menyeduh teh untuk prolog
Berbunyi kipas mono
Sedih diam-diam datang dengan sembrono*


Api

Banyak susahnya
Banyak muramnya
Banyak sakitnya
Banyak muaknya
Banyak kecewanya
Banyak sengsaranya

Lihat pelan ke dalam matamu
Setitik cahaya memantulkan wajah
Air muka selembut sutra yang tak pernah kau kenali
Melihat kau suka bekerja
Melihat kau suka mencari
Letak suara-suara yang tak pernah ada
Bunyi nyaring setajam taring
Saat kantuk mulai bekerja*


Tersesat

Sore membuka tirai
Terkembang bulan
Terbang, Dara menghias langit
Menjejak, kapal di atas kertas

Angin magrib, membawaku
Sampai di Anatolia
Bersama gonggongan Kangal
Ke kastil kecil di Istanbul

Pagi membawaku ke Ave Maria
Camar Ionia menelanjangi langit
Nelayan menjaring kata-kata
Yang pernah tumpah ke laut tanpa permisi*


Durjana

Di luar sana
Kehilangan kerja
Kehilangan dana
Kehilangan raga
Kehilangan rupa

Sendu, pilu, ragu menegur
Minggu kehilangan minggunya
Kehilangan rindunya
Kehilangan ruhnya

Senin yang merindu
Minggu telah direnggut darinya
Minggu kini tak pernah berlalu*


Mata-Mata

Mata, mata-mata
Ada mata di kakimu
Ada mata di rambutmu
Ada mata di lututmu
Ada mata di ujung kukumu
Ada mata di pusarku
Ada mata di kepalaku
Ada mata di jemariku
Ada mata di hidungku
Ada mata di tangga
Ada mata di jendela
Ada mata di atap
Ada mata di lantai
Mata, mata-mata*


Asin

Kamu cantik
Bisik tuan pada abdinya
Di ruang sunyi tanpa saksi
Elegi berputar memantik api

Kamu ini bodoh
Kata tuan pada cintanya
Mendidih nadi menahan luka
Bercumbu pilu atas harapnya
Ketelanjangan yang tak lagi memuaskan
Sukma lestari tak tergenapi
Kasar diracik waktu yang asam
Langit murung menghitam
Merpati ikut muram

Kamu ini cantik
Tak serumit trigonometri
Sesederhana semak Lantana
Violet anggun, sedikit gatal banyak rupa
Kata tuan pada pacarmu
Pada waktu yang pahit di atas ranjang
Ikan-ikan murung merindu langit*

--- Jakarta, 11 Mei 2020