Tanggal 22 Mei kemarin, Hari Keanekaragaman Hayati. Saya baru tahu ketika kemarin pergi bersilaturahmi ke sekertariat Sukarelawan Montana di Cibodas, Bogor, Jawa Tengah. Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Tujuan saya sebenarnya datang dari Malang ke Bogor hanya jalan-jalan. Tapi bagi saya jalan-jalan saja terasa membosankan. Apalagi bagi mahasiswa seperti saya yang memiliki banyak waktu luang dibanding dengan orang-orang yang sudah bekerja.  Seperti tidak etis jalan-jalan saja tanpa mendapatkan apa-apa.

Waktu itu bersama Sukarelawan Montana saya dan beberapa teman saya mendapat ilmu. Informasi tentang tumbuhan-tumbuhan yang bisa dikonsumsi dihutan dan beberapa jenisnya yang bisa menjadi obat beberapa penyakit. Selain itu kami juga sempat berdiskusi mengenai 'alam Indonesia'. Terutama tentang perkembangan sumber daya alam di daerah perkotaan.

Beberapa berpendapat; "solusi terbaik memang lokasi pemukiman tidak terletak didaerah yang  rawan bencana". Atau biasa dibilang, 'tempat yang seharusnya tidak diberdirikan rumah malah diberdirikan rumah'. Dimana lokasi tersebut memiliki potensi yang sangat tinggi terjadinya bencana alam. Beberapa yang lain menambahkan; "seharusnya pemukiman disitu dipindah saja." Nah, dari opini tersebut timbul tanya. Dipindah kemana, dan apakah mereka mau?

Sementara memindahkan pemukiman warga tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh dana yang sangat besar. Anehnya pembangunan di Indonesia tidak ter-cover dengan baik oleh pemerintah. Sementara solusi yang dikerahkan harus dari pemerintah. 

Sebenarnya disini kita tidak juga sedang mengkritik pemerintah. Namun ranah tersebut merupakan posisi paling tepat sebagai penggerak perubahan. Sayangnya tidak banyak orang yang memiliki peran dan kendali diposisi itu mampu menjadikan dirinya sebagai agent of changed. Karena mungkin struktur dan tatanan kerjanya memang sudah dari dulu berbentuk seperti itu. Seperti air yang jatuh terus kebawah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Setinggi apapun itu, tetap sebutannya jatuh.

Menurut saya sendiri, dari pengamatan dan pengetahuan yang saya miliki, kaca mata saya melihat bahwa segala kekurangan dan ketidaknyamanan ini berasal dari 'materi pendidikan yang ada di Indonesia'. Mungkin memang sudah banyak orang menyadarinya. Kita butuh dobrakan lebih dari dalam diri kita sendiri. Tapi dari mana kita akan memulainya? Semua orang bingung. Bapak Mentri Pendidikan bingung, Presiden pun bingung. 

Setiap orang memiliki persepsi berbeda-beda terhadap gambaran pendidikan yang ada di Indonesia. Orang-orang yang punya wawasan lebih mengenai sistem pendidikan di negara-negara tetangga mungkin lebih paham soal ini. Bahwa ada cara yang lebih efektif dan konkret untuk di implementasikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Hanya saja, dobrakan itu masih belum ada yang memulai. Bahkan susunan kabinet Indonesia yang baru saja diganti baru-baru ini.

Jiwa-jiwa demontsran yang ada dilingkungan kita mungkin sudah lelah. Bukan berarti mereka ingin tetap bungkam. Hanya saja kebingungan itu sudah menjalar ke dalam pikiran para pendobrak pemerintahan. Mungkin karena sudah terlalu banyak rusaknya. Alhasil setiap satu kepala memiliki pertanyaan yang sama; Kita harus perbaiki yang mana dulu?.

Indonesia punya banyak hutang. Semua warga negara Indonesia mungkin mengetahui hal tersebut. Tapi sayangnya kita tidak mau tetap mandiri dan berusaha memegang kendali atas hak kepemilikan kita. Mungkin karena Indonesia masih punya trauma dari masa penjajahan sebelum kemerdekaan. Trauma itu menjadi terikat dalam jiwa negeri yang katanya 'Ibu Pertiwi Menangis'. Sekali-kali menurut pendapat saya pribadi, berhentilah bersusah hati dan belajarlah bebas dari keterpurukan. Kita butuh lagu nasional baru yang cocok untuk menggambarkan situasi yang sekarang. Yang mampu memotivasi. Sebuah proses healing yang dilakukan lewat nyanyian.

Dengan jiwa yang sehat, proses berpikir menjadi fokus dan terarah dengan baik. Kurang lebih nya kita tidak akan salah mengambil keputusan disaat keadaan sedang menekan kita. Atau setidaknya tidak membuat para pemilik jiwa yang sehat keluar dari ruang paripurna karena kita tidak menemukan sisi positifnya. Sementara kita pemilik jiwa yang sakit berada diruangan tersebut, mendengarkan keputusan dan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak terlalu bisa kita pahami, kemudian meng-iya-kan segala hal yang sebenarnya sedang tidak ingin kita setujui. 

Sistem nya rusak, menjalar pada keputusan-keputusan yang akan di implementasikan kepada anak didik, lingkungan hidup, dan peradaban Indonesia di masa mendatang. Kita kekurangan guru dan kelebihan profesor yang bicara omong kosong. Semua orang saling menggurui sementara tidak ada yang ingin duduk dikursi pelajar.  

Alhasil, tidak akan ada banyak perubahan kearah kemajuan. Kita masih merangkak maju pelan-pelan sementara negara yang lain sudah berdiri dan memulai perjalanan. Apakah berarti kita bodoh? Tidak. Sistem pendidikan yang dinilai kurang tidak bisa mengurangi potensi setiap anak. Kita hanya kurang memberinya kesempatan untuk melangkah maju menunjukkan apa yang sebenarnya mereka miliki, kemudian memberikan mereka tempat bermain untuk mempraktekan bidang yang mereka sukai. 

Anak-anak mungkin bosan dengan alokasi dana yang itu-itu saja. Mereka sudah sangat cerdas menilai bahwa tidak semua penerima beasiswa pantas mendapatkan bantuan yang sama. Layanan pendidikan juga tidak begitu membuat mereka tertarik untuk belajar. Bukan salah mereka juga jika kehilangan minat untuk masuk sekolah tepat waktu. Hanya saja sekolah menjadi tempat membosankan ditahun-tahun belakangan ini, dan itu tidak bisa kita pungkiri.

Kita menargetkan masa depan. Maka kita harus merawat bibitnya. Secara realistis, tumbuhan yang sudah tua semakin minim menumbuhkan buahnya. Mengibaratkan Indonesia yang 'sudah tua' dan orang-orang yang duduk dikursi pemerintahan. Para pelopor negeri yang berjalan bersama sejarah 45 sudah sesepuh digantikan agen baru yang belum tentu menjanjikan apa-apa dimasa mendatang. 

Karena realita nya kita saat ini kesulitan memperbaiki yang rusak, maka kita membentuk peradaban baru dari perubahan zaman modern yang belum benar-benar kita wujudkan. Kita membentuk Agent of Changes yang sedang kita lihat saat ini sudah tidak main layangan. Memberi bekal lebih mengenai prediksi iklim dan cuaca dimasa mendatang, perubahan lingkungan dan sosial, kerusakan alam dan isu-isu lain yang mampu mendorong mereka melakukan tindakan yang belum pernah kita lakukan. Tentu demi kemajuan bangsa Indonesia kearah yang lebih positif dari saat ini. 

Dengan demikian, tugas kita saat ini memiliki misi penting untuk peradaban Indonesia ditahun-tahun berikutnya. Tugas dan kewajiban yang diemban setiap anggota yang duduk dikursi parlemen untuk calon anggota ditahun-tahun berikutnya. Yaitu misi yang lebih mudah dibaca arah dan tujuannya oleh orang banyak, termasuk para orang tua yang duduk dirumah menyaksikan media masa, sehingga dari sanalah mereka juga mulai mempersiapkan diri untuk berperan sesuai dengan hak dan kewajibannya pula.