Kesuksesan seseorang sering kali dikaitkan pada persoalan ekonomi dan pekerjaan yang ahli pada bidangnya. Terwujudnya pekerjaan dan karier yang dapat membanggakan, terlebih itu dapat memberikan nilai ekonomis yang tinggi pada diri sendiri maupun orang lain.  

Dengan adanya karier yang hebat, maka tentu sangat mendorong pada pertumbuhan dan perkembangan hidup yang berjalan lancar. Di mana akan lebih kecil porsi kehimpitan dan kekurangan ketika ingin mewujudkan suatu impian. Karena biasanya karier juga sangat mendukung untuk memberikan nilai ekonomis yang dapat dibanggakan.  

Namun pada konteksnya, kadang kala salah sangkah mengenai karier dan hobi. Menyamakan dan menyandingkan diantara keduanya pada proses kehidupan manusia. Ya, walaupun memang disadari bahwa tercapainya suatu karier tentu sangat didukung dengan hobi yang ia miliki. Karena apabila sudah hobi, maka tentu akan mempermudah untuk berjuang dan menggapai karier yang diimpikan.  

Asumsi tersebut ada benarnya, namun tidak boleh dibenarkan seratus persen. Kerap kali terjadi kalau hobi seseorang tidak mesti beriringan pada kariernya nanti. Walaupun asumsi tersebut minoritas terjadi di lapangan, tetapi begitulah juga faktanya. Hehehe.  

Seperti halnya dengan dunia kepenulisan yang masih menuai banyak tanda tanya saat ini. Mengapa? Karena acap kali terjadi nasib penulis terkadang tidak mendapatkan royalti yang selayaknya atas pengorbanan dalam menciptakan suatu karya tulisan. Faktanya bahwa pekerjaan menulis butuh kerja keras dan pengorbanan pikiran, waktu, tenaga bahkan uang, namun royaltinya masih sangat minim. Apalagi kalau tidak punya kualitas dan popularitas di mata publik maka tentu banyak tantangannya, kecuali bagi mereka para penulis yang sudah terkenal, itu beda lagi ceritanya.

Baru-baru ini hangat menjadi bahan perbincangan di media sosial mengenai bisnis buku bajakan. Menurut pribadi saya, perbincangan tersebut lebih banyak mengkritik para penjual buku bajakan, di mana mereka dengan mudah bisa mendapatkan royalti yang menjanjikan. Karena bisnis tersebut tidak ada campur tangan dari negara apalagi kritik dari kalangan aktivis.

Namun, pada intinya isu tersebut mempertanyakan nasib penulis. Para penulis buku yang berkarya dengan pengorbanan luar biasa, akan tetapi bukunya dengan mudah dapat dijual pada versi bajakan dengan harga murah. Alhasil, royalti kepada penulis dan penerbit tentu lebih sedikit ketimbang orang-orang yang berbisnis buku bajakan.

Ya problem ini, menurut pikiran pendek saya masih sangat pradoks. Mengapa? Kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia masih sangat rendah mengenai mintat baca dan menulisnya. Dengan penjualan harga buku yang mahal, tentu akan lebih menyulitkan membeli buku apalagi sampai membacanya. Boro-boro membeli buku mahal, buku murah saja banyak mikir, bagaimana ceritanya dapat menumbuhkan minat baca. Wqwqwq.  

Kebayang tidak kalau harga satu buku berkisar seratusan, tentu golongan masyarakat bawah akan berpikir banyak untuk membeli, kebutuhan sandang pangan saja susah kok. Hal tersebut jelas berpengaruh pada minat baca masyarakat, karena tidak mungkin juga membeli buku kalau tidak akan dibaca, bagaimana bisa baca kalau minatnya saja tidak ada. Hehehe

Emm, kalau pun dipaksakan untuk menghilangkan penjualan buku bajakan karena harganya yang murah, maka tidak menutup kemungkinan minat baca masyarakat juga akan menurun. Karena kondisinya buku akan semakin mahal dan sulit didapatkan secara gratis. Gratis saja susah apalagi kalau sudah memakan banyak biaya, tentu butuh kerja keras lagi dalam menumbuhkan minat baca.  

Makanya, peran penting negara atas problem tersebut perlu hadir untuk memberikan solutif. Peran negara harus mensejahterakan para penulis sembari meringkus penjual buku bajakan, dan disisi lain juga dapat menumbuhkan minat baca masyarakat. Dan salah satu faktor kecilnya yakni sumber bacaan dan buku-buku dapat diakses dengan mudah oleh siapa pun, kalau perlu itu digratiskan, tanpa mengurangi royalti kepada penulis dengan selayaknya.

Kalau menulis dijadikan sebagai pekerjaan utama untuk dapat menghasilkan uang banyak, tentu butuh perjuangan dan kerja keras. Saya pikir jika hal tersebut dijadikan sebagai kebenaran umum, maka tentu menulis bukan lagi bekerja untuk keabadian, tetapi bekerja untuk kehonororan.  

Apa yang dikatakan salah satu penulis tersohor Indonesia yakni Pramoedya Ananta Toer, bahwa "menulis bekerja untuk keabadian" bisa saja musnah pada zaman ini. Padahal maksud tersebut mengaitkan kalau sejatinya menulis bekerja untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan dengan ikhlas dan sabar.

Makanya, bagi saya menulis itu hanya sekedar hobi, bukan karier apalagi dijadikan sebagai pekerjaan utama. Menulis hanya ingin mengekspresikan apa yang dirasakan terhadap suatu persoalan. Memberikan argumentasi dengan fakta-fakta yang sebenarnya kepada publik untuk dapat membuka kebenaran secara objektif. Bukan malah menjadikan menulis sebagai lahan bisnis.

Dengan demikian, menulis mestinya bekerja dengan ikhlas untuk memberikan kebermanfaatan kepada banyak orang. Menjadikan aktivitas menulis sebagai hobi agar lebih nyaman dan enak untuk mengerjakannya. Karena jika sudah menjadi hobi maka tentu pengorbanan akan lebih ringan kita rasakan dan ikhlas untuk bekerja.