97133_58562.jpg
media.iyaa.com
Politik · 5 menit baca

Roy Kiyoshi, Karma dan Politik

Selama empat bulan terakhir ini, pemirsa televisi Indonesia disuguhkan sebuah reality show menarik bergenre mistis dan supranatural di stasiun televisi ANTV. Acara ini bernama Karma, ditayangkan secara reguler setiap hari mulai pukul 22.15 WIB hingga selesai, dipandu oleh host tampan Robby Purba dan seorang pria indigo bernama Roy Kiyoshi. 

Acara ini bisa dikatakan sukses karena berhasil mencuri perhatian semua kalangan masyarakat. Akun instagram dunia_tv misalnya, yang merilis daftar rating acara-acara televisi populer, pada awal Maret lalu menyebutkan bahwa Karma sukses bertengger di posisi puncak dengan angka rating 4,2 persen dan share 25,8%, mengalahkan sinetron-sinetron unggulan yang ditayangkan oleh stasiun televisi lainnya.

Karma sejatinya tak orisinil ide anak negeri. Acara ini bisa dikatakan “mencontek” program televisi Thailand berjudul Secret of Numbers yang diproduksi oleh Workpoint Entertainment.  Namun terlepas dari hal tersebut, Karma yang rutin mengunjungi pemirsa televisi setiap malam ini memang menghadirkan sebuah gaya penyajian yang berbeda. Jika kita, mungkin, sudah merasa muak dengan acara-acara kerasukan makhluk halus, uji nyali, kunjungan ke tempat-tempat wingit dan sejenisnya yang disajikan bak kacang goreng di beberapa stasiun televisi swasta, Karma menghentak dengan gaya yang berbeda.

Coba anda saksikan sendiri, para peserta dijejerkan berdasarkan tanggal lahir, eksistensi seorang pria indigo yang memiliki kemampuan melihat masa lalu dan masa depan berdasarkan angka, lokasi syuting dengan interior yang “murung” untuk menambah kesan magis acara, plus host dan artis pendukung yang memiliki wajah yang elok, sebagai penyeimbang suasana kelam yang diusung acara ini. Sebuah kombinasi yang klop, menghadirkan hiburan dan sensasi tersendiri.

Tulisan ini tak hendak menjadi ajang promosi gratis atau endorse untuk acara Karma. Saya hakul yakin, tanpa endorse dari saya, Karma sudah beken dengan sendirinya. Saya hanya tergelitik dan sedikit bermain dengan imajinasi liar saya, bagaimana jadinya apabila “fitur-fitur menarik” dari acara ini saya kaitkan dengan konteks politik nasional akhir-akhir ini, seperti maraknya komentar kontroversial dari dosen-dosen keblinger, gelar sastrawi bertajuk puisi yang sukses memproduksi kemarahan publik, sumbu politik yang meningkat terkait calon-calon presiden untuk 2019, hingga gelaran pilkada serentak yang tinggal beberapa bulan lagi.

Yang menarik dari acara ini, pertama adalah sosok Roy Kiyoshi. Sosok indigo ini mengingatkan kita pada sosok terkenal lainnya, Mama Lauren yang wafat pada 2010 silam. Pada masa hidupnya, Mama Lauren kerap dimanfaatkan jasanya untuk meramalkan situasi dan kondisi tanah air, mulai dari bencana, tokoh-tokoh penting hingga situasi politik. Salah satu ramalannya yang jitu adalah prediksi mengenai Tsunami di Aceh dan hadirnya sosok pemimpin muda baru sebagai presiden pada 2014.

Seperti halnya Mama Lauren, Roy Kiyoshi juga demikian. Sebelum terkenal, ia pernah meramal akan terjadi bom besar di Bali, hilangnya pesawat di Perairan Majene, hingga letusan Gunung Sinabung dan Kelud. Tak selamanya akurat, Roy pernah keliru memprediksi siapa yang menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017 yang akhirnya dimenangi oleh pasangan Anies dan Sandi. Sesuatu yang bisa dimafhumi, karena Roy adalah manusia biasa, sama seperti kita.

Yang menarik adalah, saya jadi berandai-andai bagaimana jika para peserta Karma adalah para kontestan Pilkada serentak, politisi Senayan, pejabat negara, hingga mereka yang mengikuti kandidasi Pilpres 2019 nanti. Mungkin ini sedikit absurd, tapi menilik kapasitas kesadaran politik masyarakat Indonesia dewasa ini yang minim dan gencarnya dramaturgi politik yang diproduksi para pejabat publik, rasanya pengandaian ini menemukan relevansinya.

Rakyat Indonesia, yang mungkin alergi dengan politik, butuh “fakta telanjang” tentang siapa sosok jujur yang harus mereka pilih pada Pilkada serentak nanti, siapa wakil rakyat yang benar-benar amanah menjalankan tugasnya atau sekadar bualan dan omong kosong di sidang parlemen, serta siapa yang benar-benar memiliki rekam jejak bersih, keberanian yang kuat, serta komitmen melayani segenap rakyat Indonesia pada Pilpres 2019 nanti. 

Menarik untuk melihat bagaimana Roy Kiyoshi membaca mereka, memancing mereka berbicara jujur, atau menyentil mereka bila berani berdusta. Ide ini saya pikir gila dan menarik, bahkan jauh lebih menarik dari sekadar berbicara mengenai pengabdi setan, pelaku ritual gaib, korban guna-guna, pelakor, pebinor dan sejenisnya.

Mari kita tilik gelaran Pilkada yang sudah memasuki tahap kampanye dan debat publik mulai dari 15 Februari hingga 26 Juni 2018 nanti. Setiap calon atau pasangan calon berupaya mati-matian untuk meyakinkan pemilih bahwa mereka adalah jawaban atas segala aspirasi dan keinginan akan hidup sejahtera, adil, makmur dan sentosa yang belum tercapai selama ini. Beragam visi-misi didedahkan, bahkan tak jarang menambahkan “micin” agar terasa lebih gurih di mata dan telinga publik. Motivasinya hanya satu, rakyat datang ke bilik suara dan mencoblos mereka pada hari-H nanti.

Kondisi ini sejujurnya mengkhawatirkan apabila dimamah oleh kelompok masyarakat yang belum teredukasi baik secara politik, khususnya masyarakat miskin dan kurang terdidik. Fakta banyaknya wakil rakyat dan pejabat publik yang ditangkap KPK karena beragam kasus korupsi menunjukkan bahwa rakyat keliru dalam memilih wakil-wakilnya. Dramaturgi dan sandiwara politik yang disuguhkan pada masa kampanye suskes mencuri suara rakyat. Rakyat dikomodifikasi, aspirasi mereka dibenamkan pasca pemilu hanya untuk kejayaan pibadi para calon dan partainya. Ini terjadi karena rakyat negeri ini kesulitan dalam menilai kejujuran dan kebersihan hati calon-calon wakil dan pemimpin mereka.

Saya juga berandai-andai apabila dua orang dosen keblinger yang dengan lancang dan lancung menyebut kitab suci itu fiksi serta suara azan tak suci hadir sebagai peserta Karma. Menarik bagaimana seorang Roy yang indigo memancing mereka untuk berbicara jujur, apakah kata-kata yang melontarkan murni akademis seperti yang diutarakan oleh para pendukung mereka di dunia maya, atau penuh muatan politis dan sarana eksistensi diri di ruang publik. Menarik juga menyaksikan bagaimana seorang Roy yang indigo bisa menceriterakan kepada publik kadar ketulusan seorang penyandang nama besar Soekarno yang dengan tega menyebut suara kidung lebih merdu dari suara azan.

Fakta-fakta tersebut apabila berhasil diungkap akan menuntun kita pada “fitur menarik” yang kedua, yakni terminologi karma sendiri. Seperti kata yang kerap diucap oleh Robby Purba ketika memulai acara, “apa pun yang Anda lakukan, akan berimbas pada apa yang Anda alami saat ini.” Dengan kata lain, karma adalah balasan kontan yang diterima oleh seseorang karena amal baik dan buruk yang pernah ia lakukan.

Dalam konteks politik, kita bisa belajar dari beberapa fakta bahwa beberapa koruptor yang sudah dibui akhirnya wafat karena menderita sakit keras, kombinasi penyakit dan depresi parah yang mereka alami. Ini karma riil, balasan kontan di dunia, selain tentunya azab di akhirat kelak. Dari acara ini, mereka yang berstatus sebagai kandidat kepala daerah pada Pilkada Juni 2018 atau kandidat presiden pada Pilpres 2019 nanti seyogianya dapat menarik pembelajaran bahwa ada “karma politik” yang menunggu mereka apabila tidak ada simetri antara janji kampanye dengan realisasi dan kontekstualisasi pada saat mereka menjabat, wallahualam bissawab.