Ahmad pulang ke kampung halamannya di Magelang, Jawa tengah, untuk merayakan Hari Raya Idul fitri untuk merawat ibunya yang tinggal sendirian sejak kematian ayahnya, Pak Selamat. 

Keadaan di kampungnya tidak banyak berubah walaupun hampir bertahun-tahun dirinya menetap di United Kingdom.

Ahmad sempat menunaikan solat hari raya di masjid Al-Ikhlas setelah ia tiba di kampungnya itu. Dia mengobrol dengan Pak Imam yang sudah lama tidak mengobrol sebelum berangkat pulang ke rumahnya.

Ahmad teringat kembali sewaktu dirinya kelas 3 awal mula berteman dengan seorang anak Cina yang bernama Mei.

Kehidupan Mei berubah selepas kematian ayahnya. Ibunya berubah mejadi seorang peminum minuman keras untuk menghilangkan tekanan dalam hidup.

Kehidupan Mei amat susah sehingga pada suatu hari, Mei telah mencuri roti canai yang dibeli Ahmad di Gerai Mr.Raju sewaktu Ahmad jatuh dari sepeda. 

Ahmad mengejar Mei sehingga sampai di depan rumah Mei.

“Kenapa kamu curi roti canai aku ? ”, tanya Ahmad kepada Mei.

“Aku lapar”, jawab Mei.

“Mana ibu kamu, Mei ? ”, tanya Ahmad lagi.

Mei terdiam....

“Ni, ambilah roti canai kamu. Dasar Pelit!“, kata Mei.

Disitulah bermulanya pengenalan Ahmad dan Mei sebagai kawan baik.


Pada keesokan harinya, Ahmad bertemu Mei di tepi sungai berdekatan dengan rumah mereka. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing. 

Ahmad memberi roti canai yang dibelinya kepada Mei kerana dia kasihan melihat Mei yang selalu kelaparan.

“Ini roti canai”, kata Ahmad.  

“Buruk siku kamu itu”, kata Mei.

“Buruk siku itu apa? “ tanya Ahmad.

“itulah mengapa kamu tidak terlalu banyak mengulas. Hanya bermain saja yang kamu tau. Buruk siku itu peribahasa”, kata Mei.

“Tidak ada orang yang ingin mengajariku. Aku tidak pintar. Ayah dan ibuku sibuk bekerja”, kata Ahmad.


Ahmad tersentak kerana mendengar bunyi bising selepas melamun panjang mengingati kejadian 20 tahun semasa duduk di atas kursi di hadapan rumah Mei.

Ahmad berjalan pulang ke rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Mei. Semasa di ruang tamu, sekali lagi Ahmad termenung mengingat semua kenangan bersama Mei.


Ahmad dan Mei selalu menikmati roti canai bersama-sama di kantin pada waktu istirahat. Mereka selalu mengulang kembali pelajaran bersama-sama. Kadang-kadang Mei tidak hadir ke sekolah. 

Pada suatu hari setelah selesai waktu sekolah, Ahmad melihat Mei yang ingin meminum air pipa di kantin sekolah karena sangat lapar dan Ahmad segera menghalangnya. 

Mei tidak ada duit untuk membeli makanan dan minuman kerana ibunya jarang bekerja dan duit dihabiskan untuk membeli minuman keras saja. 

Mei berniat untuk bekerja supaya dapat meringankan beban yang terpaksa ditanggung. Namun dia tidak punya ide dan begitu juga dengan Ahmad. Tapi mereka berfikir akan berniaga roti canai kerana mereka berdua amat menggemari roti canai itu. 

Mereka segera ke gerai Mr.Raju untuk belajar cara membuat roti canai. Pada mulanya Mr.Raju tidak setuju tapi niat baik mereka berhasil membuat Mr.Raju setuju untuk membantu mereka menjalankan perniagaan tersebut. 

Mereka berusaha untuk belajar cara membuat roti canai di rumah Ahmad pada pukul 3 petang. Tunggu, tunggu, Mr.Raju tidak datang lagi.

“Kapan kita ada anak perempuan ini ?”, tanya ibu Ahmad.

“Ahmad, siapa itu ?”, tanya ayah Ahmad.

“Ini Mei, teman Ahmad”, jelas Ahmad.

“Tidakpapa tante dan om, saya pulang dulu”, kata Mei.

“Mei, tunggu dulu”, kata Ahmad.


Keesokannya di sekolah pada waktu istirahat...

“Ini roti canai! Makan lah”, kata Ahmad.

“enak banget roti canai ini”, jelas Mei.

“Roti canai ni aku buat sendiri. Hebatkan aku”, bangga Ahmad.

“Tak percaya aku,tapi bagaimana kamu membuatnya ?”, tanya Mei.

“Adalah, Rahasia! petang nanti kita belajar cara untuk membuat”, kata Ahmad lagi.


Petangnya mereka mencoba membuat roti canai dan sebuah resep tercipta secara tiba-tiba pada saat Ahmad menumpahkan serbuk milo di atas roti canai semasa dia akan membuat air milo. 

Mereka mengawali eksperimen dengan bahan-bahan yang terdapat di dapur itu. Mereka mencuba roti canai dengan milo, roti canai dengan sereal, dan roti canai dengan pisang. Dan semuanya sepadan. 

Tapi mereka tidak punya tempat untuk menjual roti canai tersebut sehingga Ahmad memberitahu Pak Imam yang mengajari Ahmad mengaji di masjid pada setiap petang. Pak Imam membiarkan mereka berjualan di depan masjid. 

Penjualan mereka mendapat sambutan yang baik dari orang kampung. Sedikit  demi sedikit dapat membantu kehidupan Mei. 

Mei kerap menemani Ahmad ke masjid untuk mengaji dan Mei ikut pula membaca tafsir Al-Quran. Dan akhirnya Ahmad khatam Al-Quran sejak mereka berjualan di masjid. 

Jika ibu Mei bisa tahu bahwa anaknya itu berjualan di masjid, ibunya selalu marah dan selalu memukulnya. 

Ibunya merasa kecewa dan malu karena dialah yang sepatutnya bekerja bukannya Mei. Oleh sebab itu, Mei dilarang untuk berjualan dan berteman dengan Ahmad lagi. Tapi, Mei tidak peduli. 

Setelah pulang dari berjualan, Mei dan Ahmad terkejut melihat pintu rumah Mei terdapat cat merah. Mei berlari masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan ibunya. 


Mei dan Ahmad tidak bertemu selama beberapa hari karena ibu Mei tidak mengizinkannya. 

Ada sekumpulan lelaki merusak gerai roti canai mereka di masjid pada waktu malam. Mereka merasa sedih tapi mereka tetap kuat dan semangat dengan kata-kata “Yang Penting Usaha”. 

Mei mengenali mereka itu dan mereka menyuruh Mei memberitahu ibunya supaya melunaskan semua hutang yang lama tertunggak.


Lamunannya terhenti kerana kedatangan guru Haniff ke rumahnya dan banyak perkara yang mereka bicarakan, termasuklah kejadian 20 tahun lepas...


Ibu bapa Ahmad merasa aneh dengan sikap Ahmad yang tiba-tiba mengulang kembali pelajaran. Ahmad sebenarnya bakal menduduki ujian pertengahan tahun pada minggu depan. 

Ibunya risau dengan Ahmad tapi Ahmad yakin dengan kesungguhannya dan selalu berpegang dengan kata-kata “Yang Penting Usaha”. 

Akhirnya Ahmad berhasil dan mendapat keputusan yang sangat menyenangkan berkat bimbingan dari Mei. Guru Haniff selaku guru kelas bangga dengan pencapaian Ahmad. 

Guru Haniff merasa aneh dengan Mei karena Mei kerap tidak hadir ke sekolah. Dia berniat  untuk bertemu dengan ibu Mei di rumahnya. Guru Haniff pergi bersama Ahmad. 

Guru Haniff dan Ahmad dimarahi oleh ibu Mei dan memberi peringatan supaya tidak usah ikut campur urusan keluarga Mei lagi.

Ahmad mengenang kembali peristiwa yang menyebabkan Mei numpang tidur di kamarnya sewaktu dirinya tidak dapat tidur, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 12.30 malam...

Sebelum kejadian itu, Ahmad membawa Mei jalan-jalan mengelilingi kampung dan duduk di warung Mr.Raju karena sudah lama tidak memakan roti canai buatan Mr.Raju. 

Pada malam yang hening itu,datang sekumpulan lelaki ke rumah Mei dan mengajukan pisau ke arah ibu Mei karena enggan melunasi hutangnya. Dipukulnya ibu Mei sehingga berdarah. 

Ahmad yang melihat kejadian itu ngebut mengendarai sepeda memohon pertolongan. Ahmad bertemu dengan beberapa orang laki-laki muda dan menceritakan apa yang terjadi. 

Salah seorang dari mereka menelfon pihak kepolisian. Dan Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Mr.Raju. Nasib baik memihak kepada Mei karena tidak sempat dibawa lari oleh para penagih hutang tersebut karena sudah dikepung oleh pihak kepolisian. 

Ahmad cidera sewaktu mencoba melawan demi menyelamatkan Mei. Mei masih terkejut dengan kejadian yang menimpa ibunya dan dirinya. Mei menumpang tidur di kamar Ahmad karena ibunya  pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan berkaitan dengan kejadian tersebut.


Dari kejadian itu, ibu Mei telah meminta maaf dan berniat untuk merawat penyakitnya itu. Mei dan ibunya berniat untuk pindah dan memulai hidup baru.

Ahmad merasa marah karena ibu dan bapaknya tidak memberitahu bahwa Mei akan pindah. Ahmad berniat supaya Mei tinggal bersamanya, tapi dilarang oleh ibu dan bapaknya. 

Isi hati Ahmad mengatakan bahwa selama ini dia menyukai Mei. Dia berjumpa dengan Mei dan membujuk Mei supaya tidak jadi pindah.Tapi Mei hanya diam dan memberitahu Ahmad bahwa dia akan pindah minggu depan. 

Tiba di sekolah, Ahmad tidak melihat Mei datang ke sekolah dan Ahmad bertanya kepada guru Haniff. Guru Haniff memberitahu bahwa Mei pindah hari ini lalu Ahmad berlari meninggalkan kelasnya.

Dia menaiki sepeda ke rumah Mei. Ahmad berselisih dengan taksi yang dinaiki oleh Mei sewaktu menuju ke rumah Mei. 

Ahamd tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Mei. Ahmad pulang ke rumah dan heran dengan ibunya yang berada di rumah sedangkan seharusnya ibu bekerja. 

Ibunya menyerahkan bekas yang berisi roti canai yang diberi oleh Mei untuk terakhir kalinya.

Pada keesokan paginya, Ahmad melihat piring membuat roti canai di dapur dan dirinya terkejut melihat Mei sudah berada di dapur, setelah sekian lama dirinya tidak bertemu dengan Mei.

“Ahmad”, panggil Mei.

“Kamu Mei kan?”, tanya Ahmad untuk memastikan.

“Iyalah, saya Mei, piring membuat roti canai itu saya beli untuk menolong tante berjualan”, jelas Mei.

“Ahmad ayo makan dan ajak Mei itu sekalian”, panggil ibu Ahmad.

“Kalau saya panggil kamu Mei boleh kan?”, tanya Ahmad.

Mei mengangguk tanda setuju.

“Lepas ini saya harus rajin dan sering-sering mengunjungi ibumu”, gurau Ahmad.


Cinta lama berputik kembali dan bertambah mekar.

Akhir mereka mendirikan rumah tangga....



-TAMAT-