Konsep Roof Garden

Lingkungan perkotaan pada umumnya memiliki ruang untuk lahan halaman yang sempit dan terbatas. Kondisi ini menyebabkan rumah nampak begitu sempit karena ketiadaan ruang bebas untuk menikmati halaman depan rumah yang biasanya hijau dan asri. 

Ketiadaan ruang terbuka hijau di sekitar rumah sangat rentan menyebabkan penghuni rumah menjadi tidak kerasan di rumahnya sendiri. Padahal rumah seyogianya menjadi tempat peristirahatan yang nyaman dan menenangkan.

Ketidaknyamanan ini pada tahap yang lebih lanjut akan membuat para penghuninya mudah mengalami stres, sehingga peribahasa yang sering kita dengar seperti rumahku surgaku akan makin jauh dari harapan. Apalagi lingkungan masyarakat perkotaan yang hidup lekat dengan kebisingan, kesibukan, dan kemacetan. Hal ini tentu akan makin berdampak terhadap psikologis mereka, para kaum urban.

Berangkat dari persoalan ini, muncul solusi untuk mengembangkan ruang terbuka hijau (RTH) yang tempatnya mungkin tidak biasa, karena menjadikan lantai paling atas rumah atau bangunan sebagai tempat untuk halaman atau bercocok tanam. Konsep taman atau halaman diatas rumah dapat diterapkan pada rumah dengan satu lantai ataupun lebih, asalkan bagian atas rumah memiliki ruang yang diperuntukan menjadi taman atau halaman.

Peruntukan lahan menjadi taman atau halaman bisa hanya setengahnya saja, atau juga seluruhnya dengan dilengapi fasilitas lain seperti gajebo, kolam ikan, dan lain sebagainya.

Melalui pemanfaatan ruang lantai atas maka konsep untuk menikmati keindahan taman ataupun kebun tidak lagi harus di depan, samping, ataupun belakang rumah. Kita dapat menjadikan ruang lantai atas sebagai tempat melepas penat setelah seharian bekerja, lelah menjalani kehidupan, dan resah menjalani rutinitas yang membosankan setiap harinya.

Konsep taman atau tempat bertani diatas rumah lazim disebut sebagai Roof Garden atau kebun di atap rumah. Roof Garden merupakan inovasi terbaru untuk ruang terbuka hijau yang sedang tren dewasa ini di masyarakat urban. Roof Garden menjadi solusi juga untuk aparteman, kantor atau gedung yang memiliki lahan yang sempit tetapi masih memiliki keinginan untuk membuat ruang terbuka hijau.

Roof Garden pertama kali konsep ini dikembangkan di Jerman tahun 1980, kemudian menyebar ke negara eropa lainnya seperti Belanda, Swiss, Inggris, Prancis, Austria, dan Swedia. Perlahan namun pasti, konsep Roof Garden akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kelebihan Roof Garden

Menurut International Green Roof Association (IGRA), Roof Garden memiliki manfaat yang banyak seperti: (1). Meningkatkan daya tahan atap dengan mengurangi pengelupasan, pengerutan, keretakan, dan kebocoran yang disebabkan oleh hujan dan sinar matahari; (2). Mengurangi kebisingan sampai 3 desibel dan meredam suara sampai 8 desibel karena lapisan vegetasi tanaman yang meredam transmisi suara di udara;

(3). Memberikan suasana sejuk dengan menurunkan suhu udara di ruangan sampai 2oC, (4). Memanfaatkan ruang atas rumah untuk hal yang lebih produktif dengan menghasilkan produk-produk herbal atau lainnya; (5). Mengurangi debu dan asap dengan menempatkan tanaman yang sesuai seperti sansiviera dan tanaman lainnya; dan terakhir (6). Mempercantik wajah kota dengan memberikan kesan asri dan hijau di bagian atas rumah.

Tujuan dari Roof Garden yaitu mensiasati keterbatasan ruang dibagian dasar bangunan khususnya di perkotaan. Prinsip bertanam di Roof Garden ini mirip dengan cara menanam dalam pot atau wadah, hanya saja skala penanamannya lebih besar karena menyesuaikan ruang bangunan yang ada. 

Kendati begitu, ada hal yang harus diperhatikan ketika menerapkan Roof Garden, seperti sistem pengairan yang harus didesain sebaik mungkin.

Pembuatan sistem pengairan yang tidak baik sangat rentan menyebabkan rembesan atau kebocoran bagi ruangan yang ada dibawahnya. Hal ini akan merusak keindahan bangunan, karenanya menghindari rembesan atau bocoran sangat penting dilakukan, salah satunya dengan menggunakan lapisan yang kedap air (waterproof), setelah bagian atas dipastikan kedap air  maka dapat ditambahkan media tanam yang baik untuk menanam berbagai tumbuhan sesuai dengan keinginan pemiliknya.

Ketinggian tanah atau media tanam yang akan digunakan bergantung dengan jenis tumbuhan yang akan ditanam. Apabila tanaman memiliki ukuran yang besar maka butuh media tanaman yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya, media tanaman akan menjadi lebih sedikit jika jenis tumbuhan yang akan ditanam memiliki ukuran yang lebih  kecil. 

Supaya Roof Garden memiliki peran yang lebih baik maka konsep menanam jenis tanaman yang termasuk apotek hidup sangat dianjurkan. Tanaman yang termasuk apotek hidup dapat terdiri dari tanaman-tanaman herbal yang memiliki khasiat bagi sistem imunitas tubuh. Hal ini semakin tepat karena Pandemi COVID-19 yang sedang menyebarn menyebabkan harga jamu yang berasal dari tanaman herbal mengalami peningkatan permintaan sampai 200%.

Penggunakan Roof Garden mesti memperhatikan jenis media tanam yang akan digunakan, seperti tanah. Media tanam seperti tanah memiliki beban masa yang berat terhadap struktur bangunan, hal ini akan semakin memberatkan jika diguyur hujan. 

Hal lainnya adalah tanah memberikan warna cokelat pada permukaan ruang, sehingga kesan kotor akan menjadi masalah dikemudian hari. Upaya untuk mensiasati hal tersebut yaitu dengan mengganti tanah dengan media tanam yang lebih ringan serta tidak menghasilkan sisa atau bekas seperti: humus, kompos, batu-batu apung, serabut kelapa, pasir dan ijuk, atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut.

Aspek lainnya yang akan tidak kalah penting diperhatikan yaitu penguapan air dari tumbuhan (transpirasi) yang lebih mudah terjadi pada konsep Roof Garden. Keadaan ruang yang terbuka lebar tanpa penghalang langsung sangat mudah menyebabkan air dalam tanah maupun dalam tubuh tumbuhan mengalami penguapan, karenanya proses penyiraman setiap pagi dan sore penting untuk dilakukan.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi penguapan tanaman yaitu dengan memelihati  kanopi hidup seperti dengan menanam tanaman yang rambat.

Kanopi hidup yang berasal dari tumbuhan dapat meminimalisir intensitas cahaya matahari yang masuk ke daun. Proses ini akan menghamba laju tranpirasi pada tanaman yang dilindungi.

Beberapa jenis tanaman rambat atau liana yang direkomendasikan karena memiliki nilai estetis dan memiliki manfaat adalah anggur (Vitis vinifera), dan markisa (Passiflora edulis). Tanaman yang kehilangan air karena transpirasi atau penguapan sangat rentan mengalami kondisi layu, jika hal dibiarkan maka tanaman akan sangat mudah mengalami  kekeringan dan kematian. 

Alternatif yang dapat dilakukan jika mengalami kendala pada proses penyiraman, maka jenis tumbuhan yang dapat diaplikasikan dapat berupa tumbuhan sukulen, atau tumbuhan yang dapat beradaptasi pada kondisi yang kering atau penyiraman yang jarang. Beberapa jenis tumbuhan yang direkomendasikan adalah Tanaman lidah buaya (Aloe vera), lidah mertua (sanseviera) dan kaktus (cactaceae).

Penting untuk diketahui bahwa konsep Roof Garden tidak didesain untuk urusan tanam menanam saja. Ada aspek yang yang lebih substansi dari itu, yaitu menjadi tempat belajar yang kontekstual bagi seluruh anggota keluarga serta menjadi ruang untuk melakukan aktivitas yang asik dan menyenangkan seperti bermain, bercengkerama, bercerita, ataupun mengadakan pesta kecil-kecilan dengan tetangga atau kerabat yang kita miliki.