Sangat wajar rasanya jika dalam sebuah musyawarah ada perbedaan pendapat. Begitu pun yang terjadi saat meeting online dengan bahasan menjaga keamanan lingkungan di WA grup komplek perumahan kami, suatu malam, beberapa waktu yang lalu.

Ada dua opsi yang jadi pokok perdebatan; ronda malam atau membayar jasa keamanan.

Sebagian anggota yang menginginkan ronda malam digelar mengemukakan bermacam alasan. Di antaranya; agar warga (bapak-bapak) komplek saling kenal, tercipta keakraban satu sama lain. Karena kenyataannya memang ada beberapa yang tidak saling kenal. Ada yang tahu namanya tapi tidak tahu orangnya, demikian sebaliknya.

Juga karena jika harus membayar jasa keamanan, berarti harus menyiapkan uang lebih. Anggaran pengeluaran bulanan pun pastinya akan bertambah. Sedang yang memilih opsi membayar jasa keamanan, lebih karena takut tidak bisa berpartisipasi, karena alasan kesibukan kerja dan kebutuhan waktu untuk beristirahat.

Sebagai jalan tengah, voting pun diambil untuk mengetahui suara terbanyak yang diberikan anggota grup. Warga komplek yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu dari tiga puluh enam kepala keluarga pun memberikan suaranya. Suara terbanyak nantinya akan dijadikan dasar mufakat dan harus dipatuhi semua anggota.

Jadi awal ceritanya begini. Akhir-akhir ini di komplek perumahan kami sudah terjadi beberapa kali kasus pencurian.

Awalnya ada warga komplek yang melaporkan jika rumahnya kemasukan maling saat tengah malam. Tiga buah ponsel raib dibawa kabur pencuri yang mencongkel jendela rumah bagian belakang.

Tak berselang lama, tetangga depan rumah saya juga mengadukan kalau sudah kehilangan sepeda anaknya. “Kemarin sore masih ada kok. Eh, pagi ini udah ngga ada,” keluhnya.

Selanjutnya tetangga blok depan juga kehilangan sepeda.

Mungkin malingnya mau ikutan tren bersepeda kali yaa.. Tapi karena ngga punya modal, jadi mencuri deh.

Begitu pikir saya, mengingat hilangnya dua sepeda tetangga itu terjadi dalam waktu berdekatan, di saat tren bersepeda sedang mewabah seiring mewabahnya covid 19 di daerah kami.

Tak mau kejadian serupa berulang, beberapa orang bapak warga komplek berinisiatif agar diadakan ronda malam. Lingkungan komplek harus balik kondusif lagi seperti sebelumnya.

Tapi e tapii... Rencana sebagian bapak-bapak yang sudah semangat empat lima menggelar ronda itu berbenturan dengan sebagian anggota lain yang khawatir tidak bisa ikutan ronda.

“Bayar aja orang buat jaga malam.” Mereka melempar usul.

Saya sendiri memilih ronda sebagai pilihan politik, eh, pilihan dari dua opsi maksudnya.

Sebenarnya sih saya mau netral aja. Oke-oke aja mau pake yang mana juga. Ronda oke, bayar jasa keamanan juga oke. Pun suami saya, siap-siap aja beliaunya. Tapi karena hanya boleh memberikan satu pilihan, saya pun memberi pilihan yang paling logis menurut saya.

Kita sama-sama tahu, di era ekonomi sulit kayak sekarang, bayar orang buat jaga malam komplek pasti akan terasa berat, karena upahnya yang tidak murah. Lah, wong pekerjaannya menyangkut keselamatan diri. 

Lagian, gimana kalau orang yang dibayar ngga mau kerja sendiri, mesti ngajak temannya yang satu lagi. Kan bayarnya jadi dobel. Apalagi warga komplek memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda. Kebutuhan dan keinginannya juga, barangkali.

Jadi daripada nantinya membebani sebagian yang lain, mending swadayakan aja bapak-bapak komplek yang sudah teriak 'bisa', kan?

“Ya udah, jika ada warga yang memang ngga bisa ikutan ronda, boleh mengganti dengan sejumlah uang atau dalam bentuk makanan ringan untuk petugas ronda.”

Demikian jawaban pimpinan rapat sekaligus ketua kerukunan komplek kami, menanggapi satu dua warga yang menyatakan tak bisa mengisi jadwal, setelah ronda malam bergilir memenangkan pemilihan suara malam itu.

Terlepas dari kasus kemalingan yang terjadi di komplek kami, yang entah karena imbas dari banyaknya orang-orang yang kehilangan pekerjaan di masa pandemi, atau karena faktor lain, kegiatan ronda malam semestinya memang harus terus dilestarikan.

Mungkin di desa-desa masih banyak kita jumpai kegiatan ronda malam untuk menjaga keamanan lingkungan. Dilaksanakan secara sukarela, bahkan sebagai hal yang mengasyikkan. Anak-anak muda berkumpul di pos ronda atau poskamling sambil main catur atau main kartu gaplek, lalu secara bergantian keliling kampung untuk menjaga keamanan.

Berbeda dengan di daerah perkotaan, seperti di wilayah saya tinggal ini. Seingat saya, belum pernah saya dengar ada kegiatan ronda malam bergilir  yang dilakukan warganya secara sukarela.  

Saya jadi teringat tanggapan Erdy Priharsono, seorang peminat masalah sosial dan budaya, soal banyaknya unit pos ronda yang mangkrak di kota-kota di Indonesia, tergantikan petugas keamanan yang dipekerjakan, atau closed circuit television (cctv) yang dipasang di beberapa bagian bangunan.

Menurutnya, arus globalisasi mengakibatkan dampak perubahan sosial, yakni mengubah pola pikir guyub, gotong-royong dan kepedulian, tergantikan pola pikir egois individualistis yang menuju kebebasan dan jauh dari semangat peduli lingkungan sekitar. 

Selain itu, kumpul-kumpul bareng tetangga dan bincang-bincang akrab dianggap bukanlah gaya hidup modern. Padahal ronda merupakan salah satu bagian dari sejarah terbentuknyakeamanan dan keguyuban bangsa kita. Sejatinya harus terus dilestarikan.

Mengingat itu, saya optimis, ronda bergilir di lingkungan kami akan jadi momentum kembalinya semangat kerja sama dan kepedulian, yang disadari atau tidak, telah memudar di antara warga komplek.   Tak hanya kesibukan, kehadiran ponsel pintar ternyata sudah lebih banyak menggantikan posisi warga, sehingga silaturahmi fisik sangat jarang terjadi.

“Ooh, yang tinggal di blok C nomor 15 itu ternyata namanya Mas Dimas. Orangnya tinggi besar, pengantin baru, kerja di bank Mandiri,” kata suami saya.

“Tadi malam ronda bareng sama Pak Josan blok C 13 juga,” tambahnya.

Kaan.. Kaan.. Apa kubilang... Gara-gara ronda jadi pada kenal tetangga yang agak jauhan. Ngga cuma yang di kiri-kanan-depan-belakang rumah aja. Yang awalnya cuma tahu nama saat kenalan di WAG komplek, tanpa tahu wujudnya kayak gimana, sekarang jadi tahu deh. Biar kalau ketemuan di jalan bisa saling tukar senyum sembari tukar bunyi klakson. Hehe.

Waktu berlalu, kegiatan ronda terus berjalan. Bahkan pos ronda yang awalnya tampak muram, kini tampil cantik dengan balutan cat warna kuning terang. Ditambah segala tetek bengek penunjang supaya para bapak petugas ronda merasa nyaman; dispenser, gelas, kopi, papan catur, hingga kartu gaplek.

Komplek perumahan pun tak lagi senyap di tengah malam, karena ada suara teng yang bunyinya berbeda jumlah, sesuai dengan pukul berapa saat itu. Pertanda bapak-bapak yang bertugas sedang keliling komplek. Memastikan keadaan aman.

Bapak-bapak juga kelihatan bersemangat dan tambah kompak, begitu kiranya bocoran yang saya peroleh dari suami.

Setelah dijalani, ternyata banyak banget manfaat ronda malam. Tak hanya berdampak amannya lingkungan sekitar karena maling-maling menyadari kalau lingkungan kita sedang dijaga, juga terciptanya silaturahmi fisik, saling kenal satu sama lain. Dan yang pasti, kita sudah berperan aktif melestarikan salah satu nilai budaya bangsa kita.