Negara Indonesia memiliki kebiasaan unik yang mungkin tidak dimiliki negara lain, yaitu kebiasaan ronda atau siskamling pada malam hari. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menjaga keamanan suatu daerah bisa juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dan menjadi tempat silaturahmi. 

Di kampung misalnya, setiap malam beberapa lelaki melakukan ronda, memastikan tidak ada maling atau hal-hal yang membahayakan warga setempat. Mereka memukul kentongan yang ketukannya sesuai dengan waktu saat itu.

Keaktifan ronda malam bergantung pada cara warga memahami atau mengartikan bahwa ronda malam merupakan kewajiban bersama untuk menjaga lingkungan setempat. 

Desa tidak punya hak untuk memungut uang yang tidak mempunyai tujuan, tapi berhak menuntut penduduk desa agar ikut dalam kegiatannya. Maka pada setiap malam tiap warga harusnya melaksanakan kewajiban ronda malam sesuai jadwal, tidak peduli dia seorang pejabat, pengusaha dan sebagainya.

Jika ronda malam aktif, paling tidak bisa mengetahui, di wilayah tersebut masih ada warga yang peduli dengan keamanan lingkungan dan menjaganya menjadi suatu tanggung jawab bersama. Tentu hal tersebut tidak akan memberatkan, apalagi ditambah “klethikan” yang disajikan oleh pak RT agar kegiatan ronda tidak membosankan. 

Dan untuk anak muda yang hanya main media sosial bisa juga ikut berkontribusi kepada lingkungan untuk menjaga kenyamanan warganya.

Semua hal perbedaan pendapat, agama dan suku melebur menjadi satu kesatuan dalam sebuah wadah yang bernama pos ronda. Tidak ada lagi kaum minoritas dan mayoritas ketika sedang duduk sejajar dalam pos ronda. 

Ini menjadi gambaran kesederhanaan yang jauh dari keangkuhan. Setiap hari berganti wajah yang menghiasi pos ronda dan membuatnya tidak pernah sepi dari aktivitas manusia.

Terkadang pos ronda juga digunakan untuk sarana berkeluh kesah antar warga di sekitarnya. Bisa juga untuk berbincang santai khas ibu-ibu yang membuat suasana pos ronda menjadi segar. Hal ini tentu mempererat hubungan antarwarga yang memiliki sistem ronda.

Semakin modern, ronda sebagai garda terdepan yang mengamankan lingkungan mulai ditinggalkan warga. Kini warga lebih memilih membangun portal ketimbang pos ronda, yang saat ini sudah tergantikan dengan adanya pos keamanan yang dihuni oleh satpam. Yang tidak lagi bekerja secara sukarela dalam menjaga keamanan, tetapi menerima upah dari pak RT atau penyedia pekerjaannya. 

Budaya ronda ini mulai punah dari kota modern dan bergeser ke desa yang letaknya terpencil. Di desa, budaya ini masih dipertahankan, karena jumlah masyarakatnya yang relatif lebih sedikit dibandingkan masyarakat yang tinggal di kota besar.

Setidaknya, saya beberapa kali mengikuti ronda malam dengan sukarela. Alasannya karena saya sukarela mengikuti ronda dan ingin berkumpul dengan tetangga yang lain. Karena beberapa hari sebelumnya ada kasus pencurian sepeda motor yang jaraknya hanya 500 meter dari pos ronda. Karena pos ronda tidak ada yang menjaga akhirnya terjadi pencurian. Maka dari itu beberapa warga sukarela ikut ronda malam termasuk saya.

Bagi saya yang sering merantau dan jarang pulang, kegiatan ini bisa mengakrabkan saya dengan warga yang lain, apalagi ditambah banyak cemilan dan kopi yang menghangatkan suasana. Bisa mengenal wilayah perbatasan RT dan juga mengetahui profesi dari warga yang lain. Mulai dari pensiunan TNI, pekerja harian, dan pedagang. 

Tapi walaupun berbeda profesi, ternyata rokok yang diisap sama yaitu tingwe. Jadi bisa berbagi pengalaman tingwe dan mencoba tingwe yang dibawa warga lain. Saya juga jadi mengerti sejarah desa. Warga sepuh yang sudah menghuni berpuluh tahun bercerita tentang desa yang dulunya konflik karena ingin digusur.

Selain bisa mengakrabkan dengan warga lain, hal tersebut juga bisa melestarikan kegiatan ronda dan kamu juga bisa membuat tulisan tentang ronda. Pos ronda menyimpan banyak kepingan sejarah bangsa, dari yang besar sampai hal terkecil. Mungkin sebab itulah pos ronda masih berdiri walaupun di banyak tempat sudah memasang portal atau kamera CCTV.

Karena ronda adalah bagian dari bela negara paling sederhana. Apakah tradisi ronda malam yang mengakrabkan masyarakat akan terus bertahan? Semoga budaya ini tidak hilang ditelan bumi.

Persiapkan tubuh yang fit untuk mengikuti kegiatan ronda. Mari lestarikan budaya ronda.