Satu cinta bisa mengubur seribu kebencian. Itulah kata yang paling tepat untuk mengungkapkan kekaguman saya pada tokoh-tokoh pemimpin agama seperti Romo Magnis.

Di tengah himpitan panasnya perebutan klaim kebenaran dan klaim tentang sikap yang paling toleran, Romo justru datang dengan perkataan jujur yang sangat menyejukkan sekaligus secara tak langsung mempreteli kebodohan kita. “Islam adalah agama pertama yang menerapkan toleransi,” kata Romo Magniz. Itu ia ucapkan di salah satu diskusi di Jakarta beberapa bulan lalu, yang sempat saya baca bahkan viral beberapa hari lalu.

Seorang tokoh agamawan yang sangat dihormati di kalangan Khatolik, justru tanpa ragu untuk menghaturkan pujian cinta fakta itu kepada umat yang lain. Suatu sikap keberanian dibaluti kerendahan hati di tengah-tengah gonjang-ganjing sektarianisme klaim kebenaran dan klaim paling toleran yang mendidihkan banyak kepala selama ini.

Ini seperti memperlihatkan intan kepada penambang intan selama ini yang sudah sulit untuk membedakan yang mana intan dan mana batu pualam.

Untuk sedikit menyentil kembali kesadaran kita memahami sejarah yang selama ini terdistorsi dalam kotak penafsiran sejarah yang jauh dari kata menyejukkan. Suatu kenyataan ketika kita lupa bahwa kita telah berjalan jauh memunggungi kebenaran, sembari perlahan-lahan berjalan mundur ke belakang yang kita klaim kemajuan itu.

Bukan hanya apa yang disebut Romo sebagai kenyataan bagaimana Islam dulu menjadi pengayom bagi agama-agama lain (termasuk kristen di daratan Timur Tengah) 1.400 tahun yang lalu. Tapi juga mungkin kita lupa (atau mungkin pura-pura lupa) bagaimana Nabi Muhammad meletakkan dasar-dasar bermasyarakat yang sangat majemuk di eranya, yang dikenal sebagai Piagam Madinah itu. Piagam bermasyarakat yang bahkan disebut-sebut sebagai kitab konstitusi tertulis pertama di dunia.

Membandingkannya dengan kenyataan sekarang, membuat kita sedih. Ketika mayoritas Muslim justru tampak menjadi momok yang menakutkan bagi yang lain. Padahal seperti kata Buya Maa’rif, kitalah muslim karena banyaknya itu seharusnya paling bertanggung jawab menciptakan masyarakat kita yang harmonis sekarang ini. Bukan sebaliknya.

Terlepas dari kebenaran substansial sejarah atas pernyataan Romo. Ada hal yang lebih besar dari itu, yakni sikap-sikap untuk saling menerima kemuliaan agama orang lain. Lebih dari sekadar kebenaran, ada kebaikan untuk bisa saling menghargai, menghormati, untuk mengeyampingkan ketabuhan-ketabuhan (klaim) sektarian yang bersifat ultra-fanatisme yang akhir-akhir ini nyaris mengambil porsi terbanyak dalam diskursus keagamaan kita.

Tak ada rasa canggung sedikitpun diri seorang Romo Magniz sebagai orang yang dihormati di kalangan Khatolik untuk mengatakan hal itu. Jenis pujian yang pada titik tertentu bisa membuat yang dipuji berbesar kepala sedangkan untuk umat kalangan sendiri bisa memupuk amarah dan iri.

Inilah sisi kebesaran jiwa dan pentaqlikan intelektual yang dimiliki tokoh-tokoh seperti Romo Magniz, yang terlalu sulit dimiliki oleh kita-kita. Ia menolak untuk terkerangkeng dalam kebanggaan menyimpang dari identitas ketokohannya sebagai seorang pemimpin umat Katholik.

Satu kata yang cukup seperti oase di tengah aura kebencian massif yang menguat di kalangan umat beragama selama ini. Pernyataan itu seolah melucuti kedangkalan jiwa kita, entah kita yang mengaku Islam yang paling benar ataupun Khatolik yang paling benar.

Bagi kita, mungikin kebenaran membuat kita untuk hanya bisa terus mengklaim sembari mengarahkan telunjuk penghakiman kesalahan/kesesatan pada yang lain. Kebenaran membuat kita bahkan enggan untuk jujur menerima kemuliaan agama lain. Kebenaran membuat kita merasa enggan untuk sedikit saja jujur memberikan pujian kemuliaan pada penganut agama lain.

Kebenaran benar-benar justru membuat kita tersisih dalam kedangkalan jiwa yang semakin sempit. Seolah semakin kita merasa mendekati kebenaran, maka semakin sempitlah kita memandang segalanya. Aku dan kaumku benar, di luar itu adalah kesesatan.

Tapi tidak bagi seorang tokoh seperti Romo Magnis. Saya yakin Romo tidak sekadar berbicara tentang pujian, ia berbicara fakta. Sekaligus untuk mendudukan kebenaran itu tanpa tendensi primordialisme sektarian yang sempit. Tak pula artifisialisme yang dibuat-buat. Ia telah menunjukkan teladan tentang beragama dengan melampaui hal itu semua. Melampaui kebanggan buta akan primordialisme identitas agama yang sempit, dangkal, dan anti-kesatuan.

Pernyataan Romo Magnis itu, mengingatkan saya pada tokoh seperti Gandhi. Pemimpin revolusi yang juga adalah pemimpin spritual rakyat India. Pemimpin yang bergelar (diberi gelar) Mahatma ataupun Bapu (bapak) yang dimuliakan, karena perangainya dan cintanya yang besar pada kebenaran dan kemanusiaan universal.

Kita tahu, di akhir-akhir menjelang kemerdekaan India, terjadi konflik internal tentang siapa (atau dari kalangan mana) yang lebih layak memimpin India. Apakah dari aktivis Hindu ataukah aktivis Muslim? Yang selama ini bahu-membahu berjuang untuk kemerdekaan India. Konflik politik yang nantinya membuat Pakistan sebagai basis massa aktivis Muslim akhirnya berpisah dari India.

Gandhi pada saat itu dengan kerendahan hati dan kebesaran jiwanya itu, datang dengan tekad untuk tetap bersatu. Ia terlalu tidak ingin bangsa-bangsa India berpecah-berpisah hanya karena perbedaan identitas. Ia meminta para aktivis dari kalangan agamanya (Hindu) untuk mengundurkan dari perebutan itu, menjamin dan mempersilahkan pihak Muslim yang kalah itu diwakili Ali Jinnah (pemimpin Liga Muslim India) untuk menjadi orang nomor satu India pasca kemerdekaan.

Seperti Gandhi, Identitas agama tidaklah membuat mereka menjadi angkuh dan buta untuk saling klaim tentang siapa yang paling hebat dan benar. Tidak. Kebesaran jiwanya membuatnya mengambil jalan lain. Memilih untuk jujur, bahkan mundur/mengalah demi kemaslahatan kemanusiaan.

Ada kata-kata Gandhi yang cukup berbekas dalam ingatan saya. Ia pernah ditanya salah satu wartawan tentang sikapnya melawan perpecahan horizontal saat itu. Ia menjawab singkat sembari tersenyum, “Kami tidak menentang apapun kecuali pemikiran yang mengatakan bahwa orang-orang tidak bisa hidup bersama karena perbedaan. Hindu, Muslim, Sikh,…”

Ia (Gandhi) tak perlu mengutip ayat untuk memperlihatkan kebenaran yang sederhana itu. Ia tak perlu mengernyitkan dahi untuk mengatakan kebenaran. Kejujuran dan nuraninya pada kemanusiaan adalah pencapaian tertinggi dari tingkatan spritualitasnya yang dalam.

Kita jauh berbeda. Kita bahkan sulit untuk jujur. Bahkan mungkin lebih memilih berbohong untuk sekadar merasakan agar kebanggaan identitas kita mesti terus menguat. Kita berdebat atau mungkin asyik menikmati debat agama yang dilakoni tokoh agama kita demi untuk bisa mengatakan bahwa agama kita adalah agama pemenang.

Sebab dalam kepala kita, pemenang adalah pemilik kebenaran. Yang justru tanpa kita sadari membuat kita semakin terlihat menyedihkan. Di perangai kita, agama tak lebih adalah simbol pertarungan menang dan kalah. Yang tak ubahnya seperti partai politik memperebutkan suara.

Sedangkan Gandhi tidak. Tidak ada pertarungan menang dan kalah baginya dalam memandang semua agama. Yang ada adalah kemanusiaan yang mesti dimenangkan lebih dari apapun. Ia salah satu di antara sedikit pemimpin agama yang menapaki jalan kemanusiaan sebagai puncak keberagamaan--puncak spritualitas.

Seperti kata Abdul Sattar Edhi, “Tidak ada agama yang lebih tinggi dari kemanusiaan.” Memahami jalan-jalan spritualitas tokoh-tokoh seperti ini membuat kita merasa malu melihat fenomena kaum agamawan “kita” yang muncul ke permukaan saat ini.

Suatu jenis keberagamaan yang tak lebih baik dari sebuah mobil ambulans, kata Sattar Edhi. “So many years later there were many who still complained and questioned. Why must you pick up Christians and Hindu in your ambulance? And I (Satttar Edhi--red) was says, “Because the ambulance is more Muslim that you”.

Betapa menyedihkan. Saat sekarang ini kita melihat bagaimana pilihan-pilihan politik menjadi dasar untuk mendefinisikan kemusliman seseorang ataupun kekristianian seseorang. Kita bahkan sudah cukup terlampau jalang untuk bisa disebut hamba Tuhan atau anak Tuhan.

Seperti tak ada yang lebih mendasar dari proses keberagamaan itu selain terus membuat segalanya dan semuanya harus menepi pada tempurung garis identitas masing-masing. Hingga terlampau jauhlah kita terkurung dan mengurung orang lain dalam kotak-kotak kesucian kita yang angkuh itu.

Romo Magnis, selain mengingatkan saya pada Gandhi, juga mengingatkan kita pada mantan presiden bangsa kita, Kiai Abdurrahman Wahid. Gus Dur. Ia yang memilih untuk menaklukkan ego identitas sebagai tokoh Muslim yang besar untuk berpihak pada kaum minoritas yang berbeda identitas dengan dirinya. Ia melawan segala bentuk tekanan dan ketidakadilan dari mayoritas (kelompok) Muslim sendiri.

Sekali lagi, ia tidak melawan umat, ia hanya melawan ketidakadilan itu sendiri. Ia mengajarkan kepada kita kaum beragama tentang bagaimana beragama dengan cara bermanusia.

Jiwanya terlalu besar untuk sekadar bisa goyah di garis kemanusiaannya dalam beragama. Cacian, makian, bahkan fitnah dilontarkan sana-sini dari kalangan umat yang seidentitas dengan dirinya tidak membuatnya gentar.

Padahal kalau saja ia ingin seperti pemuka agama kebanyakan, yang sekadar untuk dipuja-dipuji dan mendapatkan kekuasaan, dll, ia bisa saja melakukan. Apa yang kurang dari ketokohan agama yang ia miliki untuk memilih jalan itu? Nyaris tak ada. Tapi agamanya yang menubuh dalam kesalehan sosial universal membuatnya terus berdiri di jalan kemanusiaan yang berpihak.

Bahkan di tengah perjalanannya sebagai seorang presiden, yang diturunkan. Semua orang tahu, bahwa ia bisa saja menggunakan basis politiknya untuk melawan penggembosan-penggembosan itu. Tapi kebesaran jiwanya, kecintaannya pada kemanusiaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kekuasaan itu, membuatnya menerima kenyataan mundur itu. Ia selalu memilih menjadi air, mengalir untuk meredamkan api.

Jejaknya telah mengajarkan kepada manusia lintas agama, tentang bagaimana bermanusia dalam beragama yang berkorban untuk berpihak pada keadilan, kebenaran, kemanusiaan tanpa ragu sedikitpun.

Romo Magniz, seperti membangkitkan kembali ingatan kerinduan kepada Gus Dur dan Gandhi. Tentang  manusia-manusia beragama yang berjiwa besar. Yang tidak takluk pada perangkap kesombongan dan keangkuhan identitas. Mereka-mereka adalah gambaran dari bagaimana bermanusia dalam beragama.

Mereka yang memilih kebaikan yang mencairkan ketimbang (klaim) kebenaran yang mengkotakkan. Kehadirannya seperti satu cinta yang mengubur seribu kebencian.