Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan semakin canggih di era globalisasi telah memberikan banyak manfaat untuk berbagai aspek sosial. Penggunaan teknologi untuk menyelesaikan aktivitas dan pekerjaan sudah menjadi keharusan dan kebutuhan mendasar bagi manusia. Hadirnya teknologi seperti internet, televisi, dan telepon membuat informasi dapat disalurkan secara cepat tanpa mengenal jarak dan waktu.

We Are Social, sebuah instansi global yang fokus dalam bidang digital dan pemahaman asli mengenai media sosial mencatat bahwa pertumbuhan jumlah pengguna media sosial yang aktif di Indonesia telah meningkat pada 2017 sebanyak 106 juta pengguna dari sebelumnya pada 2016 sebanyak 79 juta pengguna. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia telah meluas dan akan semakin meningkat di setiap waktunya. 

Teroris menjadikan para pengguna internet dan media sosial sebagai "sasaran empuk". Mereka memanfaatkan aplikasi Telegram sebagai alat propaganda dan juga untuk merekruit anggota baru. Telegram merupakan aplikasi atau pengirim pesan buatan Pavel Durov, seorang warga Russia. Penggunaan Telegram sudah tersebar ke seluruh dunia. Beberapa negara telah memblokir aplikasi ini, termasuk Rusia, China, dan Iran. 

Para pelaku teroris "nyaman" melakukan propaganda di melalui Telegram karena alasan keamanan data pengguna yang tidak akan diberikan kepada pihak ketiga termasuk pemerintah sekalipun. Menurut Harold Lasswell, propaganda merupakan peraturan dari perilaku kolektif dengan melakukan manipulasi pada simbol-simbol yang signifikan. Penggunaan istilah “perilaku kolektif” adalah upaya untuk melakukan pemotretan terhadap opini publik, sebuah tata nilai bersama tanpa melihat adanya kedekatan secara fisik. Melalui “simbol signifikan”, 

Laswell (Andi Youna Bachtiar SS, 2015) mencoba menangkap stimulus-stimulus yang kemudian sebuah reaksi. Kemudian Laswell memberikan penjelasan lain mengenai fungsi propaganda di masyarakat di mana terjadi ketidakteraturan sosial akibat adanya perubahan teknologi yang sangat cepat. Propaganda ini kemudian dijadikan sebagai upaya oleh para terorisme untuk merekruit dan menyebarkan paham-paham radikalisme.

Banyaknya aksi para teroris termasuk ISIS menggunakan Telegram sebagai alat untuk menyebarkan ideologi mereka melalui salah satu fiturnya yaitu broadcast messages sehingga para teroris kemudian memberikan "janji-janji surga" dengan ceramah yang diberikan, dan di Indonesia sendiri sebagai negara yang didominasi oleh penganut Islam, sehingga memudahkan para teroris untuk merekruit dan membawa identitas agama dan memberikan beberapa potongan ayat dan juga meminta untuk melakukan jihad di negara mereka berasal tanpa perlu ke Suriah dan diberikan tata cara bagaimana merakit bom. 

Salah satu aksi yang berhasil dilakukan oleh teroris yang sebelumnya disponsori oleh ISIS melalui komunikasi sebelumnya di Telegram adalah pada saat pemboman di Sarinah pada 2017 lalu. Propaganda atau pesan-pesan yang disampaikan oleh ISIS dapat dikatakan sangat efektif, terutama karena penekanan strategisnya pada perang digital saat ini. Organisasi tersebut sepenuhnya mengkoordinasikan militer dan kampanye pesan melalui jejaring sosial sebagai dukungan media birokrasinya 

Konten online ISIS termasuk video, foto, ceramah, dan sebagainya menekankan klaim inti organisasi bahwa hal itu telah menciptakan utopia bagi umat Islam dalam bentuk kekhalifahan yang harus dipertahankan oleh pemeluknya. Klaim ini dibuat agar dapat mengendalikan medan sebagai khilafah adalah sumber kekuatan utama ISIS atau pusat gravitasinya.

Telegram dengan pengguna lebih dari 200 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia ini kemudian diblokir pada bulan Agustus 2017 lalu oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yang merupakan lembaga pemerintah RI yang mengambil peran untuk mengatur tata kelola komunikasi dan informatika, meningkatkan efisiensi dan informatika, lalu meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi. Hal ini kemudian menjadi perhatian Durov untuk datang ke Indonesia agar aplikasi Telegram tetap berlangsung di Indonesia.

 Hasil rapat antara founder Telegram dengan pemerintah RI berjalan dengan keputusan akhir bahwa pemblokiran Telegram di cabut dengan beberapa catatan yang ditawarkan oleh Durov yaitu dibukanya jalur khusus komunikasi antara Kemenkominfo dan Telegram agar dapat mengawasi setiap konten yang dicurigai berisi terorisme ataupun propaganda. Yang kedua adalah jika Telegram dapat memfilter konten-konten tersebut maka pemerintah akan membukakan kembali akses menuju Telegram. 

Berangkat dari tulisan penulis di atas, globalisasi tidak hanya memiliki dampak positif yang memudahkan segala bentuk pengiriman pesan namun dari kemudahan itu dijadikan sebagai celah untuk masuknya teroris melalui saluran-saluran tersebut sehingga dapat dikatakan para teroris ini juga melihat bahwa cara lama perekruitan dan penyebaran radikalisme dapat lebih mudah merangkul para "jihadis" dan kegiatan propaganda tersebut mendunia, ISIS yang memang tidak ada di Indonesia namun afiliasinya dapat dirasakan melalui aksi-aksi pemboman di Indonesia dan telah diklaim oleh organisasi teroris tersebut.

Sikap pemerintah RI khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika menurut penulis apa yang dilakukan mereka sudah tepat dilihat dari tugas dan fungsi mereka sebagai institusi yang mengatur dan melindungi warga negaranya. Akan tetapi, penulis juga melihat beberapa kekurangan yang harus ditindaklanjuti mengingat terorisme ini dapat membahayakan nyawa, bahkan mengancam kedaulatan negara itu sendiri. 

Dan jika dilihat dari kebijakan keamanan dari Telegram yang menyebutkan bahwa mereka tidak akan sharing data pengguna Telegram kepada pihak ketiga sekalipun pemerintah setempat. Sehingga hal ini menjadi kekurangan bagi pemerintah untuk mengawasi masyarakatnya.