Sesak, panas, macet, dan serba terburu-buru adalah wajah Jogjakarta hari ini. Mendiami kota yang banyak dirindukan banyak orang serta tak pernah habis menjadi perbincangan hangat di media sosial tentu sebuah kebanggan yang tak perlu disembunyikan.

Dilahirkan di kota ini pada akhir abad 20, sekitar 20 tahun lalu, bagiku wajah kota ini telah banyak berubah, polesan make up gedung-gedung yang menjulang telah menutupi lubang-lubang tempat pak tani membajak sawah atau tanah lapang singgasana bermain anak-anak.

Kesan adem-ayem yang dulunya melekat kini menjelma menjadi tanda tanya, kendaraan bermotor kini jumlahnya telah bertambah puluhan kali lipat, ruang kosong dan terbuka hijau sebagian terbabat habis dengan dalih mendukung pembangunan. Perjalanan di siang hari pun sangat tidak disarankan, terik matahari begitu membakar serta didukung kemacetan di beberapa ruas jalan tidak dapat dihindari.

Tingginya jumlah kendaraan pribadi di kota ini tidak berarti tidak ada atau sedikitnya transportasi public, karena bahkan hampir di setiap sudut kota dapat kita temui transportasi publik mulai dari delman, becak, taksi, bus kota hingga Transjogja.

Penggunanya pun tidak bisa dibilang sedikit, kita bisa ambil contoh dari penumpang bus kota yang selalu sesak saat memasuki waktu-waktu sibuk seperti saat pagi hari atau saat pelajar pulang sekolah dan pekerja pulang dari kantor. Namun, yang sangat disayangkan, bus kota di Jogja tidak pernah berhenti tepat di depan halte tapi dimana penumpang akan naik atau diturunkan.

Halte di kota ini bisa dibilang milik Transjogja yang memang mempunyai sistem pemberhentian yang hanya boleh dilakukan pada halte di setiap jalurnya. Transjogja sendiri sempat mengalami pasang surut, yang pada awal beroperasinya sekitar tahun 2007 cukup digemari masyarakat dengan armada yang mumpuni, namun kemudian karena terdapat masalah dalam pengelolaannya, kondisi fisik Transjogja sempat tak terawat dan untungnya baru-baru ini ada kabar baik dengan dilakukannya pembaharuan pada armada Transjogja.

Seringkali halte bus di Kota Jogja kosong tak berpenghuni, cukup miris mengingat halte merupakan salah satu lokasi paling romantis di muka bumi. Salah satu kisah yang tercantum dalam novel Mas Zen RS “Traffic Blues: Saat Hujan Deras dan Jalanan Mulai Tergenang” yang menggambarkan perbincangan dengan orang terkasih atau bahkan seorang stranger menjadi begitu syahdu dan termakhtub dalam dunia kenangan kita.

Perbincangan di halte memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk kota yang mampu meningkatkan rasa memiliki satu sama lain, sehingga seumpama ada masalah, harapan untuk diselesaikan secara damai lebih tinggi. Halah.

Halte yang seringkali terlihat tak berpenghuni tentu sejalan dengan tingginya jumlah kendaraan bermotor pribadi di kota ini, atau dapat dikatakan bahwa romantisme halte di Kota Jogja diretas oleh kepulan asap motor para indiviudualis. Jujur, saya, teman, keluarga, dan kerabat adalah salah satu dari para individualis tersebut, bagaimana tidak, terakhir kali saya naik bus kota saat masih duduk di bangku SMP, itu pun dengan terpaksa karena sepeda kayuh saya bocor.

Mudahnya akses terhadap pembelian kendaraan bermotor serta dianggap belum nyamannya transportasi publik di kota ini memang menjauhkan masyarakat dari transportasi umum, belum lagi permasalahan jadwal kantor dengan deadline nya yang menuntut setiap individu bergerak cepat agar tidak dipecat.

Harapan memang harus dipancangkan agar kita tidak terpuaskan dengan kondisi seadanya seperti sekarang ini, harapan bahwa di Kota Jogja transportasi publiknya kembali digandrungi masyarakat seperti kisah-kisah pada beberapa dekade silam dimana para pelajar dan mahasiswa sering bertemu dan bercanda dalam bus atau halte, begitu dirindukan bukan? Tak lupa mengucapkan Dirgahayu Kota Jogjakara yang ke 60 semoga mana tetap istimewa.

Mengutip salah satu kalimat pujangga tersohor Norwegia terhadap kota masa kecilnya ,Christiania (kini Oslo), bahwa kota ini hanya tak pernah meluputkan seorang pun meninggalkan tanpa bekas mendalam pada dirinya. Salah satu kerugian terbesar orang yang pernah tinggal di Jogja adalah tidak pernah merasakan jatuh cinta di sana.