Karyawan BUMN
1 minggu lalu · 130 view · 4 menit baca · Cerpen 56887_31102.jpg
pinterest.com

Romantisasi Kepentingan

Alkisah, ada seorang Pengembara yang melihat kakek tua yang kurus kering di hutan yang gelap. Dia tampak sekarat. 

Melihat hal itu, Sang Pengembara segera menghampirinya, memberi kue yang dibuat oleh istrinya untuk bekal selama perjalanan. Kakek itu tersenyum dan meneteskan air mata, karena melihat ada sesosok manusia yang peduli padanya dalam kesunyiannya. Ia membuka sedikit mulutnya, kemudian menggigit secuil kue Sang Pengembara. 

Dia berkata kepada Sang Pengembara:

"Memang benar, rezeki setiap orang memang telah dijamin. Engkau orang yang baik, Nak. Aku sudah tidak makan selama berbulan-bulan. Aku punya anak dan cucu yang pergi untuk mencari makan, tapi sampai sekarang mereka belum kembali. Entah mengapa mereka belum kembali, tapi aku yakin.....hhuhukk..."

Kakek itu tersedak dan memuntahkan kue yang ia makan. Sang Pengembara segera memberinya minum, tapi kakek itu tampak tak bergeming. Dia sadar bahwa kakek itu sudah tidak kuat lagi untuk menderita. Tubuhnya hampir tanpa daging, hanya tersisa kulit dan tulang. Detak jantungnya tidak beraturan, nafasnya pun sudah sangat lemah.

Dalam hati, Sang Pengembara berkata, "Bukankah ini sudah melebihi batas kemampuannya?"

Menyadari kondisi kakek tua yang semakin rapuh, Sang Pengembara akhirnya berkata kepadanya:

"Aku bukanlah orang baik, Kek. Aku hanyalah sedikit iba, melihat kondisi engkau. Aku tahu kalau engkau sangat menderita, karena aku juga pernah merasakan kelaparan. Sayangnya, aku bukanlah orang yang baik. Aku hanyalah orang yang mengikuti kepentinganmu, yaitu kepentingan untuk terus hidup, sebagaimana yang kurasakan.

Sungguh, insting ini sangatlah menganggu, karena membuat nalarku menjadi keruh. Pada akhirnya, aku hanya membenarkan apa yang menjadi kepentinganku. Aku merasa senang dan membenarkan, ketika aku membunuh tikus dan serangga yang kuanggap menganggu, semata-mata karena mereka tidak sejalan dengan kepentinganku.

Aku pernah membenarkan sikapku untuk menghakimi seseorang sebagai pendosa, karena mereka tidak sesuai dengan kepentinganku. Aku bahkan pernah merasa puas bahagia ketika melihat orang dihukum dan menderita karena bertolakbelakang dengan kepentinganku.

Wahai kakek tua, engkau tahu, aku juga dianggap suami yang baik oleh istriku, namun aku menolaknya. Aku hanyalah memiliki kepentingan agar ia terus bersamaku, sehingga aku harus memenuhi kepentingannya. Jika tidak, ia akan kecewa dan meninggalkanku. Hal itu sama sekali bertentangan dengan kepentinganku.

Aku juga dianggap sebagai ayah yang baik oleh anakku, tapi akupun menolaknya. Aku hanya punya kepentingan untuk merawat anakku, karena dia memiliki sebagian gen yang meneruskan sifatku. Jika aku tidak merawat anakku dengan baik, maka genku tidak akan terwariskan, dan akhirnya "aku" akan menghilang dalam keabadian.

"Aku harus memastikan bahwa anakku harus hidup dalam berkecukupan. Jika tidak, maka lebih baik aku tidak punya anak sama sekali. Aku tidak mau terjebak ke dalam rantai setan. Rantai setan yang hanya melahirkan kemiskinan dan kebodohan yang dihasilkan oleh orang tua miskin dan bodoh. Anakku berhak untuk lahir dari aku yang berdiri tegap!

Sesungguhnya, seorang warga negara yang baik adalah yang mengikuti kepentingan negaranya. Seorang pegawai yang baik adalah yang mengikuti kepentingan tempat bekerja atau bosnya. Seorang anak yang baik adalah yang mengikuti kepentingan orang tuanya, dan seorang individu yang baik adalah yang mengikuti kepentingan masyarakat sekitarnya.

Seseorang yang baik adalah yang mengikuti kepentingan kepercayaan golonganku. Tentu saja, seorang perampok yang baik adalah yang membantu kepentingan sesama golongan perampok lainnya!

Namun, aku sadar bahwa kepentinganku, ternyata dibentuk oleh keyakinan sempitku. Jika aku bisa memperlebar frekuensi keyakinanku, maka aku bisa menjangkau dan mengenali berbagai macam kepentingan.

Dunia yang dipenuhi oleh berbagai kepentingan ini, memang mungkin adalah sebuah tipuan dan senda gurau belaka. Jika Dunia memang tipuan, maka wajar jika aku selalu mempertanyakan sesuatu dan tidak mudah percaya terhadap apa yang selalu diklaim sebagai kebenaran yang tak dapat disangkal.

Bisakah engkau mendeteksi tipuan tanpa rasa keraguan? Jika Dunia memang senda gurau belaka, apakah penderitaan perih yang engkau rasakan adalah salah satu bentuk senda gurau itu? Apakah itu lucu dan harus aku tertawakan?

Bukankah tipuan sesungguhnya adalah ketika yang didalamnya tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditipu, sebagaimana orang kerdil yang tidak menyadari kekerdilannya?

Bukankah senda gurau sesungguhnya adalah percaya pada konsep absurd dengan merendahkan usaha intelektual manusia, membenarkan sesuatu tanpa adanya proses penalaran yang valid, dan merasa tidak mungkin salah karena dianggap sudah sempurna. Padahal, otak yang digunakan dalam memahaminya tidak sempurna. Betapa lucunya itu!

Sejujurnya, aku adalah manusia biasa yang tentu saja, memiliki kepentingan. Aku memiliki kepentingan terhadap kehidupan dan alam. Kepentinganku terhadap kehidupan dan alam, membuatku berusaha untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan memahami alam sebagaimana adanya.

Jika aku tidak memiliki kepentingan terhadap kehidupan dan alam, maka aku seperti Pendusta yang merendahkan kehidupan dan alam. Aku tidak mau menjadi seperti Pendusta yang mengklaim menemukan pengetahuan tertinggi, tapi dengan penalaran terendah! Bagiku, manusia itu terlalu kotor untuk berbicara kebenaran tertinggi! Itulah alasanku memberikan kue perbekalanku, Kakek yang malang, semata-mata kepentinganku terhadap kehidupan.

Maafkan aku, Kakek tua. Aku bukanlah orang yang romantis, sehingga aku bukanlah orang baik. Aku hanyalah Sang Pengembara yang berkepentingan. Kebaikan, tak lain adalah romantisasi kepentingan makhluk yang berkeyakinan. Aku adalah manusia berkepentingan yang berusaha menghargai kejujuran dan selalu apa adanya, sehingga aku bisa bertemu Tuhan dengan telanjang."

Kakek itu tidak menjawab apa pun. Detak jantung dan nafasnya sudah tidak ada. Tubuhnya sudah dingin, sesaat setelah Sang Pengembara menjawab tuduhan beliau bahwa dia adalah orang baik. Sang pengembara kemudian menguburkan Kakek itu tidak jauh dari tempat mereka bertemu. 

Setelah dikuburkan dengan baik, Sang Pengembara memberikan pesan penghormatan terakhir sebelum dia melanjutkan perjalanannya:

"Wahai Kakek tua, sebelum aku meninggalkan engkau, izinkan aku untuk menjadi romantis sekali saja, sebagai balasan perkataan engkau di awal pertemuan kita.

Sesungguhnya, engkau adalah manusia yang baik karena kematianmu. Engkau telah memenuhi kepentingan organisme pengurai, cacing, ulat dan tumbuhan disekitarmu. Engkau membuat mereka terpenuhi kepentingannya, sehingga mereka tetap bisa menjaga keseimbangan kehidupan.

Engkau yang baru, berbaur dengan tanah dan tumbuhan yang subur akan dinikmati oleh kehidupan lain yang lebih baru, serta anak dan cucumu yang masih mencarikan engkau makanan.

Bukankah engkau senang bertemu dan berbaur dengan anak dan cucumu?"