Namaku Syakila, orang-orang terdekatku biasa memanggilku Syasya. Usiaku menginjak 20 tahun tepat bulan februari lalu. Aku hidup diperantauan, jauh dari orang tua dan melakukan semua hal sendirian.

Tetapi itu tidak berlangsung lama, tujuh bulan belakangan ini hari-hariku selalu kujalani berdua dengan kekasihku yang bernama Sanjana. Unik memang namanya sama halnya dengan sifatnya .

Aku dan Sanjana sama-sama sedang menempuh pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Tempat tinggal kami pun sangat dekat, hanya memakan waktu lebih kurang tujuh menitan saja.

Sebelum lebih jauh aku menceritakan sosok Sanjana, aku akan memberitahu kalian bagaimana aku bisa bertemu dengan  sosok seseorang yang sangat aku banggakan ini.

Aku bertemu dengan Sanjana Putra Pramoedya pada saat ia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tempat tinggal asalku. Pada saat itu aku menjalani liburan semester genap dan aku memutuskan untuk pulang kampung. Tidak disangka-sangka ternyata kepulanganku ke kampung berbuah manis, aku ditemukan dengan seseorang yang sangat berpengaruh di dalam hidupku. Terdengar sedikit lebay ya, tetapi memang inilah yang aku rasakan setelah aku dipertemukan dengannya.

Pertemuan kami tidak direncanakan dan tidak diduga-duga. Aku bertemu Sanjana disaat dia dan teman-temannya sedang mengatur perlombaan tujuh belas Agustusan di belakang rumahku. Selang beberapa lama akhirnya mereka telah menyelesaikan program KKN mereka. Ya, disini aku dan Sanjana masih belum berkomunikasi tetapi kami sudah saling mengenal satu sama lain.

Sanjana memang lebih tua dariku, tetapi tidak terpaut jauh,  hanya berjarak dua tahun saja. Tepat di bulan September Sanjana mengirimiku pesan melalui Instagram. Ia tidak memulai dengan kata Hallo, Hai, ataupun pengucapan salam lainnya. Ia mengirimiku suatu berita untuk memulai percakapan denganku.

Dengan santainya dan tidak berfirasat apapun aku membalas pesan yang dikirimkannya, melalui Direct Message (DM). Percakapan  ini pun berjalan dengan lancar hingga aku akhirnya merasa nyaman dengannya. Begitu juga halnya dengan Sanjana yang sepertinya juga nyaman denganku.

Karena sudah saling merasa nyambung satu sama lain akhirnya Sanjana mengajakku berkencan. Dengan tidak berpikir panjang akupun langsung mengiyakan ajakannya. Ya, namanya sudah sama-sama suka memang begitulah adanya.

Tepat pukul 20.00 WIB Sanjana sudah sampai di depan kost-kostanku. Dengan sedikit rasa gugup akupun keluar dari kamar dan menemui Sanjana yang telah menungguku. Angin malam pun mengiringi perjalanan kami ke tempat yang akan kami tuju.

Sesampainya di tempat, aku dan Sanjana langsung memesan makanan yang akan kami makan. Kebetulan sekali perut juga sudah tidak bersahabat lagi.

Setelah makanan habis, sambil menunggu makanan turun ke perut kami asik mengobrol membahas tentang awal pertemuan dan sedikit membahas tentang perkuliahan. Ini juga merupakan awal dari sebuah hubungan ini tercipta.

Karena sudah saling merasa nyaman satu sama lain, aku dan Sanjana memutuskan untuk berpacaran. Lebih kurang tujuh bulan sudah aku menjalani hubungan dengannya. Awalnya kukira ia sama halnya seperti laki-laki pada umumnya, yang meninggalkan wanitanya setelah ia mendapatkan wanita tersebut.

Tetapi berbeda dengan Sanjana, aku merasa ia semakin peduli denganku setelah aku memutuskan untuk menjalani hubungan dengannya. Hampir tiap hari kami saling bertukar kabar dan menanyakan kegiatan apa saja yang kami lakukan pada hari itu.

Sanjana tidak hanya berperan sebagai pacarku saja, ia bisa menjadi teman, sahabat bahkan kakak untuk diriku, karena Sanjana selalu menasehatiku disaat aku melakukan kesalahan dan memberiku apresiasi disaat aku melakukan hal yang membanggakan.

Sosok laki-laki yang diidam-idamkan perempuan, semua ada pada diri Sanjana. Betapa beruntungnya aku menemukan orang sepertinya. Sanjana sangat menerimaku apa adanya, ia tak pernah menuntut apapun dariku, baik itu dari segi fisik  maupun  segi materi.

Hampir setiap hari aku melakukan kegiatan bersama Sanjana. Mulai dari makan, mengerjakan tugas, membeli kebutuhan sehari-hari, berolahraga, dan masih banyak hal-hal yang menyenangkan lainnya yang kulakukan dengannya.

Sampai pada suatu ketika, aku terbaring lemah di rumah sakit, mungkin karena aku sangat kelelahan menjalani perkuliahan. Sanjana tetap selalu disampingku menemaniku terbaring lemah dan merawatku sampai akhirnya aku pulih dari sakitku.

Aku sempat ingin meneteskan air mata, karena Sanjana benar-benar dua puluh empat jam berada disisiku. Sanjana benar-benar merawatku tanpa pernah mengeluarkan keluhan karena susahnya mengurus segala macam kebutuhan yang kuperlukan. Sanjana selalu ada denganku disaat senang maupun susah.

Hal yang paling membuatku semakin jatuh cinta padanya adalah disaat Sanjana membersihkan kotoran muntahanku yang amat menjijikkan. Aku tertegun lemas saat melihat apa yang dilakukannya. Dalam hati aku bergumam, “Ya Allah semoga dia adalah sosok yang kau takdirkan untukku”.

Sulit bagiku rasanya untuk menemui sosok sepertinya. Kebanyakan laki-laki yang pernah kutemukan, hanya ingin bersenang-senang saja tanpa mau melewati masa susah denganku. Lain halnya dengan Sanjana, yang benar-benar ada baik dalam keadaan bahagia maupun sengsara.

Tulisan ini sudah sangat mewakili apa yang telah aku alami dengan Sanjana. Aku sangat berterimakasih kepada sang pencipta yang telah mempertemukan aku dengannya. Terimakasih juga untuk Sanjana yang selalu ada dan selalu setia. Aku mencintaimu tanpa pernah berpikir mengecewakanmu.