1 minggu lalu · 77 view · 10 menit baca · Cerpen 56431_83144.jpg
3.bp.blogspot.com

Romansa Aku dan Kertas

Saat aku masih TK dengan suasana gedung sekolah dikelilingi oleh selokan yang lengkap dengan genangan air. Seolah alunan air yang melewati senti demi senti selokan mengirimkan bisikan lewat angin yang membuat anak-anak TK terlampau bergairah. Walau sering telinga kami dielus-elus Ibu Guru, aneh setiap dielus-elus kami pastikan pasti berbekas. Justru disitulah kenangan berkesan bersama kertas.

Selokan menjadi ajang kreatifitas menyulap kertas demi dijadikan mainan perahu. Begitu asyiknya kami berkreasi mainan perahu dari kertas, menyebabkan kami mesti meminta orang tua untuk dibelikan buku. Tentu anak-anak seusia kami apapun cara ditempu demi mewujudkan kesenangan bermain.

Tapi, naasnya kreatifitas kami membuat mainan perahu tidaklah berjalan mulus sebagaimana perahu kertas yang terbawa oleh air selokan. Ibu Guru justru mengadukan kelakuan kami kepada orang tua, akibatnya beberapa teman akhirnya taubatan nasuha berkreasi mainan perahu.

Berkreasi kertas pada masa TK begitu mengasyikkan, apalagi masa itu belum terlalu banyak mainan yang dapat diperoleh. Yah, namanya juga anak desa yang jauh dipelosok soal mainan hanya mengandalkan kreasi seadanya dari barang-barang bekas. Sehingga tidaklah heran anak-anak seusiaku lebih banyak menggantungkan mainannya pada bahan yang mudah ditemui, disitulah kertas jadi primadona dan pilihan utama.

Anak-anak desa setidaknya yang pernah kualami, kertas bisa diolah menjadi mainan. Terkhusus anak laki-laki sebayaku begitu memfavoritkan mainan perahu dan kapal terbang dari kertas. Untuk urusan membuat mainan perahu dan kapal terbang kami bahkan bisa menghasilkan beragam variasi.

Kebahagiaan bermain perahu dan kapal terbang dari kertas mengasyikkan, sebab kami bermimpi bertindak sebagai kapten kapal dan pilot pesawat terbang. Apalagi kala itu popularitas B. J. Habibie di Sulawesi Selatan sedemikian mengangkasanya membuat imajinasi kami terbang bersama kapal terbang mainan tersebut.

Keasyikan bermain kertas membuat kami tidak merasa bahwa waktu dua tahun telah berlalu di TK.  Artinya sudah masanya kami masuk SD, tetapi bayang-bayang mainan kertas tak pernah berhenti mengunjungi ingatan kami tentangnya. Harapan besar kami semoga saja di SD waktu luang bermain kertas semakin banyak.

Perjalanan di SD dari kelas I, II dan III intensitas bermain kertas semakin berkurang. Tampaknya memang kami tetap bersua dan bertemu dengan kertas, tetapi tidak seperti yang dulu lagi. Bahkan kala itu, seakan-akan kertas yang dulu begitu kami puja-puja malah telah berubah. Kalau meminjam istilah al-Qur’an “bermuka masam” begitu kami bertemu.

Efek dari ketidakharmonisan itu berbuah petaka, bersama dengan teman-teman yang lain lewat sapuan ritmik mistar kayu Ibu Guru membuat landasan merah buat kapal terbang dari kertas di betis kami. Sebagai akibat kertas lembaran PR kami tidak diselesaikan, rasanya begitu kejam lantaran kertas PR tak terisi kami harus menanggung derita di usia muda. Padahal, dulu kertas jadi teman, kenapa berbalik arah koalisi meneguhkan hegemoni guru ?

Kejadian semacam itu kerap kali terulang dan membuat hubungan manis bersama kertas, semakin hari kian luntur. Kalau orang Bugis menyebutnya papoji balo lipa artinya cinta yang mudah luntur seperti pewarna sarung. Mungkin gambaran itulah yang pas dan mengena terhadap hubunganku dengan kertas.

Hubungan dingin terhadap kertas terus berlanjut dan seolah tak ada jalan rujuk diantara kami. Yah, mungkin kawan-kawan mengidentikkan hubungan itu seperti hubungan Bu Mega dan Pak SBY yang tak kunjung membaik. Begitu terlampau pelik hingga hanya menyisahkan ruang-ruang sunyi diantara kami.

Upaya merintis jalan manis diantara kami telah beberapa kali dicoba oleh Ibu Guru matematika, lewat jalan memberi tugas membuat kubus, balok, segitiga dan segiempat terbuat dari kertas. Begitu kulirik kertas putih tampak betul ada raut berharap bak gayung bersambut, tetapi siri sebagai orang Bugis tampaknya lebih dominan menguasai relung jiwaku.


Berbagai upaya untuk memperbaiki hubunganku dengan kertas datang silih berganti. Tetapi, begitu momen itu terbuka lebar maka tak henti dan tak jemu pulalah kuhempaskan peluang itu. Sebaliknya jemari kertas yang hendak meraih lenganku, kubelokkan ke arah jemari teman prempuanku atau teman kelompokku untuk mengurus urusan kertas yang ditugaskan oleh Ibu Guru.

Begitu berbagai arah menuju jalan memperbaiki hubungan dengan kertas, kuupayakan menutup semua ruang-ruang kemungkinan itu. Seakan-akan daratan hatiku telah gersang untuk jalan hubungan baik itu, tetapi tampaknya kisah Ibnu Hajar al-Asqolani bisa terjadi di semua ruang dan waktu ibaratnya air setetes yang jatuh terus-menerus dapat menembus kerasnya batu.

Kalau Ibnu Hajar al-Asqolani menyaksikan peristiwa tetesan-tetesan air yang jatuh dapat menembus kerasnya batu, maka yang menimpaku bukan lagi setetes air tetapi diguyur hujan. Mungkin kawan-kawan bertanya, apa hubungannya dengan jalan memperbaiki hubungan dengan kertas ? sabar kisah ini berjalan tidak seperti kecepatan tombol enter, tetapi kalau kawan-kawan tidak cukup sabar silahkan tekan tombol delet. Namun, jangan salahkan siapa-siapa bila kawan dirasuki aura penasaran sekujur tubuh kawan-kawan.

Maklum musim tanam padi di kampungku yang itu artinya secara alamiah hujan akan sering-sering mendarat di bongkahan tanah. Akibatnya sekujur tubuhku diguyur hujan, suka atau tidak suka membuatku harus berteduh sembari menunggu redanya hujan. Malang tak dapat dihindari, rasa dingin sekujur tubuhku semakin menggerogotiku.

Untungnya kolong rumah yang kutempati berteduh mengenal baik keluargaku, melihat tubuhku menggil akhirnya memanggilku naik istirahat di rumahnya. Kata orang rezeki anak saleh memang selalu datang pada saat yang tepat, dengan menyodorkan sarung untuk mengganti pakainku yang basah.

Persoalan baju dan celana yang basah sudah teratasih dengan sigap, tetapi soal rasa dingin bukan sesuatu hal yang teramat mudah diatasi dan diajak kompromi. Tetapi, pikiran dan cara bijak Tuan rumah sekali lagi membuatku harus mengacungi jempol. Solusinya yang diberikan diluar pikiranku yakni dua lembar kertas rokok dan sebungkus tembaku guna mengimbangi hawa dingin di tubuhku.

Kondisi dilema menghampiriku, masa iya sih solusinya harus menggulung tembaku. Tuan rumah menatapku dengan tersenyum sembari berucap “tak perlu khawatir peristiwa ini tidak akan sampai di telinga orang tuamu” kemudian menjulurkan korek api. Sedemikian rumitnya jalan menuju hungan baik dengan kertas, yang membuatku harus menggulung tembako. Kawan-kawan jangan buru-buru menyudutkan dan menyebut, ini sih iklan tembakau.

Kejadian diguyur hujan itu, seakan menjadi angin segar terhadap upaya membuka jalan hubungan baik dengan kertas. Walau terkesan lamban hubunganku dengan kertas berjalan perlahan demi perlahan, kuingin memastikan niatan baik itu hadir bukan karena kondisi terpaksa. Melainkan kuberharap berjalan secara alamiah, tidak dengan menggebu-gebu sebagaimana dulu yang terjadi kala TK.

Kalau boleh mengaitkan apa yang kualami soal hubungan dengan kertas, bisa dilihat pada peristiwa penyerahan kedaulatan Bangsa Indonesia secara total dari Belanda itu terjadi beberapa tahun setelah proklamasi. Artinya Belanda masih memiliki perasaan menguasai, kalau meminjam peristiwa itu menyorot apa yang menimpaku dan kertas tentu kumerasa masih dibayang-bayangi kenangan yang tak mengenakan itu. Mungkin ada kawan-kawan menggerutu itu sih akal-akalan kamu saja biar tulisanmu keliatan agak panjang dan sedikit dramatis.

Selepas kejadian diguyur hujan itu, ada peristiwa menjelang keberangkatan di bumi perkemahan maklum waktu itu Bulan Agustus. Ibu Kepala Sekolah yang terkesan tegas di mata kami anak-anak SD kala itu, masuk di kelas kami mengganti Ibu Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Singkatnya kami dibagikan kertas selembar dan ditugaskan untuk mengarang bebas.

Peristiwa itu ibaratnya masa pengantin baru antara aku dan kertas, sebagaimana pasangan pengantin baru waktu semalaman suntuk seakan terasa pendek. Seakan gambaran itu terjadi antara aku dan kertas, rasanya kertas selembar terasa kurang untuk menampung segala isi pikiran setelah tak bersua dengan kertas sekian lamanya. Hasilnya, diluar dugaanku Ibu Kepala Sekolah yang tegas itu memuji karanganku.

Seakan peristiwa itu membuatku tersadarkan bahwa ada banyak hal yang bisa kulakukan bersama kertas, mungkin aku tak akan membuatnya kedinginan sebagaimana dulu di TK dengan menjadikannya sebagai kapal mainan. Rasa saling percaya antara aku dan kertas semakin lengket bak perangko, kini tiap hari kucari-cari hingga ke perpustakaan dan tak jarang kusisihkan uang jajanku untuk membelinya bila ada bazar buku (kertas) di sekolah.

Hubunganku dengan kertas rasa-rasanya berjalan penuh keanehan dan keajaiban, kalau dulu kertas sempat kuacuhkan semenjak beberapa peristiwa, tak jarang bahkan kumerelakan uangku demi menebusnya dari orang lain. Kini rasanya tak sanggup melepaskan jemariku dari kertas, seakan kutaksanggup berpisah dengannya.

Kisah hubungan baikku dengan kertas terus terjalin hingga masuk SMP dan masa SMP banyak hal-hal yang dianggap gila oleh teman-temanku akibat kedekatanku dengan kertas begitu intens. Saking inginya kuhapus jarak dengan kertas, waktu SMP yang kujalani selama tiga tahun lebih banyak waktu kuluangkan untuk bercakap-cakap dengan kertas. Bahkan lewat perantaraan kertas memperkenalkanku dengan tokoh di dalam dan di luar negeri, dari tokoh sajak hingga tokoh sains.


Masa-masa SMP pernah terbetik dalam hatiku “apapun yang terjadi antara aku dan kertas, kutangin seperti habis manis sepah dibuang atau kacang yang lupa kulitnya” sebagai bentuk peneguhan kebersamaanku dengan kertas hingga napas terakhir memisahkan. Seolah seluruh aliran dalam ragaku mengiakan tanpa sedikit ragu dan bergeming, akan keteguhanku itu.

Tampaknya ungkapanku yang terbetik dalam hati bergolak dan menggeliat menguji ketegukan ucapaku. Peristiwa di Hari Jum’an menghampiriku dan seakan menguji keteguhan ucapanku, apakah benar aku tak akan berpaling dari kertas apapun yang terjadi ? benar saja kini ditanganku sebuah kertas bertuliskan “Anda Tidak Lulus UN”.

Ada banyak teman, guru dan keluarga mencoba memojokkan kertas sebagai bentuk ketidakberpihakannya padaku kali ini. Tetapi, tampaknya seluruh aliran ragaku tetap menganggap kertas tak mesti dipersalahkan dengan kondisi dan keadaan yang menimpaku kini. Yang perlu dievalusi bukan kertas, melainkan aku.

Tak ada hubungan yang langgeng tanpa ujian yang menyertainya, seakan ungkapan itu yang cocok dan mengena terhadap yang kualami. Kalau peristiwa ini kumaknai secara tepat dan menerima kondisinya sembari bersikap dewasa menyertainya, bukan tidak mungkin kertas akan tetap menemaniku mengukir sejarah dimasa depan.

Semakin kuat keyakinkan diriku untuk tetap berada pada komitmenku terhadap kertas apapun yang terjadi. Anehnya bisikan dari kiri dan kanan yang memojokkan kertas atas ketidakberhasilanku lulus ujian UN berhembus sedemikian kencangnya. Bagiku tak ada soal dengan ketidaklulusan itu, yang bermasalah ketika aku goyah terhadap komitmenku.

Kondisi ketidaklulusanku menjadi buah bibir bukan hanya orang yang mengenalku bahkan orang yang hanya tahu namaku pun ikut membicarakanku. Bahkan ada yang sampai bercelotoh “Bisa-bisanya tidak lulus, padahal dari pagi hingga sore bersama-sama kertas di perpustakaan sekolah. Sampai-sampai tasnya penuh dengan kertas”.

Perbincangan orang-orang terhadap ketidaklulusanku kuanggap sebagai motivasi, rasanya tak adil bila keadaan ini berefek kepada pengikutsertaan kertas dalam pusaran kondisiku. Karena, tidak lulus UN makanya aku tetap masuk sekolah dan menganggap yang kualami sebagai bagian dari perjalanan hidup yang mesti kujalani.

Keberadaanku di sekolah diketahui oleh Ibu Guru pengajar Bahasa Indonesia, lalu memanggilku untuk masuk di ruang guru. Sembari menarik nafas dalam-dalam kulangkahkan kakiku dan kukuatkan mentalku menemui guru-guruku. Saat berada di ruang guru ada banyak junior-juniorku yang duduk dan sebagian lagi berdiri sembari berpidato.

Kini kupahami kenapa aku dipanggil masuk ke ruang guru ? aku diminta ikut berpidato dan akan dinilai bila memenuhi syarat akan dikirim mewakili sekolah lomba pidato tingkat SMP Se-Kabupatenku. Dalam hatiku terbesit pikiran ini saatnya kebersamaanku dengan kertas akan kubuktikan, singkatnya aku dinyatakan lolos mewakili sekolah.

Sesuai dengan jadwal perlombaan dilaksanakan, aku bersama rombongan guru akhirnya menuju tempat pelaksanaan lomba. Ketika tiba dilokasi aku diminta mencabut nomor undian tampil, bagiku bukan soal nomor undian berapa tapi ini menjadi peluang bagiku membuktikan kebersamaanku selama ini dengan kertas.

Panitia perlombaan memanggil satu per satu nomor undian peserta lomba dengan sedikit kesabaran kunanti disebutkan nomor undianku. Pada saat giliran nomor undianku disebut panitia, kulangkahkan kaki dengan mantap kuyakinkan tekatku dan kusingsingkan tiap keraguan yang mencoba merasuki pikiranku serta kuraih mikrofon.

Keberadaanku di atas panggung lomba kurasakan betul kehadiran kertas yang begitu intim. Kertas seolah-olah menuntun tiap ucapanku dan sedikit kesabaran memintaku mengungkapkan berbagai kata-kata mutiara dari berbagai tokoh yang pernah hadir mengisi jalannya sejarah. Aku pun heran mengapa audiens begitu terpukau dengan berbagai kata-kata yang menghiasi pidatoku di atas mimbar.


Rasanya setelah tampil dan turun dari mimbar seolah kertas berujar padaku “Kau telah membuktikan komitmenmu”. Beberapa saat setelah berakhirnya peserta nomor undian terakhir, akhirnya panitia meminta kepada para peserta beserta rombongan untuk menunggu dan mendengarkan pengumuman dari juri.

Salah seorang dari juri akhirnya naik panggung mengumumkan hasil lomba, dengan penuh rasa dag-dig-dug aku pun mencoba tenang dan menyimak secara seksama nama pemenang. Juri mengumunkan dari juara III, juara II dan Juara I, semakin juri berbicara di atas panggung rasanya seluruh aliran ragaku bergetar tak karuan.

Juri mengumunkan Juara III, Juara II tapi namaku tak disebut, kekhawatiranku agak beralasan mengingat ada banyak peserta yang tak bisa diremehkan. Kini gilirannya menanti satu nama terakhir yakni Juara I, tiba-tiba juri menyebut nama yang tak asing ditelingaku segaligus tertera di Kartu Siswaku.

Itulah romansa perjalananku bersama kertas ada suka dan duka, sekali engkau jatuh kedalam pelukan jemari kertas, selamanya engkau tak akan timbul rasa penyesalan, yang ada hanyalah rasa ingin bersama hingga mentari padam dalam pelupuk matamu.

Artikel Terkait