rokok_2.jpg
mutiadio.blogspot.com
Kesehatan · 5 menit baca

Rokok Menghantui Generasi Muda

Sungguh menyedihkan ketika menyaksikan anak-anak muda Indonesia sekarang hidup dikepung oleh iklan rokok. Bahkan banyak remaja dan anak muda yang menjadi perokok aktif berat. Mereka yang seharusnya tumbuh kuat, cerdas dan sehat, tetapi kenyataan yang kita lihat mereka malah tumbuh menjadi anak–anak yang bodoh, loyo dan penyakitan akibat rokok. Sementara itu, penanggulangan dan pengendalian tembakau baru sebatas wacana.

Angin segar pun tiba di tahun 2017, pemerintah ingin menaikkan harga rokok menjadi 50 ribu per bungkus. Benar gak ya? Ada pepatah mengatakan “janji adalah utang”. Walaupun sebatas wacana, tetapi ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi jumlah perokok.

Acara-acara pementasan remaja, seperti konser musik selalu disponsori oleh rokok. Iklan-iklan rokok bergerak, menerabas begitu bebas tiada pantangan. Rasanya tak ada iklan sekreatif, sebriliant dan seinovatif iklan rokok. Mulai dari hasrat berpetualang, keberanian (tunjukkan merahmu), ketenangan, kebersamaan (rame-rame), lebih berasa atau berasa lebih, sensasi meredam emosi sampai bagaimana menjadi pemimpi.

Kesannya begitu kuat dan strategis, mengantarkan anak-anak ke alam bawah sadarnya sehingga mereka tak lagi mengangap bahwa rokok adalah sesuatu yang amat sangat berbahaya. Akibat inilah yang membuat kita menganggap ‘wajar’ bila anak-anak sekolah (pelajar) jamak merokok.

Bahkan selama ini, pemerintah terkesan ”setengah hati” dalam menyikapi masalah rokok, malah dijadikan sebagai ’jualan politik’ yang strategis. Sementara bagi industri rokok, remaja hari ini adalah ’calon tetap’ pelanggan rokok di masa yang akan datang. Mengerikan, bukan?

Ibarat pisau bermata dua, industri rokok hadir dengan manfaat sekaligus madarat. Adapun dilema yang dihadapi pemerintah jika menutup industri rokok, antara lain: pertama, kehilangan sumber pendapatan negara yang begitu besar. Kedua, ketenagakerjaan.

Kehadiran industri rokok dan industri periklanannya mampu membuka ruang besar bagi para pencari kerja. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar industri rokok memiliki daya serap tinggi terhadap ketenagakerjaan.

Nah, di sinilah pemerintah lengah, karena selama ini tak bisa menjamin lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Terakhir adalah dari segi kesehatan. Meminjam ungkapan latin: Men sana incorpore sano. Artinya, di dalam  tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jadi dari segi mana pun, tidak ada untungnya merokok, apalagi bagi kesehatan.

Catatan Buruk

Saya berpendapat bahwa wacana rokok kurang srek dibahas, salah satunya dikarenakan ”rokok” begitu dekat dengan kehidupan kita. Dia ada di sekitar kita. Hal ini jelas membuat kita merasa ”enek” untuk membicarakannya.

Hal yang paling mengkwatirkan adalah, saat ini Indonesia berada dalam urutan ketiga negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia, setelah India dan China. Menurut data terbaru BPS, jumlah perokok pemula (usia 5 – 9 tahun) meningkat pesat tahun ini.

Kita mengetahui bahwa rokok menyebabkan banyak sekali penyakit. Tembakau adalah satu dari sepuluh penyebab kematian orang dewasa di dunia, bahkan tingkat kematian akibat rokok jauh lebih besar ketimbang kematian karena malaria, TBC, kematian maternal dan penyakit-penyakit yang menyerang anak-anak. Jadi, apa pun ceritanya, rokok tak ada manfaatnya, yang ada justru mendatangkan musibah.

Pemerintah sebagai tentunya paham betul dengan dampak buruk dari konsumsi rokok bagi kaum muda dan masa depan bangsa ini. Namun, mari kita lihat bagaimana mereka, dengan kapasitasnya yang mumpuni dalam menanggulangi bahaya rokok selama ini, benar-benar bekerja.

Hal yang paling tragis adalah, penjelasan Fuad Baraja (aktivis anti rokok), dalam diskusi bersama Mata Natjwa (Metro TV, 1/3/2010). Menurut beliau, hal yang paling memiriskan hati adalah hampir 70 % penduduk kita itu perokok aktif. Dan mereka itu adalah orang-orang miskin.

Ironisnya, hampir setengah dari penghasilannya dihabiskan untuk konsumsi rokok. Akibatnya adalah kebutuhan anak-anak mereka tak tercukupi, mereka tak bisa menikmati kehidupan. Pendek kata, mereka tak bisa sekolah. Bila mereka tak sekolah, lantas apa? Pembaca yang cerdas dan proaktif  tentu tahu ke mana arah pena ini menancap.

Bila kita berargumen dari kaca mata kebangsaan, maka kita harus memandang masalah rokok sebagaih masalah yang besar sekaligus urgen, sehingga hal ini patut menjadi kecemasan bersama.

Maju-mundurnya suatu bangsa tak lepas dari kemajuan dan perkembangan yang dialami oleh generasi mudanya. Karena generasi yang sehat, cerdas dan kuat adalah cermin sebuah bangsa dan negara.

Itu sebabnya negara yang bijaksana menjadikan generasinya yang sehat sebagai “aset” bangsa yang patut dijaga (protected) dan dipelihara (saved). Mereka sangat potensial untuk membangun bangsa ini.

Oleh karena itu, masalah tentang rokok bukanlah sekedar masalah penanganan kesehatan. Dan bukan masalah yang hanya butuh diselesaikan oleh pihak–pihak yang berhubungan dengan kesehatan saja.

Lebih dari itu, kita seharusnya memandang bahaya rokok sebagai bahaya laten bagi kepemimpinan dan eksistensi bangsa ini, karena masalah yang diakibatkan bahaya rokok menyentuh semua segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dia seperti sebuah mata rantai yang saling berkaitan satu dengan yang lain, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hukum, sosial hingga kepemimpinan.

Mungkin selama ini kita masih menganggap sepele bahaya yang dapat ditimbulkan rokok. Perlu kita interpretasi lebih dalam lagi, bahwa bahaya rokok ibarat ”bom waktu” yang siap meledak kapan saja. Jika tidak diantisipasi sedini mungkin maka kita tinggal menunggu saatnya untuk menyaksikan kehancuran demi kehancuran bangsa kita ini.

Solusi

Kita mengakui bahwa perang terhadap industri rokok dan iklan rokok secara radikal sangat sulit, karena banyak pihak akan mengalami kerugian yang sangat besar. Namun aksi terhadap penanggulangan rokok ditujukan demi melindungi dan menyelamatkan generasi kita. Rokok dan industri rokok memang telah menempatkan kita pada posisi yang sangat dilematis.

Meski kelihatan sulit, namun kita tidak boleh kompromi terhadap bahaya rokok. Keselamatan dan kesejahteraan generasi muda harus kita utamakan. Sekalipun industri rokok tidak mungkin dihentikan, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk melindungi dan menyelamatkan generasi muda saat ini.

Pertama, pemerintah harus segera merealisasikan undang-undang pengendalian tembakau atau Framework Covenan on Tobacco Control (FCTC) yang sudah diratifikasi 164 negara. Kedua, Presiden bersama DPR harus segera mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang melarang anak merokok.

Karena sampai hari ini belum ada larangan anak merokok dari pemerintah, sementara ekspansi iklan rokok semakin gencar. Akibatnya kebiasaan merokok di kalangan remaja kian menjamur. Melalui PP tersebut, iklan rokok baik melalui media cetak dan elektronik harus ditekan.

Ketiga, Pemerintah harus segera mensahkan UU pengendalian dampak tembakau. RUUnya sudah masuk ke Legislasi Nasional, jadi harus segera disikapi. Diharapkan setelah UU tersebut disahkan, produksi tembakau dan rokok dapat dikendalikan dan bahaya rokok dapat dikurangi.

Selanjutnya, Komnas Perlindungan Anak juga perlu bekerjasama dengan Komisi penyiaran Televisi (KPI) agar dapat bertindak tegas terkait penyiaran iklan rokok di televisi. Televisi kini menjadi media yang sangat strategis untuk mengiklankan produk rokok. Oleh karena itu, setiap iklan rokok dan durasinya serta letak jam tayang yang diberikan kepada industri rokok perlu dievaluasi dan dikurangi.

Kemudian, rasanya perlunya untuk ditampilkan gambar-gambar penyakit yang diakibatkan oleh rokok di bungkus rokok secara penuh, karena selama ini peringatan pemerintah tentang bahaya merokok hanya dalam kolom kecil, sehingga tak berarti apa-apa.

Terakhir, Semua ruang publik harus dibersihkan dari iklan rokok. Begitu juga dengan tempat-tempat umum, semuanya harus menjadi zona bebas rokok. Pemerintah harus memberi jaminan hukum bahwa ruang-ruang publik seperti rumah sakit, panti asuhan, sekolah, kampus, puskesmas, perpustakaan, di dalam bus harus bebas dari asap rokok.

Jadi, mengingat betapa besarnya bahaya yang diakibatkan rokok, maka upaya untuk penanggulangan dampak bahaya yang ditimbulkan rokok dan ekspansi iklan rokok bagi generasi muda harus dimatangkan.

Perang terhadap bahaya rokok bukan hanya PR pemerintah, tetapi tanggung jawab semua pihak tanpa terkecuali. Kalau memang kita semua mau menyelamatkan generasi muda, maka upaya menyelamatkan mereka dari bahaya rokok sedini mungkin jangan ditawar-tawar.