Bicara rokok, kebanyakan kita hanya akan membahas dari sisi kesehatan maupun bisnis para produsen. Para perokok biasanya akan membahas rasa, namun hanya pada konten. Jarang sekali didiskusikan pengemasannya yang ternyata menghasilkan cita rasanya.

Ternyata cita rasa bukan hanya dipengaruhi cengkeh dan campurannya. Kertas pembungkusnya, baik jenis kretek maupun filtered, memengaruhinya. Dengan demikian, maka kertas pengemasnya bukan hanya mempercantik tampilan, akan tetapi memengaruhi apakah enak atau tidak dinikmati. 

Itu artinya industri rokok berutang jasa pada industri kertas dan pulp. Sebagai produk pohon, karena mulai dari kertas pembungkus hingga isi dalamnya berasal dari pohon, maka kepunahan rokok juga bergantung pada hutan.

Umumnya sebatang rokok dibalut dengan kertas yang terbuat dari selulosa. Sedangkan selulosa sendiri berasal dari serat tanaman yang sebelum menjadi lembaran diolah menjadi pulp terlebih dulu. Kertas jenis ini disebut dengan kertas ambri, dan biasanya demi menjaga keputihan warna digunakan zat tambahan. Ambri digunakan agar membentuk abu yang baik dan menjaga pembakaran yang baik.

Jenis kertas lainnya yang digunakan ialah kertas yang disebut kertas Tipping (CTP). Pada prinsipnya, kertas CTP bisa digunakan untuk produk jenis SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan SKM (Sigaret Kretek Mesin). Demi mengurangi kadar tar dan nikotin, kertas CTP biasanya dikolaborasikan dengan kertas perforasi.

Selanjutnya, kertas yang biasa digunakan ialah etiket. Jenis kertas ini berfungsi untuk menerangkan sekalimat peringatan pemerintah, kandungan, serta memiliki pengaruh penting pula sebagai daya pikat. Jenisnya kertas ini pun terbagi dua: hard pack dan soft pack.

Jika kita amati dengan saksama di dalam sebatang rokok terbanyak sekali unsur kertas. Pertanyaan kemudian muncul, seberapa peduli industri tersebut terhadap lingkungan, terutama pepohonan dan hutan kita? Padahal industri itu sangat bergantung pada industri kertas dan keduanya sangat bergantung pada pohon sebagai bahan baku utama.

Namun yang terjadi, ketika pohon makin berkurang, yang sering disalahkan oleh awam ialah industri kertas. Menariknya lagi, banyak aktivitas negara dibantu oleh industri rokok. 

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris menyampaikan, sejumlah strategi untuk mengatasi defisit keuangan pada 2019. Menurut Fahmi, BPJS Kesehatan akan tetap mengadaptasi sejumlah kebijakan yang telah dibuat selama dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait.

“Pemerintah mengadakan rapat sepanjang tahun dan menghasilkan strategi. Salah satunya dengan pajak rokok, lalu bagaimana menjamin keuntungan secara keseluruhan dari program jaminan sosial.” (Kompas)

Selama 10 tahun terakhir, penerimaan negara dari cukai makin meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif ini sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp145,53 triliun pada 2016.

Sumbangsih industri rokok terhadap negara memang cukup besar. Pertanyaannya, sudahkah perusahaan-perusahan tersebut peduli dengan hutan kita? Sudahkah perusahaan-perusahaan tersebut menyisihkan keuntungan untuk kelestarian dan menjaga lingkungan?

Padahal menurut peneliti dari San Diego State University, sebagaimana dilansir Mirror UK, puntung rokok yang termasuk filter di dalamnya lebih mengontaminasi lautan dari pada sedotan plastik. 

Itu artinya sumbangan sampah rokok terhadap kerusakan lingkungan tidak sepele. Belum lagi limbah perusahaan-perusahaan yang sudah pasti merusak lingkungan bila dikelola tidak sesuai dengan aturan. 

Para perokok yang membuang puntung sembarangan perlu diedukasi. Jika ingin tetap menikmati, sebaiknya perokok membuang puntung pada tempatnya. Sebabnya, filter yang terbuat dari kayu akan sulit terurai dan dalam jangka panjang dan akan merusak kandungan air di dalam tanah (Merdeka). 

Menurut dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Satyanto, racun yang terdapat dalam puntung, bila keluar dan bercampur dengan tanah, bisa mematikan mikro organisme atau biota lain di dalam tanah. 

Karenanya, perlu semacam imbauan pada bungkusnya agar para penikmatnya membuang puntung pada tempat sampah. Harus diberi peringatan bahwa membuang puntung sembarangan akan merusak lingkungan termasuk air dan tanah. Bila perlu, Pemda dapat membuat regulasi terkait sampah rokok.

Para perokok akan diberikan sanksi apabila membuang puntung sembarangan. Regulasi ini diperlukan agar lingkungan terjaga. Bayangkan bila puntung-puntung dibuang di hutan-hutan kita. Bukankah merugikan para perokok dan industri rokok? Bukankah nyaris semua bahan sebatang rokok dari pohon, mulai kertas pembalut hingga filternya?

Bahkan puntung-puntungnya juga sering kita dapati di objek-objek wisata. Selain mengganggu keindahan, puntungnya dapat menyebabkan pohon di sekitar mendapatkan air yang tercemar. Pada gilirannya akan mengganggu pertumbuhan bahkan mematikan pohon kita.

Karena sampah rokok tergolong dalam jenis sampah residu, maka harus dipisahkan dengan sampah lain. Di Jepang, sampah rokok dibakar, tujuannya meminimalisasi racun pada sampahnya. Sekali lagi, meski terbuat dari kertas dan selulosa pohon, sampah rokok sangat sulit terurai. Para perokok, bertanggungjawablah atas sampahmu.

Bagi perusahaan produsen, menambahkan imbauan soal membuang puntung di tempatnya pada bungkus rokok menurut saya penting dilakukan. Lingkungan yang rusak akibat sampah rokok pada akhirnya akan menghentikan industri rokok; mau produksi berhenti?