Penikmat Kopi
2 bulan lalu · 156 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 30269_24442.jpg
roemrahman.blogspot

Rokok: Antara Sumber Penyakit atau Inspirasi

Permasalahan yang menjadi polemik hari ini yang tak terselesaikan adalah rokok. Apakah rokok bisa menjadi sumber inspirasi atau malah mengakibatkan gangguan kesehatan bagi para penggunanya?

Masalah seperti ini sulit sampai pada titik penyelesaian. Comtohnya saja di tempat-tempat umum banyak bertuliskan “Dilarang Merokok“. Tapi sampai sekarang ini, perusahaan rokok belum juga berhenti memproduksi.

Nah, hal ini dapat melahirkan persoalan yang dilematis, dimana perusahaan rokok merupakan pendapatan Negara dengan tarif pajak tertinggi, tapi disisi lain pula rokok dianggap mengakibatkan gangguan kesehatan bagi para penggunanya.

Bagi orang yang sudah candu dengan rokok tidaklah mudah untuk berhenti merokok. Karena bagi para pecandu, rokok dijadikan sebagai sumber inspirasi dan penghilang stres. Terutama di kalangan pemuda sendiri, rokok dijadikan sebagai teman hidup, tanpa rokok sama halnya membunuh batin para pecandunya. 

Namun, ada yang menarik dalam masalah ini tentang pelarangan rokok oleh negara. Contohnya dalam Pemda DKI Jakarta yang mengeluarkan peraturan tentang larangan dan pembatasan terhadap perokok, yang di mana rokok dianggap sebagai sumber penyakit yang perlu diberantas. 

Tapi, larangan perokok ini justru banyak yang menuai pro-kontra, bahkan banyak yang menolak pelarangan tersebut.

Jika kita melihat dunia luar, contohnya di benua Amerika, justru orang yang merokok tidaklah terlalu masalah. Yang di mana tembakau adalah bahan dasar dari rokok yang banyak dimanfaatkan sebagai obat oleh penduduk pribumi Amerika dan menjadi tradisi yang perlu dilestarikan untuk menjadi pengobatan rakyat Amerika hingga abad ke-20. 

Dalam penelitian Brown RW, Gonzalez Cl. Whinshow IQ, Kolb B dalam kajiannya menunjukkan bahwa “nikotin unsur dari tembakau yang merangsang pemulihan kerusakan otak dan hasilnya dibahas dalam kaitannya dengan mekanisme syaraf dan kemungkinan pemanfaatannya“. Dan masih banyak penelitian lain yang membuktikan manfaat tembakau bagi kesehatan.

Justru ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah betul rokok sumber dari penyakit atau malah menjadi alat hegemoni dalam melakukan doktrin-doktrin tak jelas terhadap penggunanya? Atau malah ini akal-akalan para kapitalis untuk memperebutkan keuntungan. 

Dan ini terbukti ketika terjadi perang Nicotin di mulai pada abad sekitar tahun 1962 antara Perusahaan Farmasi dengan Perusahaan Tembakau. Perusahaan Farmasi yang menawarkan Nicotin Replacement Therapy (NRT) atau senyawa yang mirip Nicotin banyak melakukan kampanye anti rokok, di mana rokok sebagai sumber dari penyakit dan perusahaan ini banyak memberangus buku-buku tentang manfaat Nicotin. 

Dan ini sudah terlihat jelas bahwa perusahaan Farmasi ini ingin mengusai pasar Nicotin. Dan juga ingin menyingkirkan Perusahaan Rokok yang memakai Nicotin asli. 

Dalam buku Nicotin War yang ditulis oleh Wanda Hamilton, disebutkan mengenai cara kerja Perusahaan Farmasi membangun propaganda anti-rokok dengan cara memperkokoh hubungan dengan organisasi-organisasi anti tembakau global, para pemuka dunia kedokteran, WHO dan badan-badan pemerintah federal AS yang mempunyai legitimasi dan kepercayaan publik.

Selain dari hegemoni Perusahaan Farmasi di atas, yang banyak melakukan manipulasi fakta tentang rokok, hal lain yang juga menarik adalah adanya pembatasan merokok bagi perempuan yang di mana lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki. 

Lihat saja, di kalangan keluarga maupun seorang perempuan yang merokok dianggap sebagai wanita amoral yang sudah keluar dari kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Tapi, justru ini adalah bentuk cara kerja sistem patriarki yang selalu membatasi kebebasan perempuan. 

Contohnya saja dalam iklan rokok seperti “Pria Punya Selera“. Nah kalau dilihat dari iklan tersebut, rokok selalu dikonstruksi dan diidentikan dengan maskulinitas (nilai kelaki-lakian). Namun ini tidak berarti perempuan tidaklah boleh merokok. 

Dalam beberapa penelitian di Eropa dan Amerika justru menunjukkan bahwa wanita yang biasanya merokok adalah wanita-wanita karier yang sukses. Jadi, tidak ada persoalan gender antara laki-laki dan perempuan yang lebih berhak merokok. Ini hanyalah konstruksi etika ketimuran yang sudah tertanam dalam masyarakat.

Sampai sekarang ini, rokok akan terus menjadi perbincangan. Dan publik harus mengetahui bahwa rokok tidak serta-merta sumber penyakit. Justru polemik seperti ini dijadikan sebagai pintu masuk kongkalikong oleh orang-orang yang hanya mementingkan dirinya. Bukan rokoknya yang bermasalah, tapi malah rokok menjadi ladang perebutan keuntungan. 

Realitas yang juga bisa kita lihat di kalangan lingkungan sekitar bahwa ternyata perokok ada yang umurnya sampai 70-an yang jika dibandingkan orang bukan perokok malahan banyak yang mengalami lumpuh ataupun penyakit lainnya. Dan apabila kita pikirkan secara logis, penyakit itu muncul bukan karena rokok melainkan banyak sumber lain yang bisa melahirkan penyakit. 

Contohnya saja di zaman sekarang dengan banyaknya makanan yang mengandung bahan kimia dan itu bisa juga menjadi sumber penyakit atau malah malasnya beraktivitas/olahraga yang juga menjadi pemicu dalam kesehatan. Nah, ini sudah terbukti bahwa rokok bukan semata-mata sumber penyakit.