Sejak dahulu, jauh sebelum manusia mengenal agama, kekerasan sudah ada. Praktiknya adalah perang antar kelompok memperebutkan tanah dan kekuasaan (koloni) di masyarakat purba. Hingga manusia mengenal agama, kekerasan tetap ada.

Jelas dalam konteks ini, memang agama bukan sumber kekerasan, tapi ada banyak kekerasan yang dilegitimasi dengan menggunakan agama. Konteksnya tetap sama; perebutan tanah dan kekuasaan.

Zionisme (Yahudi ortodoks), ISIS (Islam fundamentalis), hinggga Kelompok Ashin Wirathu (Buddha ekstremis) di Myanmar sekarang ini, dari dulu sampai sekarang, akar kekerasan selalu berhulu pada soal tanah dan kekuasaan. Agama sebagaimana kepercayaan di masyarakat purba hanya dipakai untuk melegitimasi perang, agar manusia punya alasan kuat (irrasional) untuk berperang.

Kejahatan dan kekerasan tidak mengenal agama, bahkan ideologi non-agama sekalipun. Semuanya punya jejak sejarah kekerasan yang tidak kalah mengerikan; NAZI (Jerman) hingga Stalinisme (Soviet).

Tanah yang dalam konteks sekarang ini adalah minyak. Kalau dulu sebelum fase industrialisasi (zaman merkantilisme) ia berwujud rempah-rempah yang mendorong lahirnya kolonialisme yang memantik dua perang besar yang paling mengerikan; perang dunia I dan II. Kedua-duanya merujuk pada perebutan faktor produksi.

Analisis Marx yang memandang sejarah pertentangan manusia sebagai sejarah perubahan corak produksi yang mendorong lahirnya perebutan faktor produksi selalu relevan hingga sekarang ini. Dalam konteks lebih luas, ia tidak hanya melahirkan pertentangan kelas, tapi juga pertentangan dalam kategori wilayah antarbangsa (nation) memperebutkan faktor produksi.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana negara-negara besar bisa menggerakkan roda industri mereka tanpa minyak. Tanpa minyak, maka nyaris tak ada satupun negara besar yang bisa berdiri bertahan. Itu sebabnya tidak heran ketika negara-negara berkembang, seperti Timur-Tengah yang memiliki hampir separoh cadangan minyak di dunia terus bergejolak yang melibatkan negara-negara besar.

Tak jauh beda dengan Rakhine di Myanmar sekarang ini, ada faktor produksi yang memantik segala bentuk kejahatan kemanusiaan bisa terjadi yang melibatkan kekerasan negara terhadap sipil.

Karena itu cukup naif, dangkal, dan tidak bertanggung jawab, ketika konflik yang terjadi di Timur Tengah atau pun Rohingya sekarang ini banyak yang mengokupasi dengan membobastiskan informasi sebagai konflik agama. Sangat naif.

Anda tak bisa berkata bahwa yang dilakukan ISIS di Timur-Tengah untuk menegakkan agama. Seperti naifnya ketika mengatakan apa yang dilakukan Zionis di Palestina sebagai upaya menegakkan agama Yahudi. Ini semua tentang tanah, kekuasaan, dan minyak. Sama seperti yang terjadi di Rakhine yang dikabarkan berada dalam jalur pipa bisnis minyak milik negara-negara tertentu yang bertepatan di lokasi tempat etnis Rohingya bermukim.

Sejarah manusia sudah cukup kenyang dengan perang. Dari situ kita belajar, bahwa kekerasan tidak pernah berdiri sendiri dan ada begitu saja.

Kalau saja perang adalah urusan agama, seyogyanya kita tidak akan pernah melihat bagaimana Arab Saudi bersama koalisinya yang mayoritas Islam bersekutu dengan Amerika Serikat yang mayoritas Kristen dalam menggempur Yaman? Atau  kita tidak akan pernah melihat bagaimana Arab Saudi berdiri satu baris dengan Israel dan AS menggempur Suriah kan?

Singkatnya, kejahatan lahir karena kepentingan. Manusia bersekutu atau pun berperang bukan karena agama melainkan karena kepentingan (ekonomi). Sebab kejahatan seperti halnya dengan kebaikan ia tidak punya agama. Genosida yang terjadi di Myanmar adalah kejahatan kemanusiaan. Yang kebetulan menggunakan framing agama, dalam arti mengeksploitasi agama untuk melakukan kejahatan baik sadar maupun tidak kita sadari, itulah yang terjadi.

Kalau banyak yang menggunakan agama untuk kekerasan, maka sebaliknya kita pun bisa menggunakan hal yang sama (agama yang sama) untuk melawan kejahatan/kekerasan itu sendiri. Dan ada banyak sejarah yang menggambarkan hal itu.

Penolakan dari kelompok Vihara Mendut baru-baru ini atas rencana kedatangan Aung San Suun Kyi adalah contohnya. Ini sangat patut diapresiasi. Sama ketika salah satu kelompok Rabi Yahudi (sekter Heredi, Naturei Karta, dll) di Palestina dan Eropa menolak Zionisme, atau sama ketika kelompok moderat dan progressif Islam diberbagai negara menolak dan melawan ISIS.

Melawan segala bentuk penpolitisasian agama untuk kejahatan dan kekerasan mesti dilawan dengan menggunakan agama itu sendiri.

Teringat kata-kata Ali Syariati; agama melawan Agama. Agama pembebasan mesti melawan agama perbudakan. Agama cinta harus melawan agama kebencian. Itulah tugas siapa saja yang mengaku beragama.

Ada banyak kegilaan di setiap pengikut agama, yang harus dilawan oleh pengikut agamanya sendiri. Sektarianisme, fundamentalisme, ekstremisme, tak perlu jauh-jauh cari di agama lain, semua ada di semua agama, termasuk di agama kita masing-masing.

Sektarianisme, fundametalisme, dan esktrimisme beragama, mungkin tidak akan menjadi sumber primer dari segala bentuk kekerasan dan perang, namun ialah yang paling mudah disulut untuk mengobarkan kebencian yang bersifat politis (kebenaran yang dipelintir) dalam jebakan SARA untuk memantik situasi menjadi tidak kondusif.

Sebab gejala beragama demikian ibaratkan akar kering, yang ketemu api, maka ia akan mudah terbakar. Sebab sekali isu SARA berhembus dan diterima, maka sejak itu pula manusia akan kehilangan nalar untuk memahami realitas yang sebenarnya, seperti yang terjadi belakangan ini.

Mari, sisakan kepedulian sekaligus kewarasan melihat kejadian di Rohingya. Kepedulian tanpa kewarasan sama bahayanya dengan pisau di tangan orang bodoh.