Rocky Gerung, orang yang dipanggil “prof” oleh pendukungnya, menjadi sosok yang fenomenal. Orang ini fenomenal di Twitter, dengan setiap cuitanya yang tajam, mengkritik dan merendahkan orang lain. Ia begitu suka dengan istilah “dungu”.

Orang ini memiliki pemikiran yang dianggap kritis oleh pendukungnya. Ada satu cuitan yang rasanya bisa mencerminkan siapa orang ini sebenarnya. Di dalam Twitter-nya ia mencuitkan begini.

“Mudik lewat tol lancar jaya. Artinya: Banyak yang gak mampu bayar tol. Gitu aja kok dungu.”

Jika ia benar seorang profesor, tentu ia tidak akan mengkritik dengan nada mendungu-dungukan orang. Apalagi orang ini disebut-sebut sebagai pengajar. Tapi apa yang akan didapatkan oleh para pelajar, jika pengajarnya suka menghina dan mendungu-dungukan sesamanya?

Orang ini memiliki keanehan dalam cuitannya. Sudah dapat dipastikan, bahwa akun Rocky Gerung ini memang miliknya pribadi. Orang yang digadang-gadang oleh pendukung Prabowo karena dianggap sebagai sumber dari akal sehat, justru semakin menjauh dari akal sehat.

Dari cuitan yang ia lakukan di Twitter, Rocky Gerung ini terlihat penuh dengan amarah. Alih-alih iseng, tajam dan kritis, orang ini lebih terlihat sedang marah. Marah kepada siapa? Marah kepada dirinya. Terkesan di setiap cuitannya, ada rasa ketidakpuasan pada dirinya.

Jujur saja, saya kasihan melihat orang ini. Saya kasihan melihat bagaimana cuitannya, justru memakan dirinya hidup-hidup. Orang ini begitu terlihat iri dengan hasil kerja pemerintah saat ini. Tidak ada sedikitpun apresiasi.

Mengkritik jalan tol bebas hambatan, tapi pikiran penuh dengan hambatan, adalah cuitan Rocky Gerung selanjutnya di Twitter. Saya penasaran, orang ini mungkin sedang kesepian. Saya curiga, jangan-jangan kebencian sudah menelannya hidup-hidup.

Iri hati sudah menelannya hidup-hidup. Menghina para pendukung Jokowi dengan sebutan IQ 200 sekolam, dengan istilah cebong, dungu dan sebagainya, memperlihatkan bagaimana orang ini memang memiliki pikiran yang penuh sumpah serapah.

Orang ini justru jauh dari akal sehat. Orang ini semakin lama semakin tertawan, dengan setiap jebakan-jebakan yang ia buat sendiri. Selama ini, saya mengenal Rocky Gerung, sebagai sosok yang penuh kebencian. Orang ini sudah terlihat tidak sehat.

Di usianya yang ke 59 tahun ini, dia masih saja sendiri. Hasratnya sudah tidak bisa dibendung. Di dalam setiap cuitannya, ia juga sering mencuitkan kegundahannya dan kesepiannya. Saya khawatir, orang ini sedang mengalami masa-masa sulit di dalam hidupnya.

Beberapa cuitannya, mempertontonkan dirinya sepenuhnya. Yang kesepian, sendirian, dan penuh ketidakpuasan terhadap dirinya. Orang ini butuh aktualisasi diri. Apalagi sudah lama hidup di dunia ini. Sudah lebih dari setengah abad, hidup di dalam kesendirian.

Gelar “prof” yang tak kunjung membuat dirinya menjadi “profesor”. Ternyata dia bukan profesor. Dia adalah lulusan S1. Tidak ada niatan saya sedikitpun untuk melecehkan S1. Saya pun lulusan S1. Tapi menurut pengajaran Yunani, saya adalah orang yang gnothi seauton. Apa itu gnothi seauton?

Know thyself. Mengenal diri. Saya mengenal diri saya. Saya adalah S1, dan tidak dipanggil prof. Pemikiran saya mungkin bisa disetarakan dengan profesor. Tapi saya tidak mau disebut itu. Karena apa? Karena saya tidak mau menjadi orang yang menyalahi aturan akademis yang ada. Ya, bicara kemampuan, saya mungkin belum mengenal diri saya sendiri, ya?

Peperangan pemikiran dan peperangan cara pandang ini harus kita menangkan. Kita harus memenangkan akal sehat di atas kebencian. Kita bisa mengubur kebencian dalam-dalam di dalam pemikiran kita, agar kita terbebas.

Rocky Gerung justru terikat dengan kebencian yang ada. Dia mewakafkan dirinya, menyerahkan jiwanya ke dalam kebencian. Kebencian demi kebencian terlihat di dalam setiap cuitan Rocky Gerung.

Orang ini terlepas dan tidak bisa tidak untuk berhenti membenci. Orang ini selalu penuh dengan amarah, ketidakpuasan dan kebencian terhadap pemerintahan yang sah.

Tidak ada sedikitpun ruang untuk melakukan apresiasi. Karena orang ini sudah tertawan. Tertawan dengan kebencian. Tertawan dengan apa yang dinamakan… “Ketidakpuasan”. Orang ini tidak puas.

Seperti yang saya tuliskan di atas, aktualisasi dirinya begitu terbatas. Seharusnya orang ini berubah, tapi ia tidak kunjung berubah. Sulit bagi kita untuk mengubah pemikiran Rocky Gerung. Orang ini sudah terlalu lama berkubang di dalam kebencian. Orang ini sudah terlalu lama mewakafkan dirinya tehadap ketidakpuasan diri.

Orang yang merasa sudah pintar, lebih sulit berubah. Dan karakter ini sudah sangat jelas terlihat di dalam dirinya. Orang ini sudah terlalu lama tenggelam di dalam ketidakpuasan.

Besar harapan saya, agar Rocky Gerung bisa berubah. Tidak merendahkan orang, untuk menganggap dirinya sebagai orang yang tinggi. Pintu untuk perubahan masih terbuka, meski semakin lama semakin sempit. Semoga ia berubah. Menjadi orang yang lebih waras, dan mengedepankan akal sehat.

Selamat merayakan kebebasan pikiran, Bung Rocky.