1 tahun lalu · 18626 view · 3 menit baca · Budaya 65430.jpg
Rocky Gerung (Foto: kbr.id)

Rocky Gerung, Sang Sofis di Zaman Hoax

Malam itu, mata saya menolak untuk pejam. Penyebabnya adalah twitwar seru yang terjadi antara Rocky Gerung dan Nirwan Arsuka. Twitwar ini dimulai ketika Nirwan Arsuka mencoba mengklarifikasi pernyataan Rocky Gerung pada salah satu acara di stasiun swasta yang membahas tentang soal kelompok penebar hoax kebencianbernama Saracen.

Saya menyimak twitwar seru antara dua begawan kebudayaan itu dengan penuh hikmat. Mereka berdua adalah para pemikir yang saya kagumi gagasannya. Mereka berdua sama-sama pernah menulis pidato kebudayaan tahunan forum DKJ. Maka, tak perlu lagi meragukan kemampuan dua orang ini dalam beragumen. Namun sayang, Rocky Gerung kini bukan Rocky Gerung yang saya kenal.

Rocky Gerung, dalam forum acara itu, menyebut-nyebut hoax sokal. Hoax yang dibuat oleh seorang professor fisika bernama Alan Sokal.

Hoax sokal sempat menggemparkan dunia akademik ilmuwan eksak pada masa itu. Karena, Alan Sokal menulis artikel berjudul Transgressing the Boundaries:Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity dalam jurnal bergengsi Social Text.

Motif Alan Sokal menulis artikel itu ternyata hanya untuk menguji kredibilitas dan nalarkritis para ilmuwan saja. Sokal mengakui bahwa yang ia tulis itu hoax. Maka, gemparlah publik akademik saat itu.

Kontroversi hoax sokal diceritakan kembali oleh Rocky Gerung dalam acara itu. Ia seolah-olah ingin menyamakan hoax sokal dengan hoax saracen, sama-sama untuk menguji nalar kritis. Meskipun Rocky Gerung tak secara blak-blakan menyimpulkan hoax sokal dengan hoax saracen.

Tapi jelas, hoax saracen dengan hoax sokal sama sekali tak sebangun. Hoax sokal barangkali memang mengandung motif untuk menguji nalar kritis dan gairah akademis yang kala itu dianggapnya mandeg. Sedangkan hoax saracen tak lebih dari sampah berisi fitnah.

Hoax saracen hanya layak disamakan dengan hoax-hoax keji yang pernah dilakukan oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bush. Kita tentu masih ingat bahwa Goerge Walker Bush pernah membuat hoax keji yang berakhir menjadi tragedi perang. Bush dan para sekutunya menuduh Iraq menyimpan senjata pembunuh massal.

Karena tuduhan itu, Iraq jadi hancur lebur. Para pasukan militer Amerika Serikat membombardir Iraq. Banyak kerusakan dan kerugian yang dialami oleh Iraq. Bahkan, kerugian kejahatan perang ini juga ditanggung oleh Amerika. Joseph Stiglitz, salah seorang ekonom pemenang hadiah Nobel Ekonomi, menganalisa bahwa Amerika Serikat menghabiskan 3 trilliun dollar dalam perang Iraq.

Dan ternyata, tuduhan senjata pemusnah massal itu hoax belaka. Bush mengaku bahwa tak pernah mengatakan itu. Pengakuan ini juga diikuti oleh para sekutunya. Mereka tak pernah merasa pernah mengatakan bahwa di Iraq ada senjata pemusnah massal.

Semuanya kini memang menjadi terang bahwa di Iraq memang tak pernah ada senjata pemusnah massal. Namun, semuanya sudah terlambat. Hoax keji telah membuat Iraq dicabik-cabik. Seharusnya, cerita hoax Amerika Serikat ini yang perlu diangkat oleh Rocky Gerung.

Rocky Gerung nampak begitu liat ketika sedang berbicara soal hoax saracen. Baginya, upaya memberangus hoax yang dilakukan pemerintah adalah tindakan otoriter. Hoax menurutnya justru bisa menjadi alat penyeimbang dalam iklim demokrasi kita. Hoax bisa jadi palu godam yang menguatkan nalar kritis. Tapi, sekali lagi, hal itu tak berlaku untuk hoax saracen.

Untuk menguatkan pendapatnya itu, Rocky gerung menjelaskan gagasannya dengan retorika yang berbelit-belit. Ia tidak mau langsung membuat premis-premis yang memantapkan kesimpulannya. Padahal, dalam beberapa tulisannya yang saya baca, Rocky lebih suka memakai premis yang jelas dan diksi yang agitatif.

Tapi, kini ia jadi berbeda. Rocky Gerung lebih asyik memaparkan argumentasi dengan pernak-pernak filsafat yang tak mudah dipahami orang awam macam saya. Ia juga sering memakai perumpamaan sarkastik yang hanya ingin mengolok-olok tanpa mau menunjukkan jalan.

Rocky Gerung mengingatkan saya pada kaum sofis pada era Yunani Klasik dan Hellenistik. Mereka adalah gerombolan filsuf yang getol berbicara tentang relativisme moral. Mereka berseloroh dengan retorika njelimet yang terkesan masuk akal, padahal mengandung fallacy (kekeliruan). Beberapa di antara mereka yang dikenal, misalnya, Protagoras dan Gorgias.

Alih-alih memaparkan pandangan-pandangan filosofisnya untuk mencerahkan akal masyarakat pada zaman itu, mereka justru membuat pandangan masyarakat jadi gelap. Tujuan mereka jelas hanya satu: uang.

Kaum sofis hanyalah sekumpulan orang yang ingin menjajakan kepintarannya. Pada era Yunani kuno abad ke-5 SM, kaum sofis memang dirawat oleh kekuasaan tertentu. Sehingga jelas, mereka memang berpihak pada kepentingan seseorang. Kaum sofis bisa disejajarkan dengan para motivator yang sering mengemas cara sukses dengan retorika yang manis.

Rocky Gerung, filsuf yang saya kagumi itu, kini tak ubahnya seperti kaum sofis di era Yunani Klasik. Berlarat-larat dengan retorika khas filosof, namun pada akhirnya hanya menghamba pada kepalsuan. Saya sangat kecewa, Prof.

Namun, tak apalah. Waktu (dan uang) bisa membuat manusia berubah. Tapi, ingin bertanya Prof, apakah hoax yang beredar seputar konflik etnis Rohingya di Myanmar juga bisa meningkatkan IQ?