Beberapa hari terakhir ini, publik meributkan pernyataan dosen Filsafat UI Rocky Gerung dalam sebuah acara bertajuk dialog di salah satu stasiun TV swasta di tanah air. Pengamat politik yang belakangan memiliki banyak lovers dan haters tersebut menjadi sorotan setelah dia mengatakan, “Kitab suci itu fiksi!”

Beberapa update status dan media menonjolkan sebagian kata itu sehingga menyeret ungkapan tersebut untuk menambah muatan diskusi terkait isu SARA. Sebagaimana diketahui, mulai dari puisi “Ibu Indonesia” Sukmawati, “Kau Ini Bagaimana” yang dibaca Ganjar, semuanya menjadikan tema penistaan agama kerap dibicarakan akhir-akhir ini.

Saya kira kita perlu menilai ungkapan Rocky Gerung tersebut secara utuh berdasarkan konteks ucapan dan bagaimana ia memberikan pemaknaan bagi setiap istilah yang ia gunakan melabeli berbagai fenomena atau sesuatu yang ia singgung, termasuk soal kitab.

Sebuah ungkapan populer bilang, “separuh kebenaran itu lebih berbahaya dari seluruh kebohongan.” Jika kita hanya menangkap sepenggal saja dari sebuah statement, maka ia mengalami banyak reduksi dan bahkan bisa mengkaburkan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan komunikator.

Atau bahkan bisa diarahkan pada sebuah maksud tertentu yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh subjek pembicara. Ini lebih berbahaya daripada sebuah informasi yang keseluruhan adalah fiktif.

Pada awalnya, Rocky memberikan pandangannya terkait istilah “fiksi” yang sedang ramai diperbincangkan. Tentu ini tidak lepas dari video orasi Prabowo Subianto yang viral mengatakan “Indonesia Bubar 2030” yang ternyata merujuk pada Novel “Ghost Fleet” karya PW Singer. Rocky ingin menepis prespektif yang mengarah pada pemaknaan kata fiksi di arena politik sebagai konotasi kata yang cenderung negatif.

Rocky mendefinisikan fiksi sebagai narasi yang bersifat imajiner, mengarah ke masa depan, hingga para pembaca bisa berimajinasi tentang hal tersebut.

Lebih jauh, Rocky menjelaskan bahwa lawan kata dari fiksi bukanlah fakta, namun realitas (sesuatu yang telah terjadi). Sedangkan antonim dari fakta adalah fiktif atau bohong.

Dengan mendudukkan fiksi secara definitif di atas, Rocky menyatakan, kitab suci itu fiksi. Sebab, contoh, kitab suci mengatakan tentang keindahan surga yang diperuntukkan bagi orang yang beramal baik. Kita belum merasakannya, tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan di surga. Hingga orang-orang berlomba berbuat baik. Itu fiksi.

Gamblangnya, fiksi adalah bayangan yang coba meneropong atau meramal sesuatu di masa depan yang tidak bisa dituntut untuk berlangsung di waktu sekarang. Atau, fiksi adalah sebuah pikiran terhadap sesuatu yang suatu saat diyakini terjadi. Ia memiliki semacam energi untuk membangkitkan seseorang mencapai tujuan itu. Titik tekannya, fiksi tidak bisa dipermasalahkan atau bahkan sekadar dibandingkan dengan realitas.

Penjelasan Rocky tersebut terkesan mengajak masyarakat untuk tidak meributkan beberapa hal yang dianggap fiksi. Ungkapan Prabowo bahwa 2030 Indonesia bubar serta hastag #2019gantipresiden hanyalah sebuah imagined yang tidak perlu dipersoalkan. Itu hanyalah imajinasi masa depan, berarti tidak bisa disebut bohong dan bisa saja terjadi atau pun tidak.

Ketika Rocky memberikan diskresi konsep tentang fiksi, persoalannya, apakah kita menyetujui atau tidak pemaknaan yang ia berikan. Harus pula dipahami, konsep (dalam Ilmu Manthiq disebut tasyawur) adalah sebuah istilah yang telah diberi makna tertentu oleh seorang ilmuwan berdasarkan cara pandang subjektivitasnya dalam menilai sesuatu. Sedangkan intepretasi (tashdiq) adalah bagaimana kita menilai sesuatu itu berdasarkan konsep yang ia buat.

Hal yang harus dipersoalkan bukan terletak pada ungkapan kitab suci adalah fiksi, karena itu adalah intepretasi yang lahir dari konsepsi fiksi Rocky, namun apakah kita menyetujui atau tidak pemaknaan konsep yang diberikan.

Bagi saya, umat beragama yang mempercayai kitab suci, terutama Islam, patut tidak menyepakati ungkapan tersebut karena Rocky telah memukul rata semua khayalan di masa depan dalam urusan politik dan keyakinan agama sebagai fiksi yang bisa terjadi atau tidak.

Konsep tentang fiksi untuk menilai pertarungan politik bisa dibenarkan. Apakah besok presiden Indonesia berikutnya incumbent atau tidak, bukan menjadi soal. Sebab, kemungkinan sesuatu itu terjadi atau tidak bisa diterima dengan mudah. Politik adalah sekumpulan kondisi yang serba hadir dan bersifat dinamis.

Namun ketika konsep itu merambah persoalan spiritual, sesuatu yang begitu esensial bagi kehidupan manusia beragama, itu akan menjadi masalah. Bagi umat Islam misalnya, tidak ada ruang yang memungkinkan untuk berpendapat apakah bayangan terhadap surga dan neraka itu bisa ada atau tidak. Pasti ada dan bakal terjadi.

Ungkapan kitab suci adalah fiksi sama saja dengan menyatakan bahwa gambaran kaum beragama tentang kehidupan setelah kematian masih terbuka untuk diperselisihkan kebenarannya di masa depan, sama halnya dengan Indonesia Bubar 2030 dan 2019 ganti presiden. 

Pengertian lain yang masih terbuka dipermasalahkan adalah memaknai realitas sebagai sesuatu yang telah terjadi. Fakta bukanlah realitas. Seakan-akan realitas dan fakta adalah istilah yang tidak saling terkait.

Dalam Ilmu Sosial dijelaskan, fakta adalah sesuatu yang dianggap ada. Tidak selalu bersifat empiris karena ada dan tidaknya sesuatu tergantung sudut pandang orang menilainya. Banyak hal yang kita anggap "ada" itu tidak selalu pernah kita alami atau kita lihat langsung secara empiris atau melalui pancaindra. Sedangkan fakta adalah sebuah pernyataan tentang realitas atau kenyataan.

Bagi orang Islam, ganjaran bagi ketakwaan adalah realitas. Berarti pula sebagai fakta ketika saya mengajukannya sebagai pernyataan terhadap sebuah realitas. Dan pastinya dia bukan sekedar fiksi sebagai lawan istilah realitas yang diajukan Rocky.

Ketika banyak orang membantah ungkapan Rocky yang menyatakan kitab suci adalah fiksi, bukan realitas, berarti kesadaran budaya masyarakat Indonesia tentang kosa kata “realitas” lebih dekat dengan pemaknaan yang telah saya utarakan. Penggunaan istilah yang berlaku di Indonesia perlu dipahami dalam konteks sensitivitas budaya dan kepekaan sosial khusus yang mungkin tidak berlaku di tempat lain.

Di sini saya kira perdebatannya bukan terletak pada ujaran bermuatan agama, tapi berada pada perbedaan sudut pandang menerjemah sesuatu pijakan.

Terakhir, hal yang patut disorot dari Rocky adalah bagaimana dia berusaha melakukan pembekuan makna terhadap istilah-istilah yang ia gunakan memberi predikat pada banyak hal. Padahal, setiap kata atau konsep maupun definisi mengenai sesuatu yang notabennya non-eksak sangat cair untuk dipergunakan dengan makna yang lain. Itu juga berlaku bagi saya ketika menjelaskan pengertian berbeda tentang makna fakta dan realitas.