6 bulan lalu · 338 view · 4 min baca · Filsafat 23749_87187.jpg

Rocky Gerung dan Keagungan Kitab Suci

Saat Rocky Gerung tampil prima di ILC, tiba-tiba ia mengucapkan pernyataan yang kontroversial, yaitu “Kitab Suci adalah fiksi”. Sontak pernyataan a quo mengundang banyak reaksi publik; ada yang pro, ada yang kontra. 

Rocky menyatakan bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka Kitab Suci membicarakan hal yang belum tiba. Tentu saja, jika dimengerti, Rocky tampak benar. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, ada ketimpangan dalam dalil Rocky.

Suatu ucapan yang dikeluarkan tidak bisa ditarik kembali, ia akan menjadi fakta yang tidak mungkin ditiadakan. Sedikit banyak kaum intelektual menganggap dalil Rocky lebih patut diperdebatkan secara akademis bukan secara hukum. 

Tapi kini seperti yang tengah kita ketahui, Rocky dimintai keterangannya oleh polisi mengenai ucapannya “Kitab Suci adalah fiksi”. Sebelum pemanggilan oleh kepolisian, Rocky juga pernah diperiksa polisi terkait pernyataan a quo di tahun lalu.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengkritisi pernyataan Rocky yang disambut oleh publik dengan gegap gempita. Memang Rocky tidak diragukan lagi sebagai intelektual terkemuka di wilayah nusantara ini, ia mampu membuat publik terperangah dengan dalil logikanya yang tidak terduga. Namun, di lain sisi, pastilah manusia ada kekurangannya.


Jika coba menelisik dalam KBBI untuk menemukan kata fiksi, artinya adalah cerita rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan. Dari definisi itu, jika Kitab Suci adalah fiksi, berarti Kitab Suci adalah rekaan atau khayalan. 

Namun dalam acara Q&A, Rocky berpendapat bahwa ia tidak menggunakan definisi fiksi dalam KBBI. Lantas menurut apa ia mendefinisikan fiksi? Ia mendefinisikan itu menurut pikirannya sendiri yang dianggap lebih runtut demi menciptakan semacam neologisme.

Dalil Rocky terlihat masuk akal dan cukup bisa diterima, namun ada ketimpangan yang harus dilihat. Melalui pernyataan itu, bisa dikemukakan beberapa pertanyaan elementer yang coba saya rumuskan, misalnya:

(i) jika Kitab Suci adalah fiksi, di manakah letak sucinya kitab itu? (ii) apakah Kitab Suci itu hanya merangsang imajinasi, lalu bagaimana dengan Kitab Suci sebagai panduan untuk ditaati? (iii) apakah Kitab Suci hanya bernuansa fiksi, atau ada implikasi realitas? (iv) jika Tuhan itu pemberi wahyu, apakah Kitab Suci layak disebut fiksi?

Di dalam konteks filsafat dan kebudayaan, Kitab Suci memiliki posisi tertentu yang tidak bisa dianalogikan dengan sembarangan. Kitab Suci sebagai keyakinan hidup rohani pemeluknya, tidak bisa dicapai hanya dengan berimajinasi. 

Ia adalah jawaban manusia terhadap panggilan Ilahi di dalam alam dan rahmat. Di sana terdapat keyakinan iman, pengucapan rasa syukur, sikap sembah, rasa hormat, rasa tobat yang ditujukan kepada Allah.

Dalam rumusan Thomas Aquinas, untuk mengerti kehendak Allah, manusia harus menangkap hal itu melalui Lex Naturalis dan Lex Devina. Lex Naturalis, berisi prinsip-prinsip moral baku (yang terbentuk lewat partisipasi Allah dalam dunia) yang dapat ditangkap melalui akal budi dan intuisi. Sedangkan Lex Devina berisi Hukum Tuhan yang terekam lewat wahyu, termasuk dalam Kitab Suci.

Berpijak pada konstruksi Thomas Aquinas itu maka kita mampu melihat bahwa Kitab Suci tidak mungkin ditangkap melalui imajinasi, seolah-olah kita hanya dengan berimajinasi maka dengan sendirinya kita mengetahui seluruh isi Kitab Suci. Padahal yang menurunkan wahyu adalah Dia yang sempurna, Yang Maha Tinggi, apakah patut disebut fiksi?


Kitab Suci juga tidak hanya berisi sesuatu yang belum tiba, tetapi apa yang sudah ada, misalnya: Tuhan memberi nafas kehidupan kepada makhluk ciptaan-Nya, manusia yang selalu berbuat dosa, perang yang terjadi karena konsekuensi manusia terhadap dosa, itu semua telah terjadi dan bukan apa yang belum tiba. Jadi terlalu sempit jika Rocky berdalil Kitab Suci adalah fiksi.

Ketimpangan selanjutnya, jika Kitab Suci adalah fiksi maka dengan sendirinya Kitab Suci kehilangan Kesuciannya. Kitab Suci disebut Suci karena ia adalah hasil dari pikiran Tuhan yang sempurna, yang tidak dapat dijangkau dengan sempurna oleh manusia. 

Oleh sebab itu, wajar bila terdapat banyak interpretasi terhadap Kitab Suci karena memang manusia mencoba mencari makna di balik isi Kitab Suci itu di antara ketidaksempurnaan manusia. 

Lantas bagaimana bisa kesucian itu diperoleh hanya melalui imajinasi? Bukankah kesucian itu diperoleh dengan mengimplementasikan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan aktual manusia? Tolak ukur kesucian bukan imajinasi tetapi sikap batin dan perilaku manusia.

Di sini bukan saya ingin mendiskreditkan imajinasi. Memang dengan imajinasi kita mampu membayangkan hal-hal yang belum ada, dengan imajinasi seorang pelukis bisa menghasilkan suatu karya agung yang dikenal banyak orang, dengan imajinasi kita mampu berbicara tentang dua hal yang tidak ada kaitannya.

Misalnya saja: antara mandi dengan ilmu fisika, antara supermarket dengan jerapah. Tetapi untuk mengatakan Kitab Suci adalah fiksi yang berfungsi mengaktifkan imajinasi maka terlalu gegabah.

Kitab Suci juga tempat merumuskan nilai-nilai martabat manusia secara universal jika tidak ditafsirkan secara sempit oleh manusia hanya demi membenarkan agama tertentu. Pemahaman tentang martabat manusia juga dibahas dalam Kitab Suci, maka ada perintah jangan membunuh, jangan berbohong, jangan berzinah, jangan mengingini sesuatu yang dimiliki orang lain. 

Itu secara implisit ingin mengemukakan bahwa ada suatu martabat manusia yang harus dihormati. Martabat manusia harus dibedakan dengan harga. Di dalam harga terdapat ekuivalen (dapat ditukarkan, seharga), namun di dalam martabat manusia tidak terdapat ekuivalen.


Nilai-nilai universal tentang martabat manusia diperoleh di dalam Kitab Suci, dengan begitu apakah dengan imajinasi kita mampu merumuskan nilai-nilai universal tentang martabat manusia? Saya kira itu mustahil.

Sekiranya jelas keberatan terhadap pernyataan Rocky telah dikemukakan, bahwa mengucapkan Kitab Suci adalah fiksi terlalu gegabah. Dan sebagai penutup saya mengemukakan dalil sebagai berikut:

“Beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia menciptakan ketidaktahuan. Sedikit banyak buah dosa itu dari ketidaktahuan. Melalui suatu kritik, maka kritik berfungsi untuk membatalkan ketidaktahuan. Tetapi kritik tanpa pengetahuan adalah kebodohan kedua yang akan menjadi dosa pula."

Artikel Terkait