No Rocky No Party!

Ada sesuatu yang kerap membawa hiburan dalam ruang diskusi warga Internet beberapa tahun terakhir. Adalah Rocky Gerung, seorang yang selalu tampil membawa arogansi intelektualnya dengan menganggap mereka yang lambat atau bahkan tidak memahami pola pikirnya sebagai kelompok orang dungu

Rocky bukanlah orang baru dalam forum-forum diskusi. Aktivis Jakarta, misalnya, tentu mengenal sosok Rocky dengan ciri khasnya sebagai seorang yang selalu percaya diri mengkritisi siapa pun, terlepas benar-tidaknya kritik yang dia lontarkan.

Dari forum-forum yang tadinya hanya dikonsumsi oleh segmentasi peserta di lokasi tertentu dengan preferensi isu ‘standar’ manusia demokratis saja, Rocky belakangan masuk arena sirkus publik yang populis di layar televisi. Dia menjelmakan dirinya sebagai seorang pemikir yang setiap argumentasinya tidak boleh dipatahkan oleh kawan diskusinya tanpa kecuali.

Yang lumayan menarik adalah pasca-Pilpres 2014 dan pra-Pilpres 2019 di mana Rocky dengan ajeg memosisikan dirinya sebagai oposisi vokal terhadap penguasa dan seluruh kroninya. Dia hampir tidak pernah absen untuk melempar kritik pedas kepada pemerintah yang dalam hal ini lebih ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. 

Bahkan dalam beberapa kesempatan, alih-alih memberi argumentasi kritis, Rocky dengan santai melakukan bully terbuka tanpa filter akademik yang dahulu kala menjadi trade mark seorang Rocky Gerung.

Sikap Rocky yang seperti ini menciptakan dua kutub respons dari masyarakat secara umum. Pertama adalah kelompok yang boleh jadi secara tiba-tiba menyukai Rocky tanpa pernah mengenal Rocky lebih jauh dan mencari tahu informasi siapa Rocky dan seperti apa dia sebelum akhirnya memiliki jadwal padat menghadiri undangan televisi.

Kelompok ini tetiba terbius dengan seluruh permainan diksi dan retorika Rocky yang terasa elegan dan solid dalam upaya menyerang pemerintah di mana serangan semacam ini tampaknya tidak bisa dilakukan siapa pun dalam kelompok tersebut. Oleh sebab itu, mereka dengan cepat mendaulat Rocky sebagai Bapak Akal Sehat yang menjadi mercusuar kritik terhadap Presiden Jokowi.

Bagi kelompok ini, Rocky tampil tanpa cacat mengingat spirit Rocky yang selalu melakukan manuver argumentasi yang menyenangkan mereka. 

Sampai pada suatu waktu, di ILC, Rocky tampaknya ‘gatal’ ingin menjadi dirinya yang memang bebas merdeka tanpa mau terjebak oleh dogma atau norma tertentu yang selalu bisa dia kritisi. Pada saat itu, Rocky malah hampir terjebak dengan kebebasan beretorikanya sendiri dengan mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi.

Sontak pernyataan Rocky ini diserang balik oleh kelompok pro-pemerintah yang sayangnya hanya melakukan pengulangan pola terhadap apa yang pernah dilakukan kepada Ahok dengan kasus penistaan agama yang sarat tekanan politik kala itu. Pola itu dipakai juga untuk menyerang Rocky.

Yang mengejutkan adalah reaksi dari kelompok pengultus Rocky yang juga merupakan oposisi pemerintah. Mereka diam seribu diksi. Tidak ada yang marah, tidak ada yang tersinggung. Sebaliknya, mereka dengan apik mencari pembenaran atas pernyataan Rocky tentang kefiksian kitab suci itu. 

Ini menjadi salah satu indikator bahwa Rocky benar-benar dikultuskan karena sebuah afiliasi politik tanpa berpikir dan jauh dari bernalar. Kitab suci fiksi kemudian lenyap begitu saja seiring bergantinya hari, tanpa penyesalan dan tanpa penyikapan ulang.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang pro-pemerintah dan secara linear menjadi penentang Rocky yang sebagian di antaranya adalah mereka yang juga pernah rajin hadir dan menjadi pendengar setia kuliah Rocky dalam berbagai forum standar kewarasan demokrasi. 

Saya terkejut kelompok ini tetiba bertolak menyerang Rocky sebagai upaya pembelaan terhadap pemerintah. Betapa penentangan ini pun terasa sangat politis dan tidak merdeka.

Bagaimana mungkin kita dengan mudah membuang narasi Rocky tentang penguatan teori evolusi, kritisisme Rocky terhadap kelompok agama yang intoleran, narasi tentang demokrasi substansial, dan isu-isu lain yang selama ini kita konsumsi dan diskusikan sebagai bahan diskusi orang-orang waras harus lenyap hanya karena Rocky melakukan manuver akrobatik yang mungkin saja tidak lebih dari bermain-main dengan sekelompok sapiens untuk melakukan uji teori atau memang murni hanya bersenang-senang memainkan barang yang bisa dia mainkan dengan mudah lewat ilmunya?

Sebagai sebuah fakta untuk melihat sikap seorang Rocky, belum lama ini dia hadir dalam salah satu stasiun televisi yang membahas kontroversi disertasi Abdul Aziz terkait dengan konsep Milk Al Yamin milik Muhammad Shahrur. Rocky tetap tegas menentang MUI karena tidak memiliki otoritas untuk membatasi sebuah dirkursus akademik di kampus. 

Wacana akademik tidak boleh dihadapkan dengan dogma yang selalu subjektif. Dia mendorong untuk melakukan sebuah kritik dengan karya akademik yang setara dan bisa dikritisi pula.

Saya sendiri belum melihat respons dari pengultus Rocky terkait dengan forum dialog di televisi tersebut. Apakah akan sama dengan yang tempo hari, yaitu diam dan membenarkan saja karena Rocky adalah Bapak Akal Sehat yang selalu sehat dalam berpikir dan berargumen? Atau berani menentang Rocky dengan kemerdekaan keimanannya? Di sinilah konsistensi berpikir mereka itu diuji. 

Begitu pun dengan penentang Rocky yang pro-pemerintah, apakah akan tidak setuju dengan Rocky hanya karena dia adalah musuh pemerintah dan malah berbalik membela MUI meski harus mencederai nalar merdeka mereka?

Mengapa kelompok yang sudah terstandarisasi untuk berpikir merdeka harus kembali terjajah hanya karena afiliasi politik yang sangat temporer? 

Sampai hari ini, saya melihat Rocky masih saja arogan sebagaimana adanya dia. Tidak lantas bercinta dengan para pemuja dogma yang mengelu-elukannya, pun tidak membuang diskursusnya terkait dengan barang-barang demokratis yang selama ini selalu dia lempar ke publik.

Yang menjadi kekhawatiran saya adalah sebagian kelompok waras tanpa sadar telah menjadi kultus terhadap afiliasi politiknya dengan minus kritis dan hanya melakukan penghambaan sebagaimana mereka yang tidak tersinggung dengan pernyataan Rocky tentang kefiksian kitab suci. 

Kemerdekaan berpikir kita akhirnya lapuk dan terkubur oleh hasrat kekultusan kita pada seseorang atau kelompok. Sehingga menutup segala pintu nalar dan kewarasan kita dan berakhir sama saja seperti badut-badut yang bertepuk tangan tanpa memahami apa dan kenapa.

Sapere Aude!