Programmer
2 tahun lalu · 5636 view · 8 min baca · Saintek artificial_intelligenceahok.jpg

Robot Ini Meramal Masa Depan Ahok

Artificial Intelligence Bertemu Nostradamus

Jika anda adalah salah satu orang yang percaya atas ramalan, saya memiliki satu ramalan untuk anda: “Anda akan merasa kecewa pada akhir artikel ini.”

Oke, oke, saya memang sedang mengekploitasi kepopuleran topik Ahok belakangan untuk menggiring perhatian pada beberapa topik lain yang sangat jauh berbeda. Artikel ini akan banyak membahas  beberapa hal mulai dari  ramalan, kecerdasan buatan, hingga pawang hujan.

Alkisah, pernah hidup disuatu masa, seorang penyair dan astrolog bernama Nostradamus. Dia yang hidup di abad ke 16, lebih tepatnya antara 1503 dan 1566, menulis banyak sekali quatrain dalam bahasa perancis yang ia bukukan per 100 quatrain yang dia beri judul centuries. Berikut satu quatrain yang dia buat:

Bêtes farouches de faim fleuves tranner;
Plus part du champ encore Hister sera, 
En caige de fer le grand sera treisner, 
Quand rien enfant de Germain observa. 

(Centuries II quatrain 24) 

Salah satu penggemarnya, Cheetam, menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris sebagai berikut:

Beasts wild with hunger will cross the rivers, 
The greater part of the battle will be against Hitler. 
He will cause great men to be dragged in a cage of iron, 
When the son of Germany obeys no law.

Sejenak, coba pahami kalimat tersebut. Baca kalimatnya satu per satu. Pahami konteksnya, dan pahami letak keanehannya.

Quatrain itu terlihat menceritakan tentang Hitler. Pertanyaanya: Bagaimana mungkin orang yang lahir di abad 16 mendeskripsikan kebangkitan Hitler yang lahir lebih dari 300 tahun sesudahnya dengan sangat akurat? Mulai dari nama, negara, hingga deskripsi bagaimana rezimnya menyeret orang besar kedalam sangkar besi? Sejago itukah nostradamus dalam meramal?

Ini baru satu quatrain. Dia memiliki ratusan quatrain. Dan beberapa quatrain disebutkan meramalkan meledaknya pesawat ulang alik challanger, kematian john F. kenedy hingga tragedi WTC 9 November.

Bagaimana mungkin? 

Walau sempat menjadi legenda umum selama bertahun tahun pada akhirnya Ini kemudian dijelaskan secara gamlang oleh James Randi. Dia adalah seorang mantan pesulap beraliran escapologis, tokoh skeptik yang mendirikan James Randi Educational Foundation.

Lembaga ini terkenal karena menawarkan uang 1 juta dollar bagi siapapun yang mampu mendemonstrasikan kemampuan supranatural dalam kondisi yang diawasi ketat, dan tidak ada yang pernah berhasil membuktikannya hingga sayembara ditutup lebih dari 10 tahun kemudian. Randi menjelaskan bahwa kecocokan nostradamus dengan kejadian populer sangat tergantung pada kreativitas orang yang mencocokkannya.

Dalam contoh kasus ramalan hitler, kesalahan terbesar sudah ada sejak penerjemahan dari bahasa perancis menjadi bahasa inggris. Dengan berbekal kemampuan menerjemahkan bahasa perancis kuno, pengetahuan budaya dan sejarah setempat, inilah terjemahan versi Randi:

Beasts mad with hunger will swim across rivers, 
Most of the army will be against the Lower Danube. 
The great one shall be dragged in an iron cage 
When the child brother will observe nothing.

Randi menunjukkan bahwa kata ‘Hister’ tidak merujuk pada nama orang, melainkan nama lokasi geografis di sekitaran Danube. Begitu pula dengan kata “Germain” yang direferensikan pada area di Eropa jaman dulu, sebelah utara Danube dan sebelah timur Rhine dan bukan merujuk negara Jerman. 

Kecocokan sajak lain dengan kejadian lain pun dijelaskan sebagian besar adalah cocoklogi (pencocokan paksa) yang melibatkan penerjemahan, pemutar balikan kata, pemaksaan tahun, bahkan sajak palsu yang tidak ditemukan di literatur Nostradamus yang asli. 

Trik di balik ramalan

Dari masa kemasa banyak tokoh peramal yang muncul ke permukaan. Ki Joko bodo dan mama lorentz di Indonesia adalah dua contoh dari Indonesia. Di kancah internasional paul the octopus misalnya terkenal karena memprediksi kemenangan permainan bola di Piala dunia. 

Yang tidak banyak orang sadari: di luar orang orang yang terekspos media ada jauh lebih banyak lagi orang yang mengaku bisa meramal dan sering mengeluarkan ramalan. Sebagian dari mereka jatuh tanpa sempat terkenal. Ada dua kesamaan mereka:

  1. Ramalannya sering ambigu dan multi tafsir. Ini memungkinkan mereka atau pengikutnya berkilah jika gagal atau memaksakannya supaya cocok.
  2. Pamornya redup begitu ramalannya mulai meleset.

Menariknya, pola ini mirip dengan fenomena keberadaan pawang hujan. Tentu saja hanya ada dua kemungkinan hasil dari pekerjaan pawang hujan, yaitu Hujan atau tidak hujan. Dengan prinsip probabilitas ditambah sedikit berbekal prediksi cuaca BMKG seorang pawang hujan bisa survive berkarier bertahun tahun hingga pamornya turun dan tidak dipercaya lagi.

Dengan prinsip probabilitas, kalikan ribuan orang yang perprofesi sama, akan ada segelintir pawang hujan yang paling banyak sukses berturut turut. Jika anda tertarik bisa mempelajarinya dengan mencari ‘law of large number’. Tentu pawang hujan yang gagal tidak akan terkenal, hanya pawang hujan yang memiliki track record panjang lah yang terkenal.

Informasi ini beredar dari mulut ke mulut sehingga di dalam persepsi masyarakat berkembang: Pawang hujan itu ada dan sakti. Ditambah lagi, pawang hujan sering menjustifikasi kegagalannya dengan “atau pihak lawan menyewa pawang hujan yang lebih sakti.” atau bahkan sekadar “kehendak Tuhan”. Dewasa ini memang orang terlalu mudah membawa nama Tuhan untuk menjustifikasi apapun perbuatannya. Dan orang lain tidak bisa protes.

Kembali ke topik, ada banyak sekali trik yang bisa digunakan untuk memunculkan efek seolah anda bisa meramal. Pernah membaca ramalan zodiak? Mereka menggunakan trik yang dikenal dengan “barnum statement” atau gaya penulisan tertentu yang menimbulkan efek dimana orang merasa tulisan tersebut sangat mendeskripsikan mereka. Penulisannya ditulis sedemikian rupa sehingga terkesan spesifik padahal sering berlaku secara umum seperti:

“Ada sering merasa orang lain susah memahami anda. Dalam keadaan tertentu anda adalah pemimpin yang baik. “ 

Kebanyakan orang merasa sesuai dengan deskripsi semacam itu. Ada sebuah percobaan terkenal yang dilakukan Bertram Forer (1914 - 2000) di mana dia mencatat nama dan tanggal lahir para siswanya dan memberikan selembar kertas yang dikatakan hasil analisa psikologi komputer atas pribadi mahasiswanya. Isinya sebagai berikut:

You have a need for other people to like and admire you, and yet you tend to be critical of yourself. While you have some personality weaknesses you are generally able to compensate for them. You have considerable unused capacity that you have not turned to your advantage. Disciplined and self-controlled on the outside, you tend to be worrisome and insecure on the inside. At times you have serious doubts as to whether you have made the right decision or done the right thing.

You prefer a certain amount of change and variety and become dissatisfied when hemmed in by restrictions and limitations. You also pride yourself as an independent thinker; and do not accept others' statements without satisfactory proof. But you have found it unwise to be too frank in revealing yourself to others.

At times you are extroverted, affable, and sociable, while at other times you are introverted, wary, and reserved. Some of your aspirations tend to be rather unrealistic.

Forer lantas meminta siswanya untuk memberi nilai dari skala 0-5 sejauh mana analisa psikologi tersebut cocok dengan karakter mereka. Nilai 4 adalah “good” dan nilai 5 adalah “excelent”. Hasilnya? Nilai rata rata keseluruhan adalah 4.2 dalam artian 84% akurat. Mereka diberi tahu kemudian bahwa semua orang mendapat kertas dengan tulisan yang sama persis.

Trik di atas adalah segelintir trik yang bisa dimanfaatkan untuk menimbulkan efek ramalan. Seolah orang mengetahui sesuatu tentang kita. Kumpulan tekhnik semacam ini bisa diterapkan untuk “meramal” masa lalu dan masa depan, “membaca” pikiran, “menggali” memori, dan sebagainya. Jika tertarik anda bisa membacanya di sebuah buku berjudul “The Full Fact Book of Cold reading” Tulisan Ian Rowland.

Nah, kita sudah mengetahui polanya. Lalu bagaimana menuangkan dalam bentuk algoritma sehingga mesin bisa melakukan “ramalan” untuk kita?

Artificial Inteligence

Pandu (@mbakpandu) dari IBM Indonesia membuat robot twitter yang bisa membuat puisi. Tidak hanya itu, robot ini juga bisa meniru gaya puisi orang lain. Terinspirasi dari ciptaannya, saya memiliki ide serupa untuk membuat robot yang hidup di Twitter bernama Airima (@rima_robot) yang mempelajari gaya penulisan puisi Nostradamus dan membuatnya mampu menciptakan sajak dengan gaya yang sama dengan nostradamus, yaitu gaya ramalan.

Setiap satu jam Airima mengenerate sebuah kalimat yang seolah keluar dari mulut cenayang dari abad ke 15. Kalimat yang penuh kata misterius yang ambigu di suatu tempat namun terkesan detail di tempat lain. 

Ini dilakukan dengan sebuah algoritma bernama ‘rantai markov’. Belajar dari 3500 baris quatrain Nostradamus, Airima men-generate kalimat dari pola yang dia pelajari literatur tersebut. Karena berbekal Nostradamus, banyak diantara kalimat yang dia hasilkan menyebut nama-nama lokasi di Eropa. Pada akhirnya kita menemukan satu “ramalan” yang bisa kita eksploitasi bersama sehingga seolah sedang meramalkan Ahok.

Ini adalah ramalan dia yang akan kita cocok cocokkan dengan masa depan Ahok:

“Quality of the sun. Under the splendor will be a King who will come to compromise the fork-nosed one.”
Airima, 12 December 2016

Apa artinya? Mari kita cocologikan bersama. Siapa yang dimaksud ‘quality of the sun’? Siapa lagi kalau bukan Ahok. Selain bahwa dia bagaikan matahari yang mencerahkan Jakarta (lebay? sengaja), nama aslinya pun adalah “Basuki tjahaja Purnama”. Cahaya, dan purnama. Dia layaknya  bulan dengan kualitas matahari, kualitas purnama. Lalu apa yang dimaksud kalimat selanjutnya?

“The splendor” yang dimaksudkan di sini, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Yang pamornya tidak diragukan lagi sebagai bintang baru di jagad politik Indonesia. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan (ngawur) bahwa Ahok akan menjadi raja (presiden) di bawah restu Jokowi yang nantinya akan terpaksa berkompromi dengan “fork-nosed one.” Siapa itu “fork-nosed one”?

Siapa lagi kalau bukan beberapa orang yang nurut saja dengan perintah untuk demo layaknya “kerbau dicucuk hidung” (fork-nosed) padahal sebagian besar tidak tau kejadian dan ucapan Ahok yang sebenernya yang dibilang menista agama itu.

Ngawur? Jelas. Berarti anda masih waras. Saya sendiri tidak secanggih itu dalam hal mencocok cocokkan.  Masih ada yang lainnya. Hingga saat ini Airima masih membuat ramalan tiap satu jam sekali.

Ini adalah “proof of concept” dimana kita bisa mencocok cocokkan kalimat dengan model tersebut terhadap satu event yang akan terjadi atau telah terjadi. Suatu hari nanti kita tinggal mencocok cocokkan kejadian besar yang terjadi dengan salah satu dari baris yang ia buat lalu membuat klaim bombastis bahwa “Kejadian ini telah diramalkan robot dengan kecerdasan buatan jauh hari sebelumnya.”

Lalu tunjukkan analisis bagaimana baris tersebut cocok dengan kejadian yang ada. Lalu bagaimana dengan kalimat lain yang tidak masuk akal? Kita tinggal katakan: “Akal terbatas kita belum mampu menerjemahkannya.” Kita bisa dengan mudah bersikap militan terhadap Airima dengan berprinsip “Airima tidak pernah salah. Kesalahan adalah produk manusia yang memiliki akal terbatas dalam menafsirkannya.”

Fenomena ini jelas terjadi pada Nostradamus. Beberapa orang sangat yakin bahwa Nostradamus memang memiliki kemampuan melihat dimasa depan. Tergantung kemampuan oranglah kata kata nostradamus bisa diterjemahkan. Ini juga terjadi pada kitab Jayabaya di tanah Jawa yang diperkirakan ditulis di abad yang sama dengan Nostradamus.

Karena syairnya memiliki gaya penulisan prediktif di beberapa bagian, ada orang yang menganggap ia mampu memprediksi masa depan. Dikatakan hanya keterbatasan kitalah, kalimat itu tidak sepenuhnya dipahami. Pola ini terjadi di banyak literatur yang diagungkan.

Setiap masa ada literatur yang dikultuskan dan dikatakan memprediksi sebuah kejadian di masa depan dengan arti kalimat yang dicocok cocokkan. Anda mungkin menyadari betapa saya menghindari mengatakan kitab suci memiliki pola yang sama. Itu penistaan.

Begitulah. Bagaimana? Sudah kecewa?

Artikel Terkait