Konsultan
1 tahun lalu · 65 view · 2 min baca menit baca · Politik 93396_65385.jpg
Sumber: repro pribadi dari dailypost.ng dan kumparan.com

Robert Mugabe dan Setya Novanto

Robert Mugabe, mantan presiden Zimbagwe, baru diturunkan secara paksa oleh tentaranya. Pemimpin negara yang merdeka pada 1980 ini, telah berkuasa selama 38 tahun. Usianya pun tidak terbilang muda lagi. Mugabe sudah berumur 93 tahun. Dia memiliki istri berusia terpaut jauh, Grace, 53 tahun.

Mugabe seorang pemimpin yang dibutakan oleh kekuasaan. Kenikmatan kekuasaan membuat Mugabe, yang juga pahlawan Zimbabwe, mengubah konstitusi negaranya untuk mempertahankan kekuasaan pada April 1987. Dirilis dari Sindonews.com (23/11/2017).  Terakhir bahkan, demi menciptakan dinasti kekuasaan, Mugabe ingin mencalonkn istrinya menjadi presiden. Ini yang membuat dirinya akhirnya dilengserkan.

Kekuasaan telah memberikan kesempatan kepada Mugabe untuk mengakumulasikan kekuatan tanpabatas. Kekuatan ini digunakan untuk menjadi pemimpin selama 38 tahun di negaranya,  yang termiskin kedua di dunia.

Cita-citanya ingin menjadi pemimpin negara beribukota Harare ini hingga usia 100 tahun. Bahkan sekalipun harus memakai kursi roda. Dilansir dari bbc.com/indonesia (16/11/2017). Tetapi, kekuasaan tidak ada yang abadi. Kekuasaan ada batasnya. Tetapi satu hal yang pasti kekuasaan memang memabukkan.

Fenomena yang sama tidak hanya terjadi di negara di negara di ujung Afrika ini, yang dulu bernama Rhodesia. Di Indonesia, fenomena penumpukan kekuasaan dan menggunakannya untuk mempertahankan kenikmatan juga terjadi.

Meskipun bukan seorang presiden, Setya Novanto secara relatif sama dengan Robert Mugabe. Ketua DPR ini, dengan berbagai upaya mencoba untuk mempertahankan kekuasaannya di tampuk kepemimpinan partai Golkar dan DPR dengan segala cara.

Meskipun saat ini Novanto telah ditersangkakan kembali dan ditahan, tetapi kekuasaannya belum berakhir. Dari balik jeruji, Novanto masih bisa mempertahankan kedudukannya. Dua buah surat ‘sakti’ dilayangkannya.

Surat pertama menyatakan perintah untuk tidak melakukan musyawarah nasional Golkar untuk mencari pemimpin baru. Surat kedua menyatakan menunda pelaksanaan pemilihan ketua DPR. Kompas.com edisi 22 November memberitakan. Semuanya menurut.

Untuk urusan etikanya pun, meski telah dua kali ditersangkakan, Majelis Kehormatan DPR (MKD) seperti tidak berdaya menghadapinya. Semua organ-organ di DPR bahkan partai Golkar sendiri berada dalam gengamannya. Kuasanya luar biasa.

Hukum pun dianggapnya sebuah mainan. Drama yang ditunjukkannya dengan mendadak sakit dan mendadak sembuh bisa dikategorikan sebagai perilaku yang merasa dirinya berada di atas hukum. Ini hanya bisa terjadi, jika dia memiliki kekuatan yang besar.

Sangat ajaib, jika seorang yang sudah masuk ICCU (Intensive Cardiology Care Unit) mendadak sembuh. Upaya ini seperti mencari celah untuk tidak dikurung, hingga bisa memastikan upaya praperadilannya dimenangkan.

Sejarah melawan hukum Setya Novanto tidak hanya terlibat dalam kasus mega korupsi e-ktp, ditenggarai kerugian negara hingga Rp. 2,3 trilyun, seperti diumumkan KPK pada 2016, dikutip dari detiknew.com (09/03/2017). Perkara yang pernah membelitnya termasuk Kasus Papa Minta Saham, mencatut nama Presiden Jokowi untuk mendapatkan kesempatan membeli saham Freeport yang akan didivestasi.

Laman tempo.co memberitakan, kasus-kasus lain yang melibatkan Novanto termasuk Bank Bali (1999), penyeludupan beras dari Vietnam sebanyak 60 ribu ton (2003), penimbunan limbah beracun di Pulau Galang (2006), proyek PON Riau 2012 (2012). Nyatanya, tidak satu pun dari kasus tersebut yang berhasil membawanya ke penjara. Novanto keluar sebagai pemenang.

Ini tentunya tidak luput dari kekuasaan yang dimiliki. Melalui jaringan yang luas di Partai Politik,  yang di Indonesia kental dengan pola Patron-Client, kekuasaan Novanto dapat membebaskannya dari jerat hukum. Hubungan yang saling berkelindan dalam konteks berbagi kekuasaan yang sering berujung pada akumulasi keuntungan ekonomi, bisa menjadi modal dalam memperkuat dan memperluas kekuasaan.

Dapat dikatakan, Robert Mugabe dan Setya Novanto memiliki keyakinan yang sama bahwa kekuasaan itu memberikan kenikmatan dan kemakmuran. Untuk itu, segala hal harus dilakukan untuk mempertahankannya. Hukum pun bisa dipermainkan dengan kekuatan yang dimiliki. Bisa kekuatan ekonomi, bisa juga kekuatan politik.

Jika Mugabe kini sudah turun dari kekuasaannya, Novanto masih menunggu satu keputusan lagi. Keputusan ini akan menentukan apakah Novanto benar-benar sangat berkuasa atau tidak, yakni keputusan praperadilan kedua dan pengadilan yang sedang berlangsung.

Artikel Terkait