Musiknya begitu rancak, marching parade dari satuan drumben siswa-siswi Ramon Magsaysay High School itu, membawa kami sedikit terlena memasuki halaman sekolah yang berbasis sains tersebut. 

Sungguh gempita dan meriah sambutan saat itu, seakan meredah ketegangan, dimana kami akan melakukan seleksi tes akademik bagi pengajar negeri berjuluk Lumbung Padi itu, untuk dipilih dan diboyong ke negeri kami yang katanya punya 6 julukan, Indonesia.

Baik pesorak ataupun gitapatinya (mayoret), adalah siswi pilihan yang aduhai. Dan tentunya, memakai kostum pemusik drumben yang agak terbuka pada umumnya. Bahkan, lebih naik sedikit kainnya. Tak pelak, paparan berbau angin surgawi juga kami nikmati.

Tahulah, sang gitapatinya berjenis mestizo, darah campuran Portugis-Filipina. Istilah mestizo di Filipina berbeda dengan penggunaan mestizo di tempat lain. Pokoknya, bagi budaya sana, kalau darah campuran, disebutlah ia dengan mestizo.

Gedung Sekolah yang berada di bilangan Espana Boulevard corner, Don Quijote St, Sampaloc, Maynila, Kalakhang Maynila tersebut dominan bercat warna kuning. 

Sejurus pikiranku mengendap pada “banana republic” atau politik republik pisang. Sebuah aptronima politik untuk negara yang politiknya labil dan ekonominya bergantung ekspor sumber daya terbatas, misalnya pisang.

Cocok sekali julukan ini untuk Filipina saat itu. Negara berkelas sosial bertingkat yang meliputi kelas besar pekerja miskin serta beraroma plutokrasi elit bisnis, politik, dan militer yang kadang dominan berkuasa. Iblis oligarki politik-ekonomi inilah yang akan mengendalikan produksi primer agar bisa mengeksploitasi ekonomi negara tersebut.

Endapanku terhentak, berbarengan dengan sambut hangat mereka yang makin aduhai saja. Tibalah mata liar nakal menilai segalanya. Gedung lusuh dengan kekangan jeruji-jeruji besi berkarat sana-sini, memberi kesan angker. 

Sudah membudaya di sana untuk membentengi hak milik dengan jeruji besi. Efek tingkat kriminal tinggi tentunya.

Logat-logat kental ala Taglish (Tagalog-English), cukuplah membuat usil untuk ketawa. Unik dan lucu tentunya, terutama masif pada pengucapan sufiks-(ion), terbaca “iong”. 

Semisal, kata “conversation” akan dilafazkan “kanfersesiong” dan lain sebagainya. Rata-rata kualitas Palatal dan bilabial mereka cukup tebal, berasa enak di telinga dengan tekanan-tekan beratnya sedikit mendesah.

Selain prononsasi yang unik itu, lainnya, tak ada yang menarik! Kecuali satu lagi, yaitu sebuah patung berbaju putih dan bercelana hitam, tampak berdiri tegar dengan sentuhan daya pikat pahat ala kadarnya. 

Patung yang bersalut cat, mungkin cat kolam yang murah itu, terlihat mengkilat dan biasa saja. Tanpa seni mimik wajah sedikitpun. Bak patung-patung era Yunani Kuno dengan gestur dan pandangan mata kaku. 

Untung yang ini pakai baju. Kalau tidak, akan bernasib sama, layaknya seni patung telanjang yang berkemaluan kecil.

Itulah patung Ramon Magsaysay, Presiden Filipina yang ke-sekian. Konon presiden ini yang menginspirasi penghargaan sekelas Nobel versi Asia, RMA (Ramon Magsaysay Award).

Hingga, terciptalah apa yang disebut dengan RMA (Ramon Magsaysay Award) untuk mengenang peran dan dedikasinya, seperti: keteladanan dan integritas menjalankan pemerintahan, kegigihan pemberian pelayanan umum, serta idealismenya pada masyarakat demokratis.

Tentu saja, Filipina yang kurang makmur itu, tak bakan mampu membuat model penghargaan yang bernilai duit cukup menggiurkan tersebut. Ada tangan-tangan di belakang yang membopongnya. 

Ramon Magsaysay Award (RMA) pertama kali digelar pada tahun 1957 dengan donasi penuh para petinggi gerakan mason, Rockefeller Brothers Fund (RBF), Amerika Serikat. 

Setiap tahun Ramon Magsaysay Award Foundation memberikan hadiah bagi perorangan dan organisasi Asia atas prestasi unggul mereka di bidangnya masing-masing. 

Hadiah-hadiah tersebut diberikan dalam enam kategori, yaitu: Government servicePublic ServiceCommunity LeadershipJournalism-Literature and Creative Communication artsPeace and International Understanding Emergent Leadership. Silahkan diartikan sendiri.

Indonesia sudah jadi langganan menerima penghargaan Nobel versi Asia ini. Sebut saja dengan lantang: Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pramoedya Ananta Toer, Ali Sadikin, Mochtar Lubis, Syafii Maarif, Teten Masduki, HB Jassin, Nafsiah Mboi, dan Tri Mumpuni.

RMA pada dasarnya memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap perorangan dan organisasi di Asia tanpa mempertimbangkan ras, agama, jenis kelamin, atau kebangsaan. 

Yang menarik, KPK juga pernah berurusan dengan Nobel versi Asia ini. Dubes Filipina saat itu untuk Indonesia, Maria Rosario Claudio Aguinaldo, dibuatnya berurusan dengan Ketua KPK saat itu, Abraham Samad. 

RMA jatuh ke tangan KPK! Namun, bukan untuk diperiksa, tapi KPK telah mendapatkan penghargaan bergengsi itu sebagai lembaga antikorupsi independen yang sukses dan berani dalam menindak pejabat negara yang terlibat skandal korupsi. KPK tercatat sebagai penerima ke-23 dari Indonesia untuk penghargaan tersebut.

Menurut Manuel H. Hizon, Direktur RMA; KPK adalah lembaga yang sukses menggabungkan penindakan korupsi tanpa kompromi terhadap pejabat, dan mampu mereformasi dalam sistem pemerintahan, serta sosialisasi yang edukatif atas kesiagaan, kejujuran, dan partisipasi aktif masyarakat Indonesia. Wow, lengkap sekali deskripsinya.

Mungkin, Ramon Magsaysay Award akan menambahkan penghargaan lainnya, jika tahu bahwa suatu hari di persidangan KPK, ada sumpah kutukan (mubahalah) segala, yang terucap dari bibir seorang terdakwa. Ketika mereka mulai membawa-bawa notasi agama di dalam pembelaan .

KPK dinilai telah memperlakukan sang terdakwa dengan tak adil. Hingga muncul narasi: mohon jika diperkenankan, di ujung persidangan yang terhormat, tim jaksa penuntut umum dan juga majelis hakim yang mulia melakukan mubahalah (sumpah kutukan). Waduh!

Mungkin, Ramon Magsaysay Award juga akan terperanjat, jika tahu bahwa KPK era Abraham Samad sering berhadapan dengan kiriman ilmu hitam atau yang biasa disebut santet . 

Semisal, ketika gedung yang berada di Kavling C-1, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, tiba-tiba tercium aroma harum yang tidak biasa. Setelah kejadian itu, banyak pegawai KPK yang mengalami demam meski tidak berlangsung lama.

Apapun serangannya, Ramon Magsaysay Award tak perlu tahu dan menambah penghargaannya, karena KPK saat itu, akan tetap dan terus menjalankan fungsinya. Mereka (KPK), tak akan takut dengan santet atau apapun.

Selamat, dan respek Pak Samad! Apapun setelahnya.