Lebih dua ratus orang tersihir oleh tutur Rizka Moeslichan, penyintas Covid-19 malam itu. Beberapa peserta fasilitasi yang dilakukan secara daring itu menyeka air mata. Kisah Rizka sangat nyata. Covid-19 menyiksa fisik dan membuatnya bergulat dengan psikisnya sendiri. Kematian, kematian, dan kematian; itulah ketakutan yang selalu membayanginya.

Malam itu, Rizka berbagi di kegiatan daring yang diselanggarakan The International Association of Facilitators (IAF) Chapter Indonesia, Gerakan Pakai Masker, Human Resource Directors Indonesia, dan Perhumas. Testimoni yang disampaikan Rizka menjadi pesan penguat agar kita disiplin memakai masker selama pandemi. 

Duka ditinggal ayah kandung belum juga usai, kini kamar isolasi yang ditempatinya seolah mengantarkan pada tempat yang sama: kematian.

Ruang isolasi bagai dunia yang lain. Minim interaksi. Kalaupun ada perawat dengan baju-baju plastik, mereka tidak bisa selalu membantu, semua harus dilakukan sendiri. Ini benar-benar lingkungan yang mencekam. Ada TV tetapi beritanya selalu menyiarkan kematian.

Infus dan obat yang bermacam-macam digunakan bagai uji coba dokter pada tubuhnya. “Obat selalu diganti. Dampak Covid-19 ke pasien ternyata berbeda-beda, pengobatannya pun berbeda. Seperti find tunning saja, dikasih obat ini dampaknya apa,” ujar Riska.

Pada titik ini, dia merasa tidak nyaman dan terancam. “Ini ujungnya hidup atau mati. Ngeri banget. Saya mulai depresi, nangis terus, teriak-teriak,” tambahnya.

Puncaknya, ia pun menutup komunikasi dari dunia luar. Perhatian teman-teman menjadi sesuatu yang sangat mengganggu baginya. Rizka hanya ingin kontak dengan keluarga saja. Ini sangat berbeda dengan kesehariannya, yang selalu cerita dan berkawan dengan banyak orang.

“Saya menutup diri, bahkan tak mau dihubungi. Saya ketakutan. Takut mati. Hanya mau sama keluarga. Terancam banget rasanya di ruang isolasi itu. Terancam kematian. Jalannya seakan ke sana,” tambahnya.

Pada titik depresi inilah ia menggugat Tuhan. Meninggalkan ngaji dan zikir. Kemarahannya pada Tuhan memuncak. Zikir tak bisa menolongnya, malah ia hanya mengingatkan rapalan doa yang dia ucapkan pada ayahnya menjelang kematiannya. Nangis dan teriaklah yang bisa Rizka lakukan.

Ketakutan akan kematian mencekamnya.

“Sampai pada suatu hari saya letih sekali. Ada suster berbadan besar yang memijit saya. Baik banget dia. Ngobrol dari hati ke hati. Dia panggil saya bebeb karena saya nangis terus. Umurnya masih separuh saya. Suster itu baru sepuluh bulan melahirkan. Dan dia tetap bertugas. Luar biasa. Untuk mengurus pasien Covid seperti saya,” paparnya.

Hatinya tersentuh. Suster itu rela meninggalkan bayi 10 bulan untuk berhadapan dengan maut karena sangat dekat dengan virus yang mengancam. Padahal anak sepuluh bulan tersebut sudah diidamkan selama sebelas tahun lamanya.

Obrolan-obrolan ringan ini mengetuk hatinya. Dia mulai menyesali sikapnya yang tak bersyukur dengan kondisinya yang lebih baik. Perjumpaan dengan beberapa perawat membuatnya bangkit lagi. Nafsu makannya muncul lagi. Dia mulai salat dan zikir lagi. Mengingat kembali perjalanan ini, Rizka bilang, mereka seperti dikirim Tuhan untuk menolongnya. 

“Saat itu menjadi titik balik. Saya mendekatkan diri lagi ke Tuhan. Penyembuhan saya jadi makin cepat,” tambahnya. Proses penyembuhannya pun lebih cepat. "Bahkan minta dikirimin macam-macam makanan dari rumah," tambahnya. 

Rizka sudah sembuh saat ini. Tetapi rasa ringkih masih ia rasakan. Bekerja beberapa hari membuatnya letih. “Saya harus tidur siang tadi, agar malam ini bisa lebih fresh untuk berbagi. Proses pemulihan ini bisa sampai 6 bulan ke depan,” lanjutnya.

Covid-19 yang menyerangnya juga membuat dia kehilangan ingatan. Brain fog, begitu istilah medisnya. Ia pun kini sedang berjuang untuk memulihkan segalanya. “Pakai masker, itu pelajaran yang sangat penting. Anak dan suami saya memakai masker, dan itu membuat mereka tidak tertular,” begitu ia menyampaikan pesan.

Rizka adalah satu dari sekian ratus ribu penderita Covid-19. Ia bersyukur bisa lepas dari kematian. Kini, dia berusaha membalas kebaikan Tuhan dengan membagikan kisahnya dengan sebanyak-banyaknya orang agar tetap waspada dan tak meremehkan virus yang sangat berbahaya ini. 

Rizka kini aktif mengajak kita untuk selalu memakai masker. Ini adalah cara yang paling mudah untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Kita tentu tak ingin frustrasi, apalagi sampai marah pada sang Ilahi..

Ya, kita pun sering kali marah pada Tuhan. Sering kali kita terlalu lemah untuk bergulat dengan rasa frustrasi dan ketidakmampuan mengatasi masalah.

Tragedi, bencana, dan sakit adalah hal yang tidak terelakkan dalam perjalanan hidup. Dan ini justru menunjukkan, bukan kita yang bisa mengendalikan hidup, segala sesuatunya atas izin Allah. Allah yang mengendalikan segala ciptaan-Nya.

Cerita Rizka, pengingat buat kita agar selalu waspada.