Penghujung 2016 dipoles dengan cerita pelaporan Ketua FPI, Rizieq Shihab (RS) oleh Pengurus Pusat Perhimpunan  Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI) ke Polda Metro Jaya dengan laporan penistaan agama. Dalam potongan video yang beredar disinggungnya mengenai proses persalinan Yesus dalam kalimat pertanyaan, “Kalau Tuhan melahirkan, siapa bidannya?”

Dari kalimat ini sebetulnya muncul dua penafsiran. Penafsiran yang pertama adalah bahwa RS betul-betul bertanya karena ketidaktahuannya sebagaimana anak kecil yang menanyakan kepada bapaknya, ”Pak, Tuhan itu tinggalnya di mana?“ atau “Pak, yang menciptakan Tuhan itu siapa?”

Penafsiran yang kedua adalah bahwa RS tahu dan menganggap tidaklah mungkin Tuhan melahirkan dan beranak, lalu mencurahkannya dalam sebuah kalimat pertanyaan yang sebetulnya sebuah penegasan kepada para audiens yang mendengarkan pidatonya.

Saya tidak ingin mengupas hal sensitif tentang konsep ketuhanan dalam sebuah artikel pendek yang pasti akan menuai perdebatan.

Saya melihat dari sudut jauh subjektivitas saya adanya aroma dendam yang belakangan ini mengotori atmosfer nusantara, buntut dari pelaporan Ahok dalam pidatonya yang dinilai menistakan agama, hingga akhirnya ada pihak lain melaporkan balik sang pelapor Ahok melalui jalur Litigasi, jalur hukum yang dibenarkan dalam perundang-undangan Indonesia.

Yang menarik dari peristiwa pelaporan RS adalah adanya rencana dari salah satu anggota Advokat Cinta Tanah Air (ACTA)  untuk melaporkan balik pelapor RS dengan tuduhan pencemaran nama baik dan pemfitnahan. Masalah baru kembali bergulir, lingkaran setan mulus berputar.

Pembunuhan harus dibalas pembunuhan, penonjokan harus dibalas dengan penonjokan, dan pelaporan dibalas dengan pelaporan, untungnya tidak ada korban pemerkosaan yang minta gantian memperkosa pelakunya. Tali setan berbentuk lingkaran bernama dendam harus segera diputus, diselesaikan.

Ada kisah menarik dalam sejarah penyebaran agama Islam tentang seorang wanita tua yang selalu mengganggu jalan dakwah Nabi Muhammad SAW. Wanita ini selalu menghalang-halangi dengan beragam cara; melempari kotoran, memasang jebakan di jalanan, menaburkan duri di sepanjang jalan, supaya Muhammad tidak bisa lewat. Hal ini dilakukan dalam waktu yang lama. Hingga suatu saat Muhammad merasa aneh.

Beberapa hari belakangan beliau tidak menemukan lagi penghalang di jalan yang dilaluinya. Setelah diusut ternyata wanita penganggunya telah sakit beberapa hari. Beliau pun mengunjunginya dengan membawa buah-buahan segar. Si wanita kaget dan takut manakala Muhammad masuk, mengira akan membalaskan dendam atas perlakuannya selama ini. Dia lebih kaget lagi manakala Muhammad tersenyum ramah sambil berlemah lembut menanyakan kabarnya.

Hampir setiap hari muhammad mengunjunginya dengan membawa keperluan si wanita tua. Hingga sampai suatu hari si wanita dengan kesadarannya sendiri memutuskan untuk masuk Islam.

Kisah kedua terjadi di kawasan Taif yang penduduknya tidak bosan melempari Muhammad dengan bebatuan. Datanglah Jibril yang menawarkan diri untuk membalikkan tanah Taif dan memporak-porandakan wilayah tersebut. Jawaban nabi sangat lembut, “Jangan, duhai Jibril, kalaulah mereka sekarang tidak beriman, aku berharap suatu saat nanti anak cucu mereka akan menjadi orang yang beriman kepada Tuhanku dan Tuhanmu.”

Perkataan baginda Muhammad terbukti. Kini penduduk Taif 100% berkartu kependudukan dengan agama Islam. Muhammad sama sekali tidak ingin membalas perlakuan menyakitkan dari orang-orang yang memusuhinya. Sebagaimana sang seniornya, Isa Alaihissalam yang menebarkan ajaran cinta dan kasih sayang.

Aroma busuk dendam kusumat harus segera dihentikan. Sebagai tokoh agama, saya berharap RS bersikap bijaksana dalam melihat kasus yang kini menjeratnya.

Kalaulah dalam pelaporan oleh PP-PMKRI tidak ditemukan adanya unsur penistaan agama yang dilakukan oleh RS, saya berharap dan berdoa semoga RS akan memaafkan pelapornya, meneladani sikap kakek moyangnya (Muhammad SAW), memotong lingkaran setan yang bisa saja terus membesar dan berkembang serta membuktikan bahwa seorang muslim seharusnya pemaaf dan penuh kasih sayang.